jump to navigation

Tentang Negeri Bernama Israel Januari 13, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.
Tags: , , , , , , ,
7 comments

israel-usa“Know your enemy” begitu Sun Tzu bilang dalam kitab perangnya, The Art of War.

Seminggu ini kita dibombardir oleh berita-berita mengenai penyerbuan militer Israel ke Jalur Gaza di Palestine. Sudah ratusan orang yang meninggal dan ribuan yang terluka.  Tentu perasaan geram, marah dan jengkel bercampuraduk, melihat polah negeri Zionis ini. Ini sekedar catatan dari berbagai sumber yang berhasil dikumpulkan, seperti apa negeri Israel itu, terutama ekonomi dan kekuatannya, mengikuti apa yang Tun Szu bilang pada kutipan di atas.

 

Sekilas tentang Israel

Setelah Perang Dunia II selesai, atas bantuan pemimpin-pemimpin Inggris dan Amerika Serikat saat itu, Israel didirikan sebagai negera yang berdaulat. Setelah itu, maka dimulailah pencaplokan tanah-tanah Arab, hingga luasnya dalam posisi yang sekarang ini. Israel kini memiliki luas kurang lebih 139.327 km2, sedangkan Palestine kini hanya memiliki luas kurang lebih 41.725 km2. (Catatan: sumber data selalu menggunakan istilah occupied territories untuk menyebut Palestine, karena Palestine belum menjadi sebuah negara -state-).

Penduduk Israel mencapai 7,1 juta jiwa, penduduk Palestine 3,4 juta dan yang dipengasingan 4,5 juta jiwa. Israel termasuk sebagai negeri yang berpendapatan tinggi (World Bank). Data tahun 2008, pendapatan tahunan nasional mencapai USD 120 milyar, sedangkan occupied territories Palestine (kok sedih ya.. menulis kata ‘occupied territories’. Berikutnya saya pakai kata Palestine saja) hanya USD 2,9 milyar, atau sekitar seperempatpuluhsatunya. Sedangkan jika dihitung pendapatan per kapita, Israel sekitar USD 20.000 sedangkan Palestine hanya USD 850, kira-kira seperduapuluhempat kali.

 

Ekonomi Israel

Karena sumber daya alam yang dimiliki Israel (sebetulnya juga Palestine) terbatas, maka strategi utama yang diterapkan adalah meningkatkan kemampuan untuk mengkapitalisasi ketrampilan yang tinggi, terdidik, dan inovatif. Hampir 64% dari pendapatan domestik kotornya (GDP) berasal dari sektor pengembangan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) tingkat tinggi, disusul 32% industri lainnya dan 3% pertanian. Karena negeri ini fokus pada sektor high-tech maka riset dan pengembangan (R&D) dan tenaga kerja yang high-skilled menjadi sumber investasi yang utama. Sebagai contoh, hampir 300 perusahaan untuk medical device tercatat di Israel dan lebih dari setengahnya masuk dalam life science industry.

Dalam strategi industri global, tentu bidang yang dipilih Israel sudah tepat dan bahkan akan menjadi pemain utama yang sustainable mengingat di masa datang peran industri komunikasi dan teknologi informasi bakal menjadi pemegang utama perekonomian. Artinya, secara teoritis Israel akan semakin kuat dan aman secara ekonomi.

Ekonomi Israel tumbuh di atas 5% (2008), meski demikian negeri ini sangat tergantung pada Amerika Serikat. Dalam data perdagangan tahun 2007, tercatat mitra eksport utama adalah AS (41%), Belgia (9%), Hongkong (7%) dan Inggris (4%). Sedangkan mitra impor utama adalah AS (14%), Belgia (8%), Jerman (6%) dan China (6%).

Jadi jelas terlihat bagaimana Israel menjaga hubungannya dengan AS, begitu juga sebaliknya. Dalam data yang lain, bantuan keuangan tahunan dari AS (Annual US Financial Aid) untuk Israel mencapai USD 5 milyar sedangkan untuk otoritas Palestine, AS hanya membantu sebesar US 50 juta saja. Lagi-lagi, Israel mendapat bantuan 100 kali lipat dibanding Palestine.

Jadi jelas, ekonomi Israel tetap akan kuat. Arus investasi tentu akan mudah masuk karena jenis industri yang dipilih negara itu fit dengan masa depan. Hal yang bisa mengganggu adalah ketidakstabilan keamanan di negara itu. Makin banyak berkonflik (misal dengan Palestine, Iran, Syria dan Lebanon) tentu akan meningkatkan country risk buat Israel, belum lagi menurut beberapa pengamat landskap politik di negeri ini sangat tidak stabil.

 

Siapa Doyan Membantu Israel?

Sudah pasti Amerika Serikat. Lihat data mitra utama ekspor maupun mitra utama impor, lihat juga data bantuan keuangan yang diberikan. Tetapi yang lebih hebat lagi adalah bantuan militer AS kepada Israel. Berapa jumlahnya?

16 Agustus 2007, Pemerintah AS dan Israel menandatangani MoU mengenai menaikkan bantuan militer bilateral kepada Israel menjadi USD 30 milyar hingga 10 tahun ke depan, dan ini naik 25% dari tahun-tahun sebelumnya. Sebelum menaikkan bantuan militer ini, Israel telah menjadi negara terbesar yang menerima bantuan AS. Merujuk pada Congressional Research Services, sejak tahun 1949, AS telah menyediakan dana lebih dari USD 53 milyar untuk bantuan militer, kurang sedikit dari setengah bantuan total untuk Israel yaitu lebih dari USD 101 milyar (2007).

Barangkali memang yang bisa “menghentikan” Israel adalah saudara tuanya, Amerika Serikat. Tentu saja, harapan besar setidaknya ada pada Presiden AS yang baru, Barrack Obama. Tapi apa betul harapan itu pantas dititipkan padanya?

 

Berharap pada Obama?

Tadinya saya berpikir ada yang bisa diharapkan dari Obama. Hanya saja, beberapa cuplikan hasil browsing-an saya membuat saya harus berpikir ulang. Fakta-fakta mengenai Obama yang saya dapat dari National Jewish Democratic Council (NJDC) dan newsletter kampanye Obama-Biden menyebutkan bahwa Obama merupakan senator yang memiliki voting record pro-Israel yang sempurna dalam Senat AS dan memiliki catatan baik sebagai true friends of Israel.

Obama menjadi salah satu co-sponsor untuk the Palestinian Anti-Terorism Act of 2006. Ia menjadi salah satu yang menandatangani surat untuk Uni Eropa untuk menambahkan Hezbollah dalam daftar grup teroris. Ia juga menyebut Hamas sebagai teroris (New York Times, 16 Mei 2008).

Satu lagi, jauh sebelum Obama menjadi Presiden, ia berdeklarasi pada konferensi NJDC (saya kutip saja langsung), “When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel in search of this peace and in defense against those who seek its destruction,” (Philadelphia Jewish Voice, July 2007).

 

Dear my friends, begitu lah celoteh saya minggu ini, mencermati apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di Palestine minggu ini. Mungkin juga belum berhenti. Entah sampai kapan…    

Ada Sabotase pada (Ekonomi) Kita? Januari 5, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.
Tags: , , , , , , ,
4 comments

panen1Memilih kata “sabotase” buat Catatan Akhir Minggu ini perlu beberapa waktu untuk menimbang-nimbangnya. Bukan apa-apa, mendengar kata “sabotase” rasanya kok menyeramkan. Jadi lebih bagus dicari dulu apa artinya yang kurang lebih seperti ini: Sabotase adalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi, penghambatan, pengacauan dan/atau penghancuran. Kenapa “sabotase” jadi catatan?

Dari definisinya saja sudah dapat diketahui bahwa hasil dari sebuah sabotase adalah kekacauan, ada sesuatu yang terhambat atau bahkan hancur, dan kelemahan (boleh jadi belum mati). Setidaknya dalam catatan saya minggu ini, ada 3 hal yang boleh digarisbawahi, yaitu benih, pupuk dan BBM.
Urusan pertama terkait benih alias bibit, baik jagung maupun padi. Di beberapa tempat banyak petani kita yang kelabakan ketika tahu bibit yang ditanamnya palsu. Bagaimana tidak, beliau-beliau ini telah merawat tanaman hingga masa panen tiba. Cuma yang didapat adalah bulir padi yang kosong tak berisi atau bonggol jagung yang tidak berbiji. Habis sudah harapan untuk memanen padi atau jagung di ladangnya. Bukan cuma itu, kita juga tahu petani seringkali berhutang dahulu untuk membiayai tanamannya dengan harapan ketika panen, hutang tersebut terbayar dan petani memiliki sedikit kelebihan untuk mencukupi hidupnya.

Urusan kedua terkait pupuk. Kita sudah baca berita di media cetak dan televisi, bagaimana pupuk menjadi barang langka. Kelangkaan ini menyebabkan petani-petani nekat “membobol” gudang pupuk, “membajak” truk pengangkut pupuk, mereka tidak peduli sistem distribusi. Yang jelas mereka mendapatkan pupuk dan tidak dengan menjarah, karena mereka tetap bayar di tempat.

Bagaimana bisa urusan bibit dan pupuk bisa kacau? Kalau diurut-urut memang banyak yang instansi atau pihak-pihak yang ikut terkait. Mulai dari hulu, penghasil bibit, pabrik-pabrik pupuk, distributor, Departemen Pertanian, Bulog, sampai instansi pendukung macam Badan Meteorogi dan Geofisika. Tidak adakah koordinasi antar mereka? Bukankah musim tanam bisa diprediksi? Informasi prakiraan cuaca datang dari BMG, kebijakan pangan dari Deptan, informasi kebutuhan pupuk tentu bisa diketahui oleh pabrik-pabrik pupuk. Kalau informasi tidak dapat dimanfaatkan, tentu saja celah ini digunakan “para petualang” bermain menarik keuntungan lewat bibit palsu, pupuk palsu, menimbun pupuk dan lain sebagainya.

Yang jelas, kekacauan ini sudah mengganggu. Dalam skala mikro tentu petani-petani kita yang paling terganggu, bukan hanya perkara tanamannya, tetapi sudah kehidupan dan penghidupannya. Dalam skala makro, kita pasti bisa membayangkan harga beras yang tinggi karena susah dicari, kalau sudah menyangkut urusan perut tentu apapun bisa dan mau dilakukan agar tetap bisa hidup alias survive.. Yang repot kalau yang pendek imannya, wah bisa lebih berabe… Belum lagi ditambah ada upaya mengoplos beras dengan menir (alias beras pecah yang biasa untuk pakan ayam). Beberapa waktu lalu ada beritanya dari daerah Banten.

Urusan ketiga adalah urusan BBM (B-a-h-a-n—B-a-k-a-r—M-i-n-y-a-k). Sudah banyak kita tahun ini membaca dan melihat bagaimana saudara-saudara kita ngantri minyak tanah, lalu dilanjutkan dengan gas elpiji yang 3 Kg. Eee.. minggu ini, tahun baru, premium alias bensin ikut langka.
Bukan masalah kelangkaannya yang “mulai biasa” kita dengar dan lihat, tapi efeknya itu my friends.. Ongkos angkut naik, akibatnya harga barang-barang naik, yang lebih hebat, tensi darah juga naik, akibatnya orang bisa berantem gara-gara tidak sabar mengantri. Nah, ini juga kekacauan namanya.

Bibit, pupuk, BBM itu saja hanya 3 komponen yang berpengaruh banyak terhadap penghidupan orang banyak, yang lebih besar tentu pada ekonomi masyarakat banyak. Balik ke definisi di atas, maka pantas juga kita menyebut bahwa ekonomi kita kok bisa saja disabotase. Lalu siapa yang menyabot?

Sebetulnya siapapun yang membuat kekacauan ekonomi ini terjadi, dia berpotensi sebagai penyabot. Pembuat bibit-bibit palsu, pembuat pupuk-pupuk palsu, penimbun pupuk, pengoplos beras, penimbun BBM adalah seorang penyabot. Jangan lupa, perancang kebijakan yang pada akhirnya kebijakannya tidak jalan karena tujuannya sekedar ingin menaikkan angka-angka agar terlihat cantik secara statistik di mata masyarakat, dia juga berpotensi sebagai penyabot ekonomi.

Orang-orang ini, sudah semestinya menjadi musuh kita bersama.

Semoga kita -secara tidak sadar maupun sadar- tidak menjadi penyabot yang melakukan “sabotase kolektif”.