jump to navigation

Jurnalisme Rating dan Sensasi Desember 19, 2008

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu.
Tags: , ,
1 comment so far

Sebuah keluarga baru saja kena musibah, salah satu anggota keluarganya bunuh diri terjun dari lantai 8 sebuah gedung Universitas karena sudah 8 tahun tidak lulus jadi sarjana. Karena ini dianggap punya “nilai berita” maka wartawan TV pun bergegas mewancarai pada sumber paling utama. Ditunggui rumahnya sampai malam bahkan pagi. Dikejar-kejar si sumber berita sampai dapat. Semua anggota keluarga diam walau microphone sudah disodor-sodorkan ke mulutnya. Sampai akhirnya terucap dengan wajah kesal bercampur sedih, “Kalian itu bagaimana? Orang lagi sedih kena musibah kok dipaksa wawancara? Kalian apa nggak punya hati?”

Miris, mendengar dan melihatnya…

Di lain acara, seringkali seorang nara sumber yang ahli sekalipun dihabisi oleh pewawancaranya dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing “sebuah jawaban yang diharapkan”, yaitu jawaban yang memiliki nilai berita tinggi dan kalau bisa bikin geger. Nara sumber “dipaksa” sedemikian rupa dengan pertanyaan bertubi-tubi, bahkan sebelum satu pertanyaan selesai dijawab, sudah dipotong dengan pertanyaan berikutnya. Teror-horor pertanyaan ini, tentu saja membuat orang tertekan. Begitu mendapat “sebuah jawaban yang diharapkan” walau cuma sepenggal, wawancara segera ditutup, penjelasan nara sumber dipotong.

Miris, mendengar dan melihatnya…

Lain lagi, ada yang lebih heboh. Apa lagi kalau bukan acara yang namanya infotainment. Berlindung pada premis bahwa semua yang masuk infotainment adalah public figure, maka wartawan dengan gampang atau “menggampangkan” menyorot semua tingkah laku, harta benda, atau apapun namanya milik seorang ‘yang dianggap’ sebagai public figure adalah “milik publik”, yang artinya publik berhak tahu. Sampai-sampai, nomor sepatu, mobilnya nyicil atau pinjaman, tidur jam berapa, dugem dimana, publik “berhak tahu”. Bahkan dengan menggunakan kecanggihan teknologi, menggunakan kamera tersembunyi atau dengan sengaja mengambil gambar-gambar dengan lensa tele. Rasanya susah membedakan mana yang wilayah publik dan mana yang wilayah pribadi.

Miris, mendengar dan melihatnya

Ada sesuatu yang mengusik, ada apa ya dengan jurnalisme (TV) kita? Ada apa dengan kawan-kawan wartawan?

Memang, kalau melihat perkembangan jumlah stasiun televisi kita, sungguh luar biasa. Bukan cuma di Jakarta, tetapi di tingkat propinsi pun sudah banyak yang muncul. Jadinya, kalau kita mencet remote control untuk memilih channel, angka-angka yang sampai 9 sudah terlewati. Akibatnya? Persaingan merebut pemirsa jadi meninggi.

Merebut pemirsa sudah jadi tujuan utama, top of the top. Dengan logika sederhana, penonton yang banyak akan mengundang pengiklan lebih banyak. Peng-iklan yang lebih banyak membuat pundi-pundi penerimaan jadi lebih banyak. Biaya operasional tertutupi, biaya pengembangan tersedia, bonus-bonus bertambah. Kalau ditanya, mana buktinya pemirsa TV stasiun tertentu banyak? Jawaban paling gampang ya… menggunakan rating.

Nah, sampai di sini jadilah semuanya mengejar rating… ting… ting… ting… Kalau bisa setinggi mungkin. Bagaimana caranya? Bahasa atau solusi indah-nya, tentu dengan membuat program-program yang bagus, yang menarik minat pemirsa lebih banyak, yang informatif -karena orang pada dasarnya butuh informasi- dan edukatif -karena orang pada dasarnya juga seneng belajar-.

Cuma sayangnya, eksekusi programnya kebanyakan meleset dari tujuan membuat program bagus. Karena orang butuh informasi dan harus menarik maka munculah infotainment. Dan karena harus menarik pemirsa sebanyak-banyaknya, maka dicari dan dikemaslah dengan sensasional. Lha, orang kan akan berhenti sejenak, terhenyak, atau berkumpul berdiskusi ketika ada sensasi. Maka, ketiga cerita di atas itu pun tercipta.

Kita tentu menaruh hormat dan apresiasi yang tinggi untuk teman-teman wartawan untuk segala dedikasinya memberikan kita informasi yang luar biasa cepat dan dibutuhkan. Tetapi kalau hanya untuk mengejar rating dan menciptakan sensasi, kok ya sayang amat. “Media televisi hanya mengejar rating, sedangkan media massa cetak hanya mengejar profit atau keuntungan,” begitu kata Pak Rosihan Anwar seusai menerima penghargaan ‘Life Time Achievement’ atau ‘Prestasi Sepanjang Hayat di Jakarta’ dari PWI Pusat. (dikutip dari kapanlagi.com, 15/05/07).

Mbok ya-o… alias kalau saja… tujuan utamanya bukan rating dan sensasi… kita tentu nggak perlu merasa miris. Saya lalu mencari-cari “pegangan” teman-teman wartawan. Jangan-jangan pandangan dan celoteh saya di atas ngawur dan salah. Jadi saya kutip saja tulisan Mas Samsuri (www.dewanpers.org, 16/11/06):

Kode Etik Jurnalistik (2006) meminta wartawan untuk menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik. Apakah itu kepentingan publik, kode etik juga tidak mendefinisikannya. Dalam penjelasan hanya disebutkan “menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya berarti menahan diri dan berhati-hati”. Sedangkan kehidupan pribadi merupakan kehidupan seseorang dan keluarganya yang tidak ingin diungkap, kecuali seseorang itu yang menginginkannya atau terkait kepentingan publik.

Wartawan yang menghormati kehidupan pribadi berarti tidak memaksa artis (saya membacanya: seseorang) untuk menjawab pertanyaan, tidak menggedor-gedor pintu mobil, mengintai, menyodorkan pertanyaan yang sama sekali tak berdasar data atau fakta. Karena, jikapun wartawan mendapatkan berita dengan cara demikian, saya yakin berita yang didapatkannya tak lebih sebagai sebuah pergunjingan, kebohongan, dan pembodohan.

Saya manggut-manggut. Mantab bleh.. tulisan Mas Samsuri ini.

Ayo… Cinta Produksi Indonesia Desember 15, 2008

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu.
Tags: , ,
5 comments

logoppiKalau diperhatikan, setiap hari Jumat, memakai batik kini sudah menjadi kebiasaan bagi umumnya “orang kantoran”. Hari Jumat memang hari krida, hari untuk berolah-raga senam-ria, atau hari untuk bersih-bersih. Hari “agak santai”. Setelah itu, batik-an kembali. Bukan saja semangat badannya atau mbody-nya, tapi juga jiwanya. Memakai batik harusnya perwujudan dari cinta Indonesia and cinta produk Indonesia, bukan sekedar diperintah atasan atau peraturan.

Krisis Keuangan Global alias KKG memang sungguh-sungguh merontokkan berbagai sendi ekonomi dan produksi hampir di seluruh dunia. Wong namanya juga Global, mulai dari biang kerok krisis negeri Paman Sam, sampai merembet ke Eropa, lalu Asia, termasuk negeri kita tercinta, Indonesia.

Menurut pengamatan para ahli ekonomi, krisis KKG akan mulai kelihatan nyata imbasnya pada mulai kuartal ke-2 tahun 2009, artinya sekitar bulan April. Salah satuya adalah PHK besar-besaran. Banyaknya perusahaan tutup karena banyak produk tak terjual. Permintaan dari luar negeri anjlok. Bahasa serem-nya, ekonomi bergerak seperti keong siput. Lambat.

Sebetulnya ekonomi bisa juga kita buat lebih cepat bahkan normal. Tapi ada syaratnya tentu, yaitu semua harus bahu membahu, membantu apa yang kita bisa bantu, walau sedikit juga tak mengapa. Masing-masing kita menjadi roda gigi kecil yang kalau bergerak bersama pasti bisa menggerakkan roda gigi ekonomi yang lebih besar.

Bayangkan seberapa besar Indonesia? Sabang sampai Merauke itu hampir sama jaraknya dengan Inggris sampai Rusia, alias hampir satu Eropa. Atau juga sama dengan jarak pantai barat sampai pantai timur Amerika. Artinya, kita sebetulnya pantas dan mampu “menggerakkan ekonomi sendiri”. Lha khan wilayah Indonesia kita sama se-Eropa atau se-Amrik.

Jadi kuncinya, menggerakkan roda kecil, menggerakkan ekonomi sendiri. Cara yang paling mudah adalah menggunakan barang yang diproduksi oleh teman kita yang pengusaha kecil, teman kita yang punya pabrik, teman kita yang punya warung, teman kita yang punya barang dagangan dan usaha, teman kita yang punya sayur mayur, teman kita yang punya tambang dan mineral, dan teman-teman kita yang lain. Yang penting, hasil produk bangsa sendiri, hasil produk dari bumi kita sendiri.

Nah, sebetulnya bukan cuma batik yang jadi obyek kecintaan produk Indonesia, ada beribu produk lain yang bisa diperlakukan serupa.

Walau begitu, ada juga yang perlu kita cermati yaitu serbuan barang China. Apalagi sekarang ketika pasar produk Cina di Eropa dan Amerika mengkerut. Sudah pasti China akan memindahkan pasarnya di tempat lain, negeri kita salah satunya. Sebelum KKG saja di KRL Jabotabek dengan mudah kita temui barang-barang CIna dengan harga yang bikin geleng-geleng kepala karena murahnya. Pak Sofyan Wanandi juga bilang 70-80% barang yang dijual di Mangga Dua dan Tanah Abang adalah buatan China, Kalau begini, seberapa besar kesanggupan pengusaha kita melawannya? Pengusaha pasti tidak bisa melawan sendirian, kita sebagai konsumen juga harus ikut cawe-cawe alias ikut berperan, dengan mencintai dan menggunakan produk sendiri.

Teman saya mas Handito, yang pakar branding dan ketua Branding Indonesia, juga bilang bahwa kampanye Cinta Produksi Indonesia sudah lama digaungkan. Malah sudah mengikutsertakan swasta dan pemerintah. Rasanya perlu di-refresh lagi itu, Mas.

Ayo dong Bu Marie Pangestu, Pak Fahmi Idris, Bu Sri Mulyani, buat kebijakan yang mendukung pengusaha kita, menjaga teritori kita dari penyelundupan barang-barang CIna yang sudah pasti tahun 2009 bakal tambah marak.
Terakhir, (dikutip dari Kapanlagi.com 15Nov06), mari kita renungkan ucapan Kepala Bagian Humas Koperasi Perkampungan Industri Kecil (KOPIK), Chairuddin, “Bagaimana pengusaha kecil bisa maju kalau rakyat Indonesia sendiri tidak bangga kepada barang produksinya sendiri. Jadi pemerintah jangan hanya lips service saja, implementasikan juga kebijakan yang pro terhadap pengusaha kecil, entah bagaimana bentuknya.”

Yang pasti, mulai sekarang, mulai hari ini, Ayolah kita pakai produk bangsa sendiri.

Jakarta, tenggelem aje lu! Desember 1, 2008

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu.
1 comment so far

 

Menelusuri kota Jakarta belakangan ini memang harus pandai-pandai menjaga neraca hati. Setidaknya timbangan kesabaran harus terus ditambahi, karena berat timbangan kesebelan juga terus saja bertambah.

Apa yang membuat kesebelan bertambah? Banjir! Tepatnya banjir di jalan-jalan! Contohnya, jam 2pm minggu lalu selesai meeting di Salemba, dokar bermesin meluncur ke arah Casablanca karena harus mampir ke FedEx sebelum balik kantor di Pasar Rebo. Lewat jalur Diponegoro terus ke Sudirman, ternyata dari mulai Dukuh Atas kondisi lalu lintas sudah pamer susu alias padat merayap susul menyusul, terutama sepeda motor. Kesimpulan, macet! Sebel pertama.

Keluar dari FedEx, hujan sudah mulai turun rintik-rintik. Ketika putar balik arah langit mencurahkan seluruh air matanya alias hujan lebat. Seperti biasa masuk terowongan harus antri karena jalan cuma bisa dilewati satu lajur, satunya lagi untuk “parkir dan berteduh” para biker. Menjelang Tebet, jalan di depan hilang. Lho kok hilang?

Rupanya jalan sudah menjadi lautan air. Kalau membayangkan ini seperti kanal di Venesia kok ya kebangetan. Ternyata “kanal” Jakarta ini terus sambung-menyambung sampai by pass. Di by pass sampai di Cawang, ternyata “kanal”-nya ada lagi. Top abiss Man!! Begitu kata anak muda sekarang.

Sepanjang jalan, kepala jadi penuh pertanyaan. Kenapa bisa begini? Sambil tengok kanan-kiri mencari jawaban. Selain jawaban yang “normatif” seperti: tanah Jakarta lebih rendah dari permukaan laut, kanal banjir Timur belum selesai, hujan kali ini intensitasnya lebih tinggi dari tahun lalu, dan bla bla bla lainnya, jawaban yang sederhana di depan mata adalah urusan saluran air. Cuma ada dua, salurannya tersumbat alias mampet alias tidak berfungsi, dan memang tidak ada salurannya di sisi kiri-kanan jalan.

Persoalannya mungkin bukan cuma alasan karena tutup saluran yang di”kunci” oleh masyarakat atau digunakan oleh pedagang kaki lima sehingga tidak bisa dilakukan perawatan dan pengerukan. Tetapi lebih jauh dari itu adalah cara pembangunan jalannya.

Dulu sekitar masih tahun 80-an, rasanya setiap pembangunan jalan pasti juga dengan saluran airnya. Artinya, kontraktor jalan yang harus membangun keduanya secara bersamaan. Tapi entah mengapa, sekarang keduanya dibangun secara terpisah dan sudah dapat dipastikan tidak bakal sinkron dan amburadul ketika digunakan. Entah nanti jalan cepat rusak karena tidak ada penahan di kedua sisinya, yang sudah pasti air tidak punya jalan mengalir. Entah juga karena dikerjakan kontraktor yang berbeda sehingga tinggi saluran dan tinggi jalan nggak pas. Atau persoalan lainnya. Anda mau membuat daftarnya?

Urusan kontraktor alias proyek ini yang membuat runyam. Atas dasar apa dipisah? Apa alasannya karena anggaran yang terbatas? Apa alasannya bagi-bagi rezeki (dibaca: proyek)? Yang paling tidak kan karena jumlah kontraktor sekarang sudah buanyak, maka atas dasar pemerataan rezeki, pembangunan jalan (dengan salurannya) kini dipecah sehingga kontraktor jalan dan kontraktor saluran dapat bagian.

Distribusi alias cipratan rezeki ini, seperti kita ketahui bersama (dibaca dengan nada intonasi Butet menirukan pak Harto), tentu akan mengalir juga sampai jauh dari mulai marketing fee hingga kick-back. Pemerataan itu penting, sehingga “kenyamanan” ini dipertahankan sampai sekarang. Tentu saja ini pola pikir ngawur, mencari pembenaran atas nama p-e-m-e-r-a-t-a-a-n.

Ternyata urusan pecah-memecah proyek bukan cuma di jalan saja, banyak di sektor dan program-program lain juga sama. Misalnya, di Jakarta kita sering temui bongkar pasang jalan dari instansi yang berbeda. Hari ini pasang kabel listrik, seminggu lagi giliran kabel telepon serat optik, dua minggu lagi saluran dibersihkan. Pokoknya gali. Padahal kalau saja mau berkoordinasi, sudah pasti bisa efisien. Alasan anggaran tidak cukup, kalau efisien kan juga bisa terpenuhi.

Nah, kalau di ibukota yang kita cintai ini pola bongkar pasang jalan seperti ini terus. Ya, jangan berharap banyak jalan-jalan Jakarta jadi tetap aman dari banjir ketika hujan. Kalau ini tidak diubah juga, jangan kaget kalau ada yang menggerutu. Jakarta, tenggelem aje lu!

 

Tanah Baru, Depok, 1 Desember 2008