jump to navigation

KRL Jabodetabek Ekonomi plus AC Februari 28, 2008

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu.
add a comment

KRL Jabodetabek Ekonomi plus AC

Kemarin, sengaja nggak jadi motobiker ke Jakarta. Badan lagi kurang enak, lagipula hujan yang hampir tiap hari turun bikin naik motor jadi kurang nyaman. Pilihannya ya naik KRL. Berangkat agak sore dari stasiun Pondok Cina menuju stasiun Tebet, mampir ke kantor sebentar lalu lanjut ke Salemba buat ikut Rapat persiapan Panitia Musyawarah III ILUNI FTUI.

Tiket sudah dibeli 1.500 perak saja. Agak kesel juga, karena kereta ekonomi ke Jakarta, di depan hidung barusan lewat. Terlambat 30 detik! Ya sutra.. Cuma ketika masuk peron, ada pengumuman kalau KRL Ekonomi AC jurusan Tanah Abang sebentar lagi datang. Ekonomi AC? Setelah tanya sama pak Penjaga dan Pemeriksa Karcis, baru tahu kalau ada kereta ekonomi ber-ac yang berhenti di tiap-tiap stasiun. Artinya, di stasiun Tebet bakal berhenti. Harga tiketnya 6.000 perak. Buru-buru balik loket, tuker tiket.

Sepanjang perjalanan, rasanya nyaman betul. Suasana sepi, mungkin karena arah keretanya berlawanan dengan arah orang pulang kantor. Tetapi yang jelas, bersih, dingin, nggak ada pedagang asongan lewat. Persis seperti KRL Pakuan AC yang kelasnya tinggian satu tingkat, tapi cuma berhenti di Gambir dan Kota. Keretanya masih kinyis-kinyis baru.

Kalau mass tranport seperti ini, pasti enak. Mustinya banyak orang yang kemudian jadi suka. Murah, bagus, dan “harus”nya tepat waktu. Lha wong kereta kan punya jalur sendiri, nggak bakal salip-salipan, nggak bakal kena macet. Begitu turun di Tebet, masih ada pertanyaan dan andai-andai di kepala..

Seandainya semua KRL nggak pernah kacau jadwalnya, sehingga orang bisa berhitung waktu..

Seandainya KRL ini bisa dirawat dengan baik… Karena selalu timbul pertanyaan untuk fasilitas publik, siapa yang bakal merawat? Umumnya kita kan pandai memakai nggak bisa merawat? Apalagi fasilitas bantuan..

Seandainya kemudian para komuter di pinggiran Jakarta naik KRL semua…

Seandainya mass rapid transport di Jabodetabek dikelola dan dirawat dengan baik..

Pasti sampai rumah kita tetap nyaman, nggak pernah begitu duduk buka sepatu sambil menggerutu..”Capeee deeehhh…!”

Menjual Rasa Sentimentil Masa Lalu Februari 26, 2008

Posted by abdinagoro in Consumer Behavior.
3 comments

Barangkali Pembaca pernah suatu kali, menjumpai sebuah produk yang sangat Anda kenal sehingga mampu mengingatkan dan membawa kembali ke masa lampau, bernostalgia sejenak. Misalnya, sebuah scooter Vespa. Meski kini tampil dengan bentuk dan model yang baru. tetapi Anda tetap bisa mengenali “sosok asli”nya hadir walau berada di sebuah pusat perbelanjaan modern. Boleh jadi ingatan ini bisa berakibat Anda tertarik lalu merogoh kocek untuk membawanya pulang.

Sebetulnya banyak produk lain yang juga memiliki potensi menjadi produk nostalgia, misalnya produk-produk sepatu seperti Converse atau Warrior, produk makanan seperti Quaker Oatmeal, coklat Silver Queen atau susu kental manis Indomilk. Produk otomotif macam VW Kodok atau berbagai jenis jip. Begitu juga dengan produk-produk hiburan seperti musik, film layar lebar, bintang film, dan produk-produk fesyen.
Fenomena ini tentu saja juga dimanfaatkan para pemasar untuk menjual produknya. Pembaca, pemasaran nostalgia (nostalgia marketing) didasari oleh premis: ketika muda usia orang hidup dalam mimpi-mimpi, dan ketika tua orang hidup dalam memori atau nostalgia. Jika demikian, maka premis ini juga bisa diartikan bahwa nostalgia atau bernostalgia merupakan bagian dari siklus hidup, dan pasti akan terjadi pada setiap orang. Dengan kata lain, nostalgia menjadi preferensi seumur hidup seseorang. Nah, tinggal bagaimana kepandaian kita mengelola dan memanfaatkan fenomena ini.

Profil psikografis

Kapan sebetulnya orang sudah mulai memiliki nostalgia? Menurut penelitian Schinder & Holbrook (2003), pada dasarnya kecenderungan orang untuk bernostalgia dimulai pada usia 16 tahun, dan rata-rata orang yang bernostalgia paling banyak saat berada pada usia 24 tahun. Nah, jika orang-orang tersebut dikelompokkan dalam kategori usia, maka pemasar produk atau jasa ‘nostalgia’ akan melihat bahwa rentang potensi pasarnya berada di kelompok masa puber dan masa usia awal dewasa. Dan andai kata kita jumlahkan seluruh rentang usia orang bernostalgia -anggap usia rata-rata maksimal manusia Indonesia adalah 65 tahun-, dapat dibayangkan betapa besarnya potensi pasar yang ada.

Meski semua orang mulai bernostalgia pada usia puber, tetapi ada faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya nostalgia pada seseorang sehingga akan memiliki rasa nostalgia yang berbeda-beda. Faktor yang pertama adalah gender. Laki-laki cenderung untuk lebih menyukai produk-produk yang bersifat maskulin, seperti produk-produk otomotif. Anda, para lelaki, dengan mudah menghafal merek mobil apa yang paling jadi trend di saat usia muda Anda. Hebatnya, bukan cuma merek yang dihafal, tetapi juga ciri-ciri khas yang terdapat pada mobil tersebut, misalnya tahun berapa mulai keluar atau dijual, bentuk lampunya yang kotak, asesoris apa saja yang ada di dashboard-nya, atau jumlah dan bentuk handle pintunya.

Sedangkan pada wanita, cenderung untuk bernostalgia dengan produk-produk yang lebih bersifat feminin, terutama fesyen. Buat Anda, pembaca wanita, tentu juga masih ingat model baju yang sedang in waktu zaman Anda di SMA atau kuliah dulu. Corak dan modelnya, apakah berbunga-bunga, polkadot, baby doll atau little black dress yang dikenakan Audrey Hepburn di film Breakfast at Tiffany. Mungkin juga zamannya ramai-ramai menggunakan rok mini, jeans ketat atau jeans belel.

Sedangkan musik dan film layar lebar adalah produk yang bisa membangkitkan efek nostalgia baik bagi laki-laki maupun perempuan. Siapa yang tidak ingat lagu Stayin’ Alive-nya Bee Gees, atau Brown Sugar-nya the Rolling Stones, atau yang lebih lama, I feel good-nya James Brown. Anda juga pasti ingat gaya ajojing-nya John Travolta di filim Saturday Night Fever. Lagu dan film tersebut memicu kita bernostalgia tidak saja pada lagu atau filmnya, tetapi juga model pakaian, kendaraan dan pernak-pernik lainnya. Hal ini juga menjelaskan bagaimana fenomena banyaknya orang yang menyukai miniatur, action figure, t-shirt sampai simbol dan seragam Star Trek.

Faktor lain yang menjadi pemicu munculnya rasa nostalgia adalah suasana hati negatif dan rasa kesepian. Maka tidak heran, CD lagu-lagu lama yang masuk kategori Evergreen Songs banyak dibeli oleh orang-orang yang sedang sedih atau kesepian. Sehingga banyak juga produser kaset atau CD seringkali merekam ulang lagu-lagu jadul tersebut.


Kemasan yang memikat

Kekuatan nostalgia memang dahsyat. Selain rentang pasarnya yang lebar dan menjadi preferensi seumur hidup seseorang, memori akan nostalgia juga akan mendorong seorang ayah atau ibu untuk mereplikasinya pada anak-anaknya. Coba Anda perhatikan baik-baik, boleh jadi merek susu yang diberikan pada anak Anda adalah merek yang sama yang diberikan Ibu Anda pada Anda waktu kecil. Atau karena ayah Anda dulu memberi hadiah merek mobil tertentu pada Anda, maka Anda pun ingin memberikan merek mobil yang sama buat hadiah masuk kuliah anak laki-laki Anda.

Tidak hanya produk, tetapi suasana juga bisa dibangun untuk membangkitkan nostalgia. Musik tradisional Sunda yang didengar di sebuah restoran, sambil menikmati hidangan dengan wadah makan dari daun pisang bisa jadi membangkitkan rasa nostalgia akan kampung halaman. Efeknya, orang akan datang ke rumah makan tersebut, mungkin bukan sekedar untuk makan tetapi bernostalgia waktu kecil.

Maka akan sangat elok apabila sebuah hunian kondominium di Jakarta yang baru-baru ini memamerkan sepuluh mobil klasik, tidak hanya sekedar berpameran. Suasana klasik yang dibangun mestinya juga ikut mengingatkan pengunjung akan sesuatu di masa lampau, yang selanjutnya akan mempengaruhi persepsi mereka terhadap kondominium tersebut.

Jadi walaupun hanya satu-dua produk nostalgia yang dijadikan pemicu seseorang untuk kembali ke masa lampau, tetapi akibatnya produk-produk lain yang terkait dengannya pun bisa membuat orang merogoh kantong lebih dalam lagi. Aih, nikmatnya bernostalgia.

Dimuat di KONTAN Sabtu, 23 Februari 2008

Berusaha Dengan Bersih, catatan untuk tahun yang baru Februari 26, 2008

Posted by abdinagoro in Strategic Management.
add a comment

Sebuah stasiun televisi nasional menayangkan dengan gamblang bagaimana seseorang melakukan aksi tipu-tipu dalam menjalankan bisnis atau usahanya. Dia dengan “pandai”nya membuat minuman bersoda “merek terkenal“ dan kemudian diasong secara bebas di terminal bus atau pom bensin di jalur pantura. Di lain waktu televisi ini mengupas bagaimana membuat “tiruan” air mineral dan kosmetik. Juga bakso yang dijajakan dari kampung ke kampung yang dibuat dengan bahan yang tidak semestinya. Dan masih ada banyak lagi aksi-aksi lain yang berjalan.

Hampir dari semua pelaku yang dijadikan nara sumber acara tersebut, dengan mudah bahkan tidak malu-malu atau sembunyi-sembunyi menceritakan bagaimana mereka beraksi. Pembaca, apa yang ada dibenak mereka? Apakah tidak ada rasa bersalah melakukannya? Apakah tidak memikirkan akibatnya terhadap orang atau konsumen yang memakai atau menkonsumsinya? Dari manakah mereka mendapatkan ide itu? Dan bagaimana mereka memiliki “ilmu” itu?

Dorongan Budaya Serba Instan?

Ada satu hal yang bisa menjadi benang merah dari alasan mereka melakukan kegiatan itu, yakni ingin segera mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan semudah-mudahnya. Dorongan mendapatkan laba yang besar menjadi alasan karena tantangan dan kebutuhan hidup juga semakin tinggi. Ketika kebutuhan itu semakin memuncak dan mendesak, sementara kesempatan hanya terdapat pada kegiatan atau pekerjaan yang ada, maka di situlah tempat sebagai satu-satunya tumpuan untuk menyiasati hidup. Oleh karenanya sangat mungkin alasan ini menjadi pembenaran atas kegiatan mereka itu.

Hal ini makin diperparah oleh sebagian besar dari kebutuhan hidup masyarakat kita yang umumnya didorong oleh pola hidup yang bersifat konsumtif. Bagaimana mereka tidak terpengaruh oleh pola hidup ini, ketika setiap hari yang dilihat di televisi atau iklan dan reklame yang bertebaran di sepanjang jalan dan surat kabar, bahkan lingkungan pergaulan, selalu mengedepankan materi sebagai tolok ukur keberhasilan. Akibatnya, berlomba-lomba lah mereka untuk mendapatkan materi dengan cepat, instan. Salah? Mungkin!

Sebetulnya, seberapa besar “keuntungan sebesar-besarnya” yang mereka dapatkan? Mari kita coba berhitung. Ambil contoh, sebotol minuman bersoda harganya 2.500 perak. Pedagang eceran pada umumnya mendapatkan untung sekitar 1.000 perak per botol. Jika sehari saja terjual habis 50 botol maka ada keuntungan 50.000 perak. Bagaimana jika membuat minuman bersoda “sulapan”? Keuntungannya bisa naik menjadi 1.500 – 2.000 perak per botol. Artinya perbedaan antara menjalankan usaha secara benar dengan usaha hasil sulapan, selisih yang didapat per hari hanya 25.000 – 50.000 rupiah saja. Hanya seharga secangkir kopi di mal!

Kemampuan mereka untuk mendapatkan “keuntungan sebesar-besarnya” memang hanya dibawah 50.000 sehari, jauh lah dari pendapatan para pengusaha menengah apalagi pengusaha besar, tetapi kita tentu bisa membayangkan betapa dahsyat daya rusaknya. Pengaruh pada kesehatan yang diabaikan karena mengonsumsi zat-zat yang tidak jelas, kerugian yang diderita oleh para pelaku usaha yang produknya dipalsukan, dan yang lebih parah adalah pada sikap mental pelaku-pelaku usaha tadi yang menghalalkan segala cara.

Butuh Role Model Yang Positif

Mereka tentu saja tidak buta dan tuli. Setiap hari mereka juga mendapat informasi baik dari membaca atau mendengar, sehingga mereka juga tahu bagaimana tingkah polah pengusaha lain yang lebih besar dari dirinya berperilaku. Kita juga tahu, apa yang paling sering diekspos oleh media cetak dan elektronik kita, perilaku buruknya. Pengusaha yang kaya raya karena kongkalikong dengan penguasa, karena pembalakan liar, karena penyelundupan, karena menjual barang haram, dan semuanya aman-aman saja tanpa tersentuh hukum. Tidak hanya sampai di situ saja, para penguasa dan birokratpun tidak lepas dari pengamatan mereka. Birokrat baik di pemerintahan maupun anggota Dewan, yang tidak jauh berbeda perilakunya seperti pengusaha di atas.

Mungkin dari sana lah mereka “belajar”. Belajar bagaimana mendapat untung besar dengan mudah lewat usaha atau pekerjaannya tanpa merasakan apakah cara yang digunakan benar atau salah. Kita boleh saja marah dan tidak terima, tetapi dengan segala keterbatasannya memang begitulah cara mereka belajar, dengan “meniru” apa yang menjadi contoh bagi mereka.

Dengan penuh kesadaran, kita pasti tidak ingin orang-orang ini tumbuh menjadi pengusaha yang menghalalkan segala cara dan membuat kerusakan yang lebih luas lagi. Kita juga paham, mereka butuh banyak role model atau contoh yang memberikan nilai-nilai positif. Oleh karenanya, sudah menjadi tanggungjawab kita berusaha untuk memberikannya.

Di iklim berusaha yang boleh dibilang sebagian besar masih abu-abu saat ini, kita juga tidak menafikkan bahwa boleh jadi sebagian kita pun “pernah” terkontaminasi oleh hal-hal yang negatif. Bersyukurlah Pembaca, jika Anda tidak pernah terkontaminasi! Tetapi apa pun yang telah terjadi, kita harusnya bersepakat bahwa kebutuhan role model yang positif, yang memberikan contoh dan inspirasi yang baik buat lingkungannya, sungguh kita perlukan.

Rasanya sumber-sumber role model itu pantasnya memang kita sendiri yang mampu mewujudkannya. Dan untuk hal ini tidak juga harus berfikir atau berharap bahwa suatu hari nanti kita akan disorot sebagai role model yang baik. Percaya saja, bahwa sebetulnya setiap hari pun kita akan selalu disorot menjadi role model, baik itu oleh karyawan kita, rekan-rekan bisnis kita, atasan kita dan bahkan lingkungan dimana kita berada. Pada dasarnya, kita lah si role model itu!

Hari ini kita sudah memasuki awal tahun yang baru, tidakkah ada keinginan untuk berbisnis dengan bersih tahun ini?

Dimuat di Kontan Harian, Sabtu, tgl. 12 Januari 2008