jump to navigation

Ada Sabotase pada (Ekonomi) Kita? Januari 5, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.
Tags: , , , , , , ,
trackback

panen1Memilih kata “sabotase” buat Catatan Akhir Minggu ini perlu beberapa waktu untuk menimbang-nimbangnya. Bukan apa-apa, mendengar kata “sabotase” rasanya kok menyeramkan. Jadi lebih bagus dicari dulu apa artinya yang kurang lebih seperti ini: Sabotase adalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi, penghambatan, pengacauan dan/atau penghancuran. Kenapa “sabotase” jadi catatan?

Dari definisinya saja sudah dapat diketahui bahwa hasil dari sebuah sabotase adalah kekacauan, ada sesuatu yang terhambat atau bahkan hancur, dan kelemahan (boleh jadi belum mati). Setidaknya dalam catatan saya minggu ini, ada 3 hal yang boleh digarisbawahi, yaitu benih, pupuk dan BBM.
Urusan pertama terkait benih alias bibit, baik jagung maupun padi. Di beberapa tempat banyak petani kita yang kelabakan ketika tahu bibit yang ditanamnya palsu. Bagaimana tidak, beliau-beliau ini telah merawat tanaman hingga masa panen tiba. Cuma yang didapat adalah bulir padi yang kosong tak berisi atau bonggol jagung yang tidak berbiji. Habis sudah harapan untuk memanen padi atau jagung di ladangnya. Bukan cuma itu, kita juga tahu petani seringkali berhutang dahulu untuk membiayai tanamannya dengan harapan ketika panen, hutang tersebut terbayar dan petani memiliki sedikit kelebihan untuk mencukupi hidupnya.

Urusan kedua terkait pupuk. Kita sudah baca berita di media cetak dan televisi, bagaimana pupuk menjadi barang langka. Kelangkaan ini menyebabkan petani-petani nekat “membobol” gudang pupuk, “membajak” truk pengangkut pupuk, mereka tidak peduli sistem distribusi. Yang jelas mereka mendapatkan pupuk dan tidak dengan menjarah, karena mereka tetap bayar di tempat.

Bagaimana bisa urusan bibit dan pupuk bisa kacau? Kalau diurut-urut memang banyak yang instansi atau pihak-pihak yang ikut terkait. Mulai dari hulu, penghasil bibit, pabrik-pabrik pupuk, distributor, Departemen Pertanian, Bulog, sampai instansi pendukung macam Badan Meteorogi dan Geofisika. Tidak adakah koordinasi antar mereka? Bukankah musim tanam bisa diprediksi? Informasi prakiraan cuaca datang dari BMG, kebijakan pangan dari Deptan, informasi kebutuhan pupuk tentu bisa diketahui oleh pabrik-pabrik pupuk. Kalau informasi tidak dapat dimanfaatkan, tentu saja celah ini digunakan “para petualang” bermain menarik keuntungan lewat bibit palsu, pupuk palsu, menimbun pupuk dan lain sebagainya.

Yang jelas, kekacauan ini sudah mengganggu. Dalam skala mikro tentu petani-petani kita yang paling terganggu, bukan hanya perkara tanamannya, tetapi sudah kehidupan dan penghidupannya. Dalam skala makro, kita pasti bisa membayangkan harga beras yang tinggi karena susah dicari, kalau sudah menyangkut urusan perut tentu apapun bisa dan mau dilakukan agar tetap bisa hidup alias survive.. Yang repot kalau yang pendek imannya, wah bisa lebih berabe… Belum lagi ditambah ada upaya mengoplos beras dengan menir (alias beras pecah yang biasa untuk pakan ayam). Beberapa waktu lalu ada beritanya dari daerah Banten.

Urusan ketiga adalah urusan BBM (B-a-h-a-n—B-a-k-a-r—M-i-n-y-a-k). Sudah banyak kita tahun ini membaca dan melihat bagaimana saudara-saudara kita ngantri minyak tanah, lalu dilanjutkan dengan gas elpiji yang 3 Kg. Eee.. minggu ini, tahun baru, premium alias bensin ikut langka.
Bukan masalah kelangkaannya yang “mulai biasa” kita dengar dan lihat, tapi efeknya itu my friends.. Ongkos angkut naik, akibatnya harga barang-barang naik, yang lebih hebat, tensi darah juga naik, akibatnya orang bisa berantem gara-gara tidak sabar mengantri. Nah, ini juga kekacauan namanya.

Bibit, pupuk, BBM itu saja hanya 3 komponen yang berpengaruh banyak terhadap penghidupan orang banyak, yang lebih besar tentu pada ekonomi masyarakat banyak. Balik ke definisi di atas, maka pantas juga kita menyebut bahwa ekonomi kita kok bisa saja disabotase. Lalu siapa yang menyabot?

Sebetulnya siapapun yang membuat kekacauan ekonomi ini terjadi, dia berpotensi sebagai penyabot. Pembuat bibit-bibit palsu, pembuat pupuk-pupuk palsu, penimbun pupuk, pengoplos beras, penimbun BBM adalah seorang penyabot. Jangan lupa, perancang kebijakan yang pada akhirnya kebijakannya tidak jalan karena tujuannya sekedar ingin menaikkan angka-angka agar terlihat cantik secara statistik di mata masyarakat, dia juga berpotensi sebagai penyabot ekonomi.

Orang-orang ini, sudah semestinya menjadi musuh kita bersama.

Semoga kita -secara tidak sadar maupun sadar- tidak menjadi penyabot yang melakukan “sabotase kolektif”.

About these ads

Komentar»

1. Ispinardi Harjanto - Januari 5, 2009

Hi Bram,

Menarik pendekatannya untuk menghubungkan antara
– “siapapun yang membuat kekacauan ekonomi ini terjadi, dia berpotensi sebagai penyabot”
dengan
– arti dari sabotase itu sendiri “Sabotase adalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi, penghambatan, pengacauan dan/atau penghancuran”.

Jadi ingin tahu, siapa yang sebenarnya melakukan sabotase itu dan siapa musuhnya?

Sukses terus ya…

rgds
Ispinardi Harjanto – wm34

2. erikson - Januari 6, 2009

knapa ya menjelang pemilu ada saja keanehan2 dalam kebutuhan2 vital masyarakat banyak? pasti ulah lawan2 politik sby untuk menurunkan popularitas ny sbg presiden..mmh..cara2 lama..membosankan.

3. Pungki M Kusuma...WM57 - Januari 8, 2009

selalu saja ada ulah dari penyabot…yang ujung-ujungnya adalah untuk mengutamakan kepentingan pribadi dan organisasi yang mereka ikuti…
tidak pernah memikirkan kepentingan rakyat kecil,
bukankah kita harus berterima kasih kepada para petani yang selama ini menjadi pahlawan bagi kita semua, tetapi mereka (petani) tidak pernah diperhatikan nasibnya oleh para “penyabot”….
saya setuju dengan pendapat penulis, “Semoga kita -secara tidak sadar maupun sadar- tidak menjadi penyabot yang melakukan “sabotase kolektif”….amien…

4. HaryKin MM23 - Januari 12, 2009

Sebenarnya kita semua sudah mengetahui siapa-siapa penyabotase itu, namun kalau kita sebut oknum rasanya kok seperti menunjuk gunung menyebut gundukan, karena oknum kesannya 1-2 orang saja, namun realitasnya merupakan organisasi rapi dan besar yang kolektif dan tidak bersubyek.

Menumpasnya? Kita juga sebenarnya tahu, namun takut untuk bertindak. Mereka kuat, besar, lebih garang dari kita yang mencari kebenaran dan keadilan. Lebih baik cari aman…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: