jump to navigation

Bagaimana memesan SELIQUI? Juli 3, 2009

Posted by abdinagoro in Tidak terkategori.
Tags: , , ,
1 comment so far

Pemesanan dapat dimulai saat ini. Siakan hubungi M. Reza di SUI ph. 021-8778 2862 fax. 021-8778 0245 email: mailto_reza@sekawan-group.com, bram@sekawan-group.com

Tata cara pemesanan:
a. Silakan mengisi formulir pemesanan yang telah disediakan (bisa lewat email).
b. Pembayaran Rp. 2.500.000,- dapat dilakukan dengan melakukan transfer ke rekening:
BCA No. 4970 447 399 an. PT. Sekawan Utama International
BCA No. 421 243 1633 an. Sri Bramantoro Abdinagoro
Bank Mandiri No. 157-00-0062005-5 an. Sri Bramantoro Abdinagoro
Bank BNI No. 000 563 5662 an. Sri Bramantoro Abdinagoro
c. Fax atau email formulir pemesanan dan bukti transfer ke 021-8778 0245
d. Nama dan alamat Anda akan kami catat. Silakan menunggu paling lambat 30 hari sejak formulir pemesanan kami terima.
e. Kami akan memberitahu bila SELIQUI Anda telah siap kami antar.
f. Maksimal 3 hari setelah pemberitahuan SELIQUI akan kami antar ke rumah/kantor Anda (khusus Jakarta).

Sebagai bentuk apresiasi kami kepada pemesan SELIQUI, 45 (empat puluh lima) pemesan pertama SELIQUI akan mendapat Certificate of Origin and Appreciation yang ditandatangani oleh Dekan FTUI. Sertifikat ini merupakan penghargaan kepada para pemesan SELIQUI karena telah membantu mendorong terciptanya technopreneur di lingkungan Fakultas Teknik khususnya dan di Universitas Indonesia pada umumnya. Sertifikat dan SELIQUI (20 buah) akan diserahkan pada puncak ulang tahun FTUI ke-45 di Depok.

Keterangan dan informasi lebih lanjut:
M. Reza – SUI ph. 8778 2862 hp. 0856 787 9984
Bram – SUI hp. 0815 910 4502

SELIQUI Specification Juni 27, 2009

Posted by abdinagoro in Entrepreneurship, Marketing, Tidak terkategori.
Tags: , ,
2 comments

General Folded Size 31 x 74 x 80 cm
Max Rider Weight 80 kg
Suggested Rider Height 140 cm – 180 cm

Frame and Fork Frame Steel ST 37, Hinge Double Lock (Extra Savety)
Fork Common, Steel, Black

Cockpit Handle fold designed, Hinge Double Lock (Extra Savety), Black
Saddle United, Black
Seatpost adjustable, steel
Seatclamp steel, Black

Brakes Front and Rear V-Brake, Black

Wheels Hub United, Alluminum Alloy, Black
Spokes Stainlesssteel
Rims Aluminum, 20”
Tires Kenda, Black

Transmission Derailleur Shimano Tourney RD
Freewheel Shimano 6 speed
Pedals Folding (spring), Black

Extras Kickstand side stand, Black
Paint Powder Coating, 3 Color: Yellow, Blue, and Black
Limited Edition Engineering Faculty 45th Anniversary,
Certificate of Originality
signed by Dean of Engineering Faculty

SELIQUI Juni 27, 2009

Posted by abdinagoro in Entrepreneurship, Marketing.
Tags: , ,
11 comments


Pada akhirnya, misi membawa sebuah hasil penelitian Perguruan Tinggi (baca: Fakultas Teknik Universitas Indonesia) ke pasar (level komersial) terwujud kembali. Setelah Inkubator Bayi (Infant Incubator) hasil riset dibawah Prof. Dr. Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA. yang berhasil dipasarkan sejak 2006, kini sepeda lipat (seli) hasil riset di bawah Ir. Hendri DS. Budiono, M.Eng. Tidak mudah memang, tetapi ada kepuasan tersendiri melakukannya.

Sepeda Lipat ini berbeda dengan yang lain pada sisi cara melipatnya. Bukan kah itu asal-usul namanya? Cara melipatnya sudah menghasilkan beberapa orang Magister Teknik (MT) dan Sarjana Teknik (ST). Jadi Anda pasti tahu, bagaimana prosesnya hingga sampai ke pasaran seperti sekarang. Prototype-nya sudah masuk laboratorium uji konstruksi di LUK Serpong, lalu masuk laboratorium Ergonomik di Departemen Teknik Industri, minta masukan dari teman-teman Arsitektur (karena beliau-beliau ini paling paham soal estetika), juga teman-teman yang paham sepeda lipat dari komunitas seli. Meski nanti akan disempurnakan lagi, tetapi yang dipasarkan sudah final.

Mereknya SELIQUI. Dari kata SEpeda LIpat, dan untuk menandakan tempat lahirnya maka dibelakangnya ditambahkan QUI, bisa disebut KUning UI atau KUning I (ai, saya, bhs Inggris). Yang beredar sekarang adalah type Urban 1.2. Urban karena pengguna seli umumnya kaum Urban, dan 2 angka di belakang, itulah versi pengembangannya.

Berapa harganya? 2,5 juta perak saja! Tidak mahal, kalau dilihat spesifikasinya. Lagi pula, dengan membeli SELIQUI ini, berarti pembeli juga mendorong pengembangan Technopreneur di Perguruan Tinggi, khususnya FTUI, serta mendorong penggunaan produk dalam negeri alias ASELI INDONESIA. Empat hari ini SELIQUI nampang di acara PEKAN PRODUK KREATIF INDONESIA 2009 (PPKI 2009) di Jakarta Convention Center di Senayan. Ternyata banyak juga yang mulai pesan. Alhamdulillah!

Launching sebenarnya akan dilakukan pada Ulang Tahun FTUI ke 45 tanggal 17 Juli nanti. Jadi kami sepakat untuk membuat yang Limited Edition 45 buah. Untuk pembeli versi Limited Edition, kami memberi penghargaan berupa Certificate of Originality and Appreciation sebagai bukti keaslian SELIQUI yang dipakai dan apresiasi karena telah mendorong technopreneur di FTUI. Pak Dekan FTUI akan membubuhi tandatangannya. Penyerahan direncanakan dilakukan pada acara ultah tersebut pada tanggal 18 Juli.

So… silakan dipesan dan dicoba… karena Limited… ya siapa cepat dia yang dapat.

Menebak Perilaku Pemilih Kita Maret 15, 2009

Posted by abdinagoro in Consumer Behavior, Strategic Management.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

atribut-pemilu

Sembilan April mendatang, semua rakyat Indonesia diberi kesempatan untuk memilih para wakilnya di DPRD/DPR dan DPD. Persiapan menyambut hari tersebut sudah banyak dilakukan baik oleh KPU, partai politik maupun kandidat calon-calon anggota legislatif. Sudah hampir setahun ini, masyarakat disodorkan begitu banyak gambar, poster, iklan yang mengajak mereka untuk memilihnya, dan satu bulan terakhir ini kegiatan promosi dari berbagai media ini menjadi semakin gencar.

Yang menarik dan menjadi perhatian bersama adalah masyarakat dihadapi oleh pilihan yang banyak. Jumlah parpol yang ikut dalam Pemilu kali ini banyaknya 38. Ditambah dengan aturan baru suara terbanyak, maka pilihan masyarakat juga sesuai dengan jumlah calegnya. JIka dihitung dalam satu daerah pilihan, bisa sampai puluhan juga. Bagaimana masyarakat memilih?

 

Tinjauan Perilaku Pembeli

Masyarakat sebetulnya akan menghadapi hal yang biasa ditemui dan dilakukan sehari-hari, yaitu mengambil keputusan untuk memilih sesuatu, bisa barang atau jasa. Hanya saja tentu ada perbedaan yang mendasar bagi masyarakat dalam memilih kali ini. Ada tiga hal berbeda dibanding aktivitas memilih biasa yang dapat mempengaruhi keputusan pemilih saat itu, yaitu pertama jumlah produk atau pilihan sangat banyak dan boleh jadi sebagian besar tidak mengenal produk atau pilihannya, kedua, tidak seperti pembeli pada umumnya, pemilih yang berperilaku sebagai pembeli akan mengambil keputusan memilih (atau membeli) dalam kurun waktu yang singkat -sehari- dan dilakukan bersamaan dengan pemilih atau pembeli lain, dan ketiga, pemilih tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk menentukan pilihannya dan tidak secara langsung mendapatkan manfaat atas pilihannya itu sehingga tidak ada tuntutan produk harus bagus dan konsumen merasa terpuaskan. Pendekatan terhadap perilaku pembeli (buyer behavior) terhadap pemilih barangkali bisa dijadikan alat untuk memprediksi bagaimana pemilih nanti memutuskan pilihannya.

Dengan menggunakan matriks, setiap pemilih dihadapkan pada banyak pilihan sejalan dengan banyaknya kandidat dan parpol peserta Pemilu. Setidaknya ada 5 kelompok besar kondisi memilih yang juga dapat merefleksikan peta persaingan yang ada yaitu, (1) memilih caleg dari parpol yang sama, atau (2) memilih caleg dari parpol berbeda. Dan pada kondisi dimana pemilih kurang mengenal calegnya maka pemilih akan dihadapkan pada kondisi untuk memilih caleg atau parpol, dengan alternatif (3) memilih antara caleg A dan parpol A, artinya berdasar asal yang sama, (4) memilih antara caleg A dengan parpol B, artinya berdasar asal berbeda, dan (5) memilih parpol.

Yang dihadapi pemilih nanti adalah produk berupa parpol dan caleg dengan pilihan yang banyak dan tingkat pengetahuan pemilih terhadap produk tersebut juga bervariasi. Sebagian besar diperkirakan tidak mengetahui dan memahami pilihan calegnya, akibatnya product involvement pemilih terhadap caleg menjadi minim. Padahal product involvement merupakan hal penting dalam proses pengambilan keputusan dan perilaku pembelian konsumen. Dalam kondisi dimana pemilih menimbang antara caleg versus parpol, product involvement pemilih pada parpol diperkirakan akan lebih tinggi karena lebih mudah diingat, apalagi pada parpol-parpol lama.

Kondisi pemilih yang dibatasi waktu yang singkat yaitu sehari dan dilakukan secara bersama-sama, juga mempengaruhi pemilih. Pemilih cenderung akan menjadi seorang impulsive buyer yaitu seorang yang membeli atau memilih secara tidak berencana dan tanpa melakukan evaluasi yang mendalam, atau bisa jadi karena ikut-ikutan pada membeli atau memilih yang lain. Penyebab impulsive buyer juga diakibatkan karena pengetahuan yang rendah terhadap produk yang akan dipilihnya.

Dengan demikian dapat ditebak ada beberapa perilaku pemilih yang akan terjadi pada saat hari pemilihan nanti. Pertama, ada kecenderungan pemilih akan memilih atau mencontreng parpol dibanding caleg karena product involvement pada parpol lebih tinggi dibanding caleg. Kedua, parpol lama akan lebih dikenali sehingga diperkirakan akan tetap mendapatkan suara yang signifikan dibanding parpol baru.

 

Waktu Yang Menentukan

Waktu yang tersisa memang tinggal sedikit. Tentu masih banyak yang dapat dilakukan oleh para caleg untuk berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan pemilih. Para caleg harus mampu “menjual” dirinya dan mampu lebih memberi kesan bagi pemilihnya, artinya product involvement dinaikkan. Banyak cara untuk melakukannya, menggunakan pendekatan emosional bisa jadi lebih efektif karena pada umumnya masyarakat adalah pemilih yang emosional (emotional voter).  

 

 

DImuat di Harian KONTAN (dengan diedit), 12 Maret 2009

Jenderal Nagabonar atawa Haji Romlie atawa Bang Jack Nyapres.. Maret 3, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Leadership.
Tags: , , , , , ,
1 comment so far

nagabonar2Pemilu 2009 memang sudah waktunya mulai “panas”. Walaupun tahapannya baru pada sampai pemilu legislatif, tetapi calon presiden alias capres sudah juga diributkan. Maka bermunculan lah nama capres-capres, mulai yang sekarang jadi presiden, lalu ada mantan presiden, ada juga yang pemilu lalu juga jadi capres sekarang nyapres lagi, dan tentu saja ada muka-muka baru.  Nah, di antara muka baru, muncul si Jendral Nagabonar alias Deddy Mizwar yang ikutan jadi capres. Yang ini jadi catatan mingguan saya kali ini, karena jadi diskusi yang panjang dan seru di rumah.

Mengenai kepopuleran dan ketokohan Deddy Mizwar, sudah barang tentu tidak perlu ditanya lagi. Siapa tidak kenal beliau? Bintang filem atau aktor yang menyabet sekian banyak penghargaan. Kepopuleran dan ketokohan tentu bisa untuk menjadi sebagian modal buat nyapres. Tetapi sebagian besar orang rumah malah menanyakan dan menyayangkan beliau ikut nyapres. Jadilah saya menyelami benak pikiran orang rumah.

 

Antara Simbol dan Hak Konstitusi

Saya dan orang rumah memang bersepakat bahwa peran yang dibawakan Deddy Mizwar luar biasa mewarnai dan menyisakan sesuatu pada kepala penonton filem atau sinetron setiap kali menontonnya. Siapa yang tidak bangkit rasa nasionalismenya ketika menonton Jenderal Nagabonar beraksi? Dan tentu kita menarik banyak nilai-nilai positif seperti kejujuran, kesederhanaan, religiusitas pada Mat Angin, pada Haji Romlie di Kiamat Sudah Dekat, dan Bang Jack pada Para Pencari Tuhan.

Nilai-nilai itu dan masih banyak hal positif lainnya, masuk menyerap di kepala dan hati kita dengan enak, baik secara sadar maupun tidak. Tanpa harus merasa digurui, karena kadang dikemas dalam humor yang cerdas. Pada akhirnya, sosok Mat Angin, Haji Romlie dan Bang Jack menjadi semacam simbol panutan dan penjaga moral kita. Sehingga tidak salah juga ketika sosok Deddy Mizwar pun akibatnya ikut menjadi sosok dan simbol penjaga moral penyejuk hati. Simbol ini bukan membesar-besarkan atau ketinggian, tapi memang itu yang dirasakan. Maka ketika Deddy Mizwar nyapres, pertanyaan pun muncul. Lha kalau yang menjaga moral ikut turun gelanggang, siapa dong yang berperan menjadi penjaga moral?

Tentu saja, kita tidak bisa membelenggu Deddy Mizwar untuk tidak nyapres. Kita harus menghargai hak konstitusi beliau untuk dipilih. Barangkali, beliau merasa sempit jika hanya memperjuangkan moral di level sinetron atau filem. Dengan jadi presiden, boleh jadi medan pertempuran menjadi lebih luas, juga dengan lewat media struktural mungkin perjuangannya jadi lebih efektif.

Ah, tapi seberapa efektif? Tidak ada yang pasti apakah lewat struktural lebih baik dibanding dengan lewat informal. Bukannya sruktural dapat dimaknai macam-macam? Jangan-jangan tarikan syahwat kekuasaan jadi lebih besar, sehingga dinilai menjadi tidak netral lagi alias membawa kepentingan-kepentingan tertentu.  

 

Episode Baru

Saya bisa membayangkan kalau Haji Romlie atau Bang Jack diminta jadi penjaga moral, dia akan menjawab, “Emang cuman gue doang yang jagain moral lu-lu pada? Banyak panggede-panggede atau orang laen yang lebih tinggi pangkatnye yang bisa lu minta buat njagain lu. Gue mah terlalu kecil buat yang kayak begituan”.

Tapi nama Deddy Mizwar atau Jenderal Nagabonar atau Haji Romlie atau Bang Jack terlanjur sudah besar dan jadi simbol. Itu juga yang kita harap beliau juga pahami. Atau jangan-jangan beliau sedang membuat “menguji” moral kita dengan membuat “sinetron” episode baru?

Scolari, Bankir dan Reputasi Februari 24, 2009

Posted by abdinagoro in Leadership, Tidak terkategori.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

scolari1Bulan ini ada beberapa peristiwa penting terkait dengan sepak terjang dan apa yang dialami  seorang eksekutif atau pemimpin yang kemungkinan besar akan mempengaruhi reputasinya. Yang pertama adalah beberapa orang eksekutif perbankan dari bank ternama di Amerika yang dengan sadar tetap mendapatkan bonus akhir tahun meski tahu perusahaannya mendapat suntikan dana bantuan dari pemerintah akibat krisis keuangan global. Yang kedua adalah Luiz Felipe Scolari, pelatih klub sepak bola Chelsea yang baru saja dipecat oleh pemilik klub meski dia seorang pelatih yang dikenal mampu membuat Brazil menjadi juara sepak bola dunia dan Portugal menjadi juara Eropa.

Keduanya bagi publik tentu bukan sosok yang asing. Nama bank dan nama kesebelasan yang dipimpinnya sudah sangat dikenal, begitu juga dengan personal pemimpin tersebut. Bankir tersebut tentu sudah melewati prestasi yang bagus hingga mampu menduduki kursi kepemimpinan di bank ternama. Begitu juga dengan Scolari, track record-nya di kancah persepakbolaan tingkat dunia juga memiliki prestasi yang luar biasa.

Hanya saja, sepak terjang para bankir itu rasanya melukai nilai kepatutan yang ada. Bagaimana mungkin mereka berperilaku seperti itu? Sedangkan bagi Scolari, pemecatan itu menambah catatan kurang mengesankan bagi prestasinya. Ujung-ujungnya, peristiwa kedua pemimpin dan eksekutif itu menjadikan reputasinya berpotensi buruk.

 

Membangun Reputasi

Reputasi merupakan asosiasi publik terhadap seseorang, dalam bahasa sederhana, apa yang publik nilai dan katakan terhadap seseorang. Umumnya reputasi dibangun dan dicapai pada suatu masa yang cukup panjang, karenanya reputasi bukanlah merupakan prestasi sesaat. Pendorong utama reputasi adalah pengalaman dan pencapaian dari hari-ke-hari, terutama pada realisasi bentuk janji-janji yang telah dicanangkan. Oleh karenanya, publik memiliki ekspektasi terhadap janji tersebut, dan penilaian mereka datang dari seberapa konsisten janji-janji itu terealisasi.

Publik, terutama konsumen, tentu berharap para eksekutif perbankan mampu mengatasi dan membantu mereka dalam mengatasi krisis keuangan yang dihadapi, seperti yang ditulis dalam laporan tahunan. Publik, terutama penggemar dan supporter kesebelasan Chelsea, juga berhadap masuknya Big Phil mampu mendongkrak prestasi Chelsea, seperti yang ditunjukkan reputasinya dalam mengelola sebuah kesebelasan.

Tapi apa daya, peristiwa di atas, seakan-akan menghentikan prestasi dan reputasi yang telah ada sebelumnya. Meski pencapaian secara personal dari segi finansial cukup besar, Scolari misalnya diperkirakan mendapat kompensasi senilai 240 milyar rupiah, tetapi tetap saja telah terstempel kata pemecatan. Apakah reputasinya menjadi berkurang bahkan cacat? Boleh jadi.

 

Reputasi dan Masa Depan 

Dalam bukunya, Trust, Rita C O’Brien menyebut setidaknya ada tiga komponen yang menjadi dasar sebuah reputasi, yaitu: kompetensi, konsistensi dan integritas. Kompetensi merupakan reputasi yang didapat dari pengetahuan, pengalaman dan kemampuan seseorang yang terus terakumulasi. Konsistensi dan integritas menjadi dasar atas sebuah kepercayaan -trust- antara seseorang dengan publik.

Meski reputasi dapat dibangun melalui program-program public relation atau kehumasan, tetapi hal itu bukan menjadi yang utama, karena pada dasarnya kompetensi, konsistensi dan integritas personal lah yang memegang peran. Selain itu, bisa saja media pe-er seperti media massa malah berperan sebaliknya yaitu dengan memberitakan hal-hal buruk sehingga reputasi bisa terganggu.

Dua kasus di atas bisa saja akan berakibat berbeda pada reputasi masing-masing. Para bankir tentu akan memiliki reputasi lebih buruk dibanding Scolari. Hal yang paling dilanggar para bankir itu dalam menjaga reputasinya adalah integritas. Padahal kita tahu, integritas adalah kekuatan moral atau prinsip, kebenaran dan kejujuran. Para bankir dalam penilaian publik sudah tidak patut menerima bonus besar sementara publik dalam kondisi menderita. Sedangkan Scolari boleh jadi akan memiliki reputasi yang lebih baik, karena tidak melanggar integritas.

Arah masa depan keduanya tentu juga akan berbeda. Siapa yang percaya dan mau merekrut bankir dengan perilaku seperti itu? Berbeda dengan Scolari yang dapat diperkirakan tidak akan lama menganggur. O’Brien juga menyebut bahwa kepercayaan -trust- dibangun berdasarkan reputasi.

Sebentar lagi, kita pun akan memilih orang-orang yang menjadi wakil kita di DPRD, DPR maupun pemimpin negara ini untuk masa 5 tahun ke depan. Seberapakah kita menilai reputasi mereka?

Ayah dan Ibu, Biarkan Saya Bersepeda Sepuasnya… Februari 10, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.
Tags: , , ,
add a comment

 

 

spedaan

Kring kring naik sepeda

Sepedaku roda dua

Ku dapat dari ayah

Karena rajin bekerja…

 

Mungkin Anda pernah mendengar lagu itu ketika masih kanak-kanak. Dan sambil mengendarai sepeda, kita menyanyikan lagu itu bersama teman-teman. Ya… bersepeda kini mulai kembali ramai digemari semua orang.

Baru minggu lalu, kawan-kawan saya dari komunitas Sepeda Untuk Sekolah (SUS) berhasil menyebarkan “wabah” bersepeda di kalangan anak sekolah. Tidak tanggung-tanggung sudah ratusan sepeda telah di sebar baik di sekitar Jabotabek maupun Surabaya… (Terima kasih mas Danang, mas Toto, mas Nanang, dan kawan-kawan semua atas usahanya).

Peristiwa ini mengingatkan saya akan pengalaman bersepeda. Sepeda pertama yang saya dapat tentu saja waktu masih SD, sehabis sunat! Jujur saja bersepeda menjadikan saya mengenal lingkungan tempat tinggal lebih luas lagi. Melewati gang-gang sempit di Dukuh Atas, sampai ke kuburan Karet. Atau kadang bersama kawan-kawan kecil sampai juga di Senayan atau Pasar Tanah Abang. Kulit bertambah hitam, semerbak harum bau matahari!

Begitu juga ketika menjalani SMP dan SMA, ketika harus tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur, bersepeda juga menyenangkan. Dua puluh empat kilometer total yang harus ditempuh pulang pergi dari rumah ke sekolah. Tapi bersepeda tetap asyik. Beriringan bersama teman seperjalanan, dengan pak tani yang membawa cangkul dan padi, dengan mbok-mbok penjual dagangan di pasar, tentu saja dengan kawan satu sekolah. Kadang-kadang rute perjalanan diubah biar tak membosankan, walau lebih jauh.

 

Mengenal Lingkungan dengan Sepeda

Satu hal yang pasti lewat kayuhan sepeda, saya punya lingkungan lebih jauh. Bisa mengenal orang-orang lebih banyak. Belajar berdisiplin, lewat bersepeda yang benar. Masa kecil menjadi lebih menyenangkan.

Kini tentu berbeda. Anak-anak banyak “dikurung” di dalam rumah. Hanya bermain komputer dengan game-nya atau play station. Banyak pula yang dibanjiri oleh mainan, atau tugas-tugas sekolah, sehingga anak tidak banyak bergerak. Padahal betapa banyaknya peristiwa, pelajaran, dan belajar hidup yang banyak didapat dari lingkungan yang lebih luas.

Bersosialisasi, belajar tertib berlalu lintas dan sekaligus berolah raga menjadi hasil dari bersepeda. Makin banyak mengayuh sepeda, makin jauh pula mengayuh hidup dan kehidupan.

Ayah dan Ibu, berilah saya sepeda. Biarkan saya bersepeda sepuasnya, biar bisa terbang seperti di film ET. Biarkan saya mengenal lingkungan lebih luas lagi..

 

 

 

Banjir Wajah Tidak Dikenal Februari 2, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Marketing.
Tags: , , , , ,
add a comment

ambition1Hujan minggu lalu hampir merata di seluruh bumi Indonesia, BMG juga memprediksi sampai minggu ini hujan akan masih terus dalam kondisi yang sama. Hujan datang, banjir tiba. Tapi saya tidak akan membahas banjir air ini, dalam catatan akhir minggu ini saya mau membahas banjir yang lain, yaitu banjir caleg.

Sepanjang jalan hampir di semua kota dan daerah kini bertebaran spanduk, baliho, selebaran, poster dan lainnya yang mengisi hampir di semua sudut-sudut dan ruang kosong yang ada. Merah, kuning, hijau, biru, oranye, putih dengan sebentuk wajah serius atau diserius-seriuskan, sedikit senyum atau dipaksa tersenyum, berwajah ramah atau mencoba diramah-ramahkan para calon legislative atau caleg yang sebentar lagi ikut Pemilu. Di sepanjang perjalanan dari Puncak menuju Cianjur lalu ke arah Kademangan-Cikalong Kulon, di malam yang gelap setidaknya saya dan kawan-kawan “tertolong” oleh poster putih yang dipaku di tiap-tiap batang pohon, paling tidak untuk jadi penanda jalan.

Tapi ini betul. Lihat saja sekarang, setiap yang namanya benda yang berbentuk silinder atau tiang atau pohon, pasti sudah “habis” dipaku, ditempel, dibelit oleh yang namanya poster atau spanduk dan kawan-kawannya. Betapa banyaknya. Bersaing dengan iklan-iklan komersial yang memang juga telah banyak bertebaran di sana. Sebuah artikel menyebutnya sebagai teror visual. Saya atau Anda terteror? Iya juga sih..

 

Promosi atau Kampanye?

Rupanya para caleg masih tetap meyakini jargon lama “tak kenal maka tak sayang”, jadi cara yang dianggap paling efektif adalah mempromosikan diri. Maka metode above the line -begitu bahasa keren-nya- digeber habis-habisan, yang penting wajah bertebaran dan masyarakat kenal. Kenal? Ah… belum tentu. Paling tinggi juga baru pada tahap “tahu”.

Tapi ya… sudahlah. Toh para caleg barangkali masih dalam tahap promosi, jadi komunikasinya masih satu arah. Masalah efektif tidaknya, tentu belum terbukti. Calon pemilih kan juga bukan orang-orang bodoh yang percaya begitu saja terhadap iklan-iklan itu. Masa kampanye tentu yang lebih berat dan kompleks. Ketika aturan suara terbanyak digunakan, maka bukan saja si caleg bersaing dengan caleg dari partai lain, tetapi dari partai sendiri persaingan juga tidak kalah seru. Makanya, di beberapa partai, banyak juga caleg-caleg baru yang digeser atau dicoret hanya karena caleg “lama” mau posisinya aman. Walau begitu, caleg dengan “nomor peci” sekarang tidak bisa ngongkang-ngongkang kaki. Mau tidak mau mereka juga harus “merebut” pemilih. Saat kampanye jadi saat yang penting, komunikasi dua arah menjadi jauh lebih penting ketimbang memasang poster.

 

Bagaimana Kondisi Pemilih?

Harus diakui, ada kekhawatiran banyaknya pemilih yang apatis terhadap Pemilu. Banyak yagn merasa “ada tidak ada pemilu” sama saja, tidak akan banyak mengubah kehidupan dan penghidupannya. Pe-er yang besar buat para caleg, KPU, dan penyelenggara negara.

Yang penting juga, tentu harus dicari cara “jual diri” yang lebih baik dan efektif bagi para caleg. Promosi above the line yang saya ceritakan di atas, sudah tentu banyak memakan biaya. Biaya design, biaya cetak, biaya pasang, juga biaya sosial karena adu ngotot urusan bongkar-pasang spanduk, perkelahian karena rebutan tempat strategis, juga terutama teror visual tadi.

Menjelang Pemilu sudah dapat dipastikan para caleg akan mengeluarkan jurus terakhirnya. Semoga para pemilih juga tidak kembali “terteror”. Bukan itu saja, semoga juga tidak merusak keindahan kota atau daerah. Mau lihat pemandangan apa, kalau tiap jalan, lorong dan gang penuh dan banjir dengan gambar caleg. Seberapa banyak juga dari caleg itu yang kita kenal? Pemilih juga pasti tidak akan memilih para caleg yang sudah merusak pemandangan kota atau daerah, yang merusak pohon-pohon di jalanan, apa lagi sampai merusak lingkungan baik alam maupun sosial.

Sekarang saja sudah ada pemilih yang protes, berita foto di harian KOMPAS, beberapa minggu lalu menggelitik saya. Spanduk besar menghiasi sebuah jalan dengan tulisan besar-besar “Siapa Kenal Lu?”

Nah lho…

Tentang Negeri Bernama Israel Januari 13, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.
Tags: , , , , , , ,
7 comments

israel-usa“Know your enemy” begitu Sun Tzu bilang dalam kitab perangnya, The Art of War.

Seminggu ini kita dibombardir oleh berita-berita mengenai penyerbuan militer Israel ke Jalur Gaza di Palestine. Sudah ratusan orang yang meninggal dan ribuan yang terluka.  Tentu perasaan geram, marah dan jengkel bercampuraduk, melihat polah negeri Zionis ini. Ini sekedar catatan dari berbagai sumber yang berhasil dikumpulkan, seperti apa negeri Israel itu, terutama ekonomi dan kekuatannya, mengikuti apa yang Tun Szu bilang pada kutipan di atas.

 

Sekilas tentang Israel

Setelah Perang Dunia II selesai, atas bantuan pemimpin-pemimpin Inggris dan Amerika Serikat saat itu, Israel didirikan sebagai negera yang berdaulat. Setelah itu, maka dimulailah pencaplokan tanah-tanah Arab, hingga luasnya dalam posisi yang sekarang ini. Israel kini memiliki luas kurang lebih 139.327 km2, sedangkan Palestine kini hanya memiliki luas kurang lebih 41.725 km2. (Catatan: sumber data selalu menggunakan istilah occupied territories untuk menyebut Palestine, karena Palestine belum menjadi sebuah negara -state-).

Penduduk Israel mencapai 7,1 juta jiwa, penduduk Palestine 3,4 juta dan yang dipengasingan 4,5 juta jiwa. Israel termasuk sebagai negeri yang berpendapatan tinggi (World Bank). Data tahun 2008, pendapatan tahunan nasional mencapai USD 120 milyar, sedangkan occupied territories Palestine (kok sedih ya.. menulis kata ‘occupied territories’. Berikutnya saya pakai kata Palestine saja) hanya USD 2,9 milyar, atau sekitar seperempatpuluhsatunya. Sedangkan jika dihitung pendapatan per kapita, Israel sekitar USD 20.000 sedangkan Palestine hanya USD 850, kira-kira seperduapuluhempat kali.

 

Ekonomi Israel

Karena sumber daya alam yang dimiliki Israel (sebetulnya juga Palestine) terbatas, maka strategi utama yang diterapkan adalah meningkatkan kemampuan untuk mengkapitalisasi ketrampilan yang tinggi, terdidik, dan inovatif. Hampir 64% dari pendapatan domestik kotornya (GDP) berasal dari sektor pengembangan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) tingkat tinggi, disusul 32% industri lainnya dan 3% pertanian. Karena negeri ini fokus pada sektor high-tech maka riset dan pengembangan (R&D) dan tenaga kerja yang high-skilled menjadi sumber investasi yang utama. Sebagai contoh, hampir 300 perusahaan untuk medical device tercatat di Israel dan lebih dari setengahnya masuk dalam life science industry.

Dalam strategi industri global, tentu bidang yang dipilih Israel sudah tepat dan bahkan akan menjadi pemain utama yang sustainable mengingat di masa datang peran industri komunikasi dan teknologi informasi bakal menjadi pemegang utama perekonomian. Artinya, secara teoritis Israel akan semakin kuat dan aman secara ekonomi.

Ekonomi Israel tumbuh di atas 5% (2008), meski demikian negeri ini sangat tergantung pada Amerika Serikat. Dalam data perdagangan tahun 2007, tercatat mitra eksport utama adalah AS (41%), Belgia (9%), Hongkong (7%) dan Inggris (4%). Sedangkan mitra impor utama adalah AS (14%), Belgia (8%), Jerman (6%) dan China (6%).

Jadi jelas terlihat bagaimana Israel menjaga hubungannya dengan AS, begitu juga sebaliknya. Dalam data yang lain, bantuan keuangan tahunan dari AS (Annual US Financial Aid) untuk Israel mencapai USD 5 milyar sedangkan untuk otoritas Palestine, AS hanya membantu sebesar US 50 juta saja. Lagi-lagi, Israel mendapat bantuan 100 kali lipat dibanding Palestine.

Jadi jelas, ekonomi Israel tetap akan kuat. Arus investasi tentu akan mudah masuk karena jenis industri yang dipilih negara itu fit dengan masa depan. Hal yang bisa mengganggu adalah ketidakstabilan keamanan di negara itu. Makin banyak berkonflik (misal dengan Palestine, Iran, Syria dan Lebanon) tentu akan meningkatkan country risk buat Israel, belum lagi menurut beberapa pengamat landskap politik di negeri ini sangat tidak stabil.

 

Siapa Doyan Membantu Israel?

Sudah pasti Amerika Serikat. Lihat data mitra utama ekspor maupun mitra utama impor, lihat juga data bantuan keuangan yang diberikan. Tetapi yang lebih hebat lagi adalah bantuan militer AS kepada Israel. Berapa jumlahnya?

16 Agustus 2007, Pemerintah AS dan Israel menandatangani MoU mengenai menaikkan bantuan militer bilateral kepada Israel menjadi USD 30 milyar hingga 10 tahun ke depan, dan ini naik 25% dari tahun-tahun sebelumnya. Sebelum menaikkan bantuan militer ini, Israel telah menjadi negara terbesar yang menerima bantuan AS. Merujuk pada Congressional Research Services, sejak tahun 1949, AS telah menyediakan dana lebih dari USD 53 milyar untuk bantuan militer, kurang sedikit dari setengah bantuan total untuk Israel yaitu lebih dari USD 101 milyar (2007).

Barangkali memang yang bisa “menghentikan” Israel adalah saudara tuanya, Amerika Serikat. Tentu saja, harapan besar setidaknya ada pada Presiden AS yang baru, Barrack Obama. Tapi apa betul harapan itu pantas dititipkan padanya?

 

Berharap pada Obama?

Tadinya saya berpikir ada yang bisa diharapkan dari Obama. Hanya saja, beberapa cuplikan hasil browsing-an saya membuat saya harus berpikir ulang. Fakta-fakta mengenai Obama yang saya dapat dari National Jewish Democratic Council (NJDC) dan newsletter kampanye Obama-Biden menyebutkan bahwa Obama merupakan senator yang memiliki voting record pro-Israel yang sempurna dalam Senat AS dan memiliki catatan baik sebagai true friends of Israel.

Obama menjadi salah satu co-sponsor untuk the Palestinian Anti-Terorism Act of 2006. Ia menjadi salah satu yang menandatangani surat untuk Uni Eropa untuk menambahkan Hezbollah dalam daftar grup teroris. Ia juga menyebut Hamas sebagai teroris (New York Times, 16 Mei 2008).

Satu lagi, jauh sebelum Obama menjadi Presiden, ia berdeklarasi pada konferensi NJDC (saya kutip saja langsung), “When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel in search of this peace and in defense against those who seek its destruction,” (Philadelphia Jewish Voice, July 2007).

 

Dear my friends, begitu lah celoteh saya minggu ini, mencermati apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di Palestine minggu ini. Mungkin juga belum berhenti. Entah sampai kapan…    

Ada Sabotase pada (Ekonomi) Kita? Januari 5, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.
Tags: , , , , , , ,
4 comments

panen1Memilih kata “sabotase” buat Catatan Akhir Minggu ini perlu beberapa waktu untuk menimbang-nimbangnya. Bukan apa-apa, mendengar kata “sabotase” rasanya kok menyeramkan. Jadi lebih bagus dicari dulu apa artinya yang kurang lebih seperti ini: Sabotase adalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi, penghambatan, pengacauan dan/atau penghancuran. Kenapa “sabotase” jadi catatan?

Dari definisinya saja sudah dapat diketahui bahwa hasil dari sebuah sabotase adalah kekacauan, ada sesuatu yang terhambat atau bahkan hancur, dan kelemahan (boleh jadi belum mati). Setidaknya dalam catatan saya minggu ini, ada 3 hal yang boleh digarisbawahi, yaitu benih, pupuk dan BBM.
Urusan pertama terkait benih alias bibit, baik jagung maupun padi. Di beberapa tempat banyak petani kita yang kelabakan ketika tahu bibit yang ditanamnya palsu. Bagaimana tidak, beliau-beliau ini telah merawat tanaman hingga masa panen tiba. Cuma yang didapat adalah bulir padi yang kosong tak berisi atau bonggol jagung yang tidak berbiji. Habis sudah harapan untuk memanen padi atau jagung di ladangnya. Bukan cuma itu, kita juga tahu petani seringkali berhutang dahulu untuk membiayai tanamannya dengan harapan ketika panen, hutang tersebut terbayar dan petani memiliki sedikit kelebihan untuk mencukupi hidupnya.

Urusan kedua terkait pupuk. Kita sudah baca berita di media cetak dan televisi, bagaimana pupuk menjadi barang langka. Kelangkaan ini menyebabkan petani-petani nekat “membobol” gudang pupuk, “membajak” truk pengangkut pupuk, mereka tidak peduli sistem distribusi. Yang jelas mereka mendapatkan pupuk dan tidak dengan menjarah, karena mereka tetap bayar di tempat.

Bagaimana bisa urusan bibit dan pupuk bisa kacau? Kalau diurut-urut memang banyak yang instansi atau pihak-pihak yang ikut terkait. Mulai dari hulu, penghasil bibit, pabrik-pabrik pupuk, distributor, Departemen Pertanian, Bulog, sampai instansi pendukung macam Badan Meteorogi dan Geofisika. Tidak adakah koordinasi antar mereka? Bukankah musim tanam bisa diprediksi? Informasi prakiraan cuaca datang dari BMG, kebijakan pangan dari Deptan, informasi kebutuhan pupuk tentu bisa diketahui oleh pabrik-pabrik pupuk. Kalau informasi tidak dapat dimanfaatkan, tentu saja celah ini digunakan “para petualang” bermain menarik keuntungan lewat bibit palsu, pupuk palsu, menimbun pupuk dan lain sebagainya.

Yang jelas, kekacauan ini sudah mengganggu. Dalam skala mikro tentu petani-petani kita yang paling terganggu, bukan hanya perkara tanamannya, tetapi sudah kehidupan dan penghidupannya. Dalam skala makro, kita pasti bisa membayangkan harga beras yang tinggi karena susah dicari, kalau sudah menyangkut urusan perut tentu apapun bisa dan mau dilakukan agar tetap bisa hidup alias survive.. Yang repot kalau yang pendek imannya, wah bisa lebih berabe… Belum lagi ditambah ada upaya mengoplos beras dengan menir (alias beras pecah yang biasa untuk pakan ayam). Beberapa waktu lalu ada beritanya dari daerah Banten.

Urusan ketiga adalah urusan BBM (B-a-h-a-n—B-a-k-a-r—M-i-n-y-a-k). Sudah banyak kita tahun ini membaca dan melihat bagaimana saudara-saudara kita ngantri minyak tanah, lalu dilanjutkan dengan gas elpiji yang 3 Kg. Eee.. minggu ini, tahun baru, premium alias bensin ikut langka.
Bukan masalah kelangkaannya yang “mulai biasa” kita dengar dan lihat, tapi efeknya itu my friends.. Ongkos angkut naik, akibatnya harga barang-barang naik, yang lebih hebat, tensi darah juga naik, akibatnya orang bisa berantem gara-gara tidak sabar mengantri. Nah, ini juga kekacauan namanya.

Bibit, pupuk, BBM itu saja hanya 3 komponen yang berpengaruh banyak terhadap penghidupan orang banyak, yang lebih besar tentu pada ekonomi masyarakat banyak. Balik ke definisi di atas, maka pantas juga kita menyebut bahwa ekonomi kita kok bisa saja disabotase. Lalu siapa yang menyabot?

Sebetulnya siapapun yang membuat kekacauan ekonomi ini terjadi, dia berpotensi sebagai penyabot. Pembuat bibit-bibit palsu, pembuat pupuk-pupuk palsu, penimbun pupuk, pengoplos beras, penimbun BBM adalah seorang penyabot. Jangan lupa, perancang kebijakan yang pada akhirnya kebijakannya tidak jalan karena tujuannya sekedar ingin menaikkan angka-angka agar terlihat cantik secara statistik di mata masyarakat, dia juga berpotensi sebagai penyabot ekonomi.

Orang-orang ini, sudah semestinya menjadi musuh kita bersama.

Semoga kita -secara tidak sadar maupun sadar- tidak menjadi penyabot yang melakukan “sabotase kolektif”.