jump to navigation

Scolari, Bankir dan Reputasi Februari 24, 2009

Posted by abdinagoro in Leadership, Tidak terkategori.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

scolari1Bulan ini ada beberapa peristiwa penting terkait dengan sepak terjang dan apa yang dialami  seorang eksekutif atau pemimpin yang kemungkinan besar akan mempengaruhi reputasinya. Yang pertama adalah beberapa orang eksekutif perbankan dari bank ternama di Amerika yang dengan sadar tetap mendapatkan bonus akhir tahun meski tahu perusahaannya mendapat suntikan dana bantuan dari pemerintah akibat krisis keuangan global. Yang kedua adalah Luiz Felipe Scolari, pelatih klub sepak bola Chelsea yang baru saja dipecat oleh pemilik klub meski dia seorang pelatih yang dikenal mampu membuat Brazil menjadi juara sepak bola dunia dan Portugal menjadi juara Eropa.

Keduanya bagi publik tentu bukan sosok yang asing. Nama bank dan nama kesebelasan yang dipimpinnya sudah sangat dikenal, begitu juga dengan personal pemimpin tersebut. Bankir tersebut tentu sudah melewati prestasi yang bagus hingga mampu menduduki kursi kepemimpinan di bank ternama. Begitu juga dengan Scolari, track record-nya di kancah persepakbolaan tingkat dunia juga memiliki prestasi yang luar biasa.

Hanya saja, sepak terjang para bankir itu rasanya melukai nilai kepatutan yang ada. Bagaimana mungkin mereka berperilaku seperti itu? Sedangkan bagi Scolari, pemecatan itu menambah catatan kurang mengesankan bagi prestasinya. Ujung-ujungnya, peristiwa kedua pemimpin dan eksekutif itu menjadikan reputasinya berpotensi buruk.

 

Membangun Reputasi

Reputasi merupakan asosiasi publik terhadap seseorang, dalam bahasa sederhana, apa yang publik nilai dan katakan terhadap seseorang. Umumnya reputasi dibangun dan dicapai pada suatu masa yang cukup panjang, karenanya reputasi bukanlah merupakan prestasi sesaat. Pendorong utama reputasi adalah pengalaman dan pencapaian dari hari-ke-hari, terutama pada realisasi bentuk janji-janji yang telah dicanangkan. Oleh karenanya, publik memiliki ekspektasi terhadap janji tersebut, dan penilaian mereka datang dari seberapa konsisten janji-janji itu terealisasi.

Publik, terutama konsumen, tentu berharap para eksekutif perbankan mampu mengatasi dan membantu mereka dalam mengatasi krisis keuangan yang dihadapi, seperti yang ditulis dalam laporan tahunan. Publik, terutama penggemar dan supporter kesebelasan Chelsea, juga berhadap masuknya Big Phil mampu mendongkrak prestasi Chelsea, seperti yang ditunjukkan reputasinya dalam mengelola sebuah kesebelasan.

Tapi apa daya, peristiwa di atas, seakan-akan menghentikan prestasi dan reputasi yang telah ada sebelumnya. Meski pencapaian secara personal dari segi finansial cukup besar, Scolari misalnya diperkirakan mendapat kompensasi senilai 240 milyar rupiah, tetapi tetap saja telah terstempel kata pemecatan. Apakah reputasinya menjadi berkurang bahkan cacat? Boleh jadi.

 

Reputasi dan Masa Depan 

Dalam bukunya, Trust, Rita C O’Brien menyebut setidaknya ada tiga komponen yang menjadi dasar sebuah reputasi, yaitu: kompetensi, konsistensi dan integritas. Kompetensi merupakan reputasi yang didapat dari pengetahuan, pengalaman dan kemampuan seseorang yang terus terakumulasi. Konsistensi dan integritas menjadi dasar atas sebuah kepercayaan -trust- antara seseorang dengan publik.

Meski reputasi dapat dibangun melalui program-program public relation atau kehumasan, tetapi hal itu bukan menjadi yang utama, karena pada dasarnya kompetensi, konsistensi dan integritas personal lah yang memegang peran. Selain itu, bisa saja media pe-er seperti media massa malah berperan sebaliknya yaitu dengan memberitakan hal-hal buruk sehingga reputasi bisa terganggu.

Dua kasus di atas bisa saja akan berakibat berbeda pada reputasi masing-masing. Para bankir tentu akan memiliki reputasi lebih buruk dibanding Scolari. Hal yang paling dilanggar para bankir itu dalam menjaga reputasinya adalah integritas. Padahal kita tahu, integritas adalah kekuatan moral atau prinsip, kebenaran dan kejujuran. Para bankir dalam penilaian publik sudah tidak patut menerima bonus besar sementara publik dalam kondisi menderita. Sedangkan Scolari boleh jadi akan memiliki reputasi yang lebih baik, karena tidak melanggar integritas.

Arah masa depan keduanya tentu juga akan berbeda. Siapa yang percaya dan mau merekrut bankir dengan perilaku seperti itu? Berbeda dengan Scolari yang dapat diperkirakan tidak akan lama menganggur. O’Brien juga menyebut bahwa kepercayaan -trust- dibangun berdasarkan reputasi.

Sebentar lagi, kita pun akan memilih orang-orang yang menjadi wakil kita di DPRD, DPR maupun pemimpin negara ini untuk masa 5 tahun ke depan. Seberapakah kita menilai reputasi mereka?

Ayah dan Ibu, Biarkan Saya Bersepeda Sepuasnya… Februari 10, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.
Tags: , , ,
add a comment

 

 

spedaan

Kring kring naik sepeda

Sepedaku roda dua

Ku dapat dari ayah

Karena rajin bekerja…

 

Mungkin Anda pernah mendengar lagu itu ketika masih kanak-kanak. Dan sambil mengendarai sepeda, kita menyanyikan lagu itu bersama teman-teman. Ya… bersepeda kini mulai kembali ramai digemari semua orang.

Baru minggu lalu, kawan-kawan saya dari komunitas Sepeda Untuk Sekolah (SUS) berhasil menyebarkan “wabah” bersepeda di kalangan anak sekolah. Tidak tanggung-tanggung sudah ratusan sepeda telah di sebar baik di sekitar Jabotabek maupun Surabaya… (Terima kasih mas Danang, mas Toto, mas Nanang, dan kawan-kawan semua atas usahanya).

Peristiwa ini mengingatkan saya akan pengalaman bersepeda. Sepeda pertama yang saya dapat tentu saja waktu masih SD, sehabis sunat! Jujur saja bersepeda menjadikan saya mengenal lingkungan tempat tinggal lebih luas lagi. Melewati gang-gang sempit di Dukuh Atas, sampai ke kuburan Karet. Atau kadang bersama kawan-kawan kecil sampai juga di Senayan atau Pasar Tanah Abang. Kulit bertambah hitam, semerbak harum bau matahari!

Begitu juga ketika menjalani SMP dan SMA, ketika harus tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur, bersepeda juga menyenangkan. Dua puluh empat kilometer total yang harus ditempuh pulang pergi dari rumah ke sekolah. Tapi bersepeda tetap asyik. Beriringan bersama teman seperjalanan, dengan pak tani yang membawa cangkul dan padi, dengan mbok-mbok penjual dagangan di pasar, tentu saja dengan kawan satu sekolah. Kadang-kadang rute perjalanan diubah biar tak membosankan, walau lebih jauh.

 

Mengenal Lingkungan dengan Sepeda

Satu hal yang pasti lewat kayuhan sepeda, saya punya lingkungan lebih jauh. Bisa mengenal orang-orang lebih banyak. Belajar berdisiplin, lewat bersepeda yang benar. Masa kecil menjadi lebih menyenangkan.

Kini tentu berbeda. Anak-anak banyak “dikurung” di dalam rumah. Hanya bermain komputer dengan game-nya atau play station. Banyak pula yang dibanjiri oleh mainan, atau tugas-tugas sekolah, sehingga anak tidak banyak bergerak. Padahal betapa banyaknya peristiwa, pelajaran, dan belajar hidup yang banyak didapat dari lingkungan yang lebih luas.

Bersosialisasi, belajar tertib berlalu lintas dan sekaligus berolah raga menjadi hasil dari bersepeda. Makin banyak mengayuh sepeda, makin jauh pula mengayuh hidup dan kehidupan.

Ayah dan Ibu, berilah saya sepeda. Biarkan saya bersepeda sepuasnya, biar bisa terbang seperti di film ET. Biarkan saya mengenal lingkungan lebih luas lagi..

 

 

 

Banjir Wajah Tidak Dikenal Februari 2, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Marketing.
Tags: , , , , ,
add a comment

ambition1Hujan minggu lalu hampir merata di seluruh bumi Indonesia, BMG juga memprediksi sampai minggu ini hujan akan masih terus dalam kondisi yang sama. Hujan datang, banjir tiba. Tapi saya tidak akan membahas banjir air ini, dalam catatan akhir minggu ini saya mau membahas banjir yang lain, yaitu banjir caleg.

Sepanjang jalan hampir di semua kota dan daerah kini bertebaran spanduk, baliho, selebaran, poster dan lainnya yang mengisi hampir di semua sudut-sudut dan ruang kosong yang ada. Merah, kuning, hijau, biru, oranye, putih dengan sebentuk wajah serius atau diserius-seriuskan, sedikit senyum atau dipaksa tersenyum, berwajah ramah atau mencoba diramah-ramahkan para calon legislative atau caleg yang sebentar lagi ikut Pemilu. Di sepanjang perjalanan dari Puncak menuju Cianjur lalu ke arah Kademangan-Cikalong Kulon, di malam yang gelap setidaknya saya dan kawan-kawan “tertolong” oleh poster putih yang dipaku di tiap-tiap batang pohon, paling tidak untuk jadi penanda jalan.

Tapi ini betul. Lihat saja sekarang, setiap yang namanya benda yang berbentuk silinder atau tiang atau pohon, pasti sudah “habis” dipaku, ditempel, dibelit oleh yang namanya poster atau spanduk dan kawan-kawannya. Betapa banyaknya. Bersaing dengan iklan-iklan komersial yang memang juga telah banyak bertebaran di sana. Sebuah artikel menyebutnya sebagai teror visual. Saya atau Anda terteror? Iya juga sih..

 

Promosi atau Kampanye?

Rupanya para caleg masih tetap meyakini jargon lama “tak kenal maka tak sayang”, jadi cara yang dianggap paling efektif adalah mempromosikan diri. Maka metode above the line -begitu bahasa keren-nya- digeber habis-habisan, yang penting wajah bertebaran dan masyarakat kenal. Kenal? Ah… belum tentu. Paling tinggi juga baru pada tahap “tahu”.

Tapi ya… sudahlah. Toh para caleg barangkali masih dalam tahap promosi, jadi komunikasinya masih satu arah. Masalah efektif tidaknya, tentu belum terbukti. Calon pemilih kan juga bukan orang-orang bodoh yang percaya begitu saja terhadap iklan-iklan itu. Masa kampanye tentu yang lebih berat dan kompleks. Ketika aturan suara terbanyak digunakan, maka bukan saja si caleg bersaing dengan caleg dari partai lain, tetapi dari partai sendiri persaingan juga tidak kalah seru. Makanya, di beberapa partai, banyak juga caleg-caleg baru yang digeser atau dicoret hanya karena caleg “lama” mau posisinya aman. Walau begitu, caleg dengan “nomor peci” sekarang tidak bisa ngongkang-ngongkang kaki. Mau tidak mau mereka juga harus “merebut” pemilih. Saat kampanye jadi saat yang penting, komunikasi dua arah menjadi jauh lebih penting ketimbang memasang poster.

 

Bagaimana Kondisi Pemilih?

Harus diakui, ada kekhawatiran banyaknya pemilih yang apatis terhadap Pemilu. Banyak yagn merasa “ada tidak ada pemilu” sama saja, tidak akan banyak mengubah kehidupan dan penghidupannya. Pe-er yang besar buat para caleg, KPU, dan penyelenggara negara.

Yang penting juga, tentu harus dicari cara “jual diri” yang lebih baik dan efektif bagi para caleg. Promosi above the line yang saya ceritakan di atas, sudah tentu banyak memakan biaya. Biaya design, biaya cetak, biaya pasang, juga biaya sosial karena adu ngotot urusan bongkar-pasang spanduk, perkelahian karena rebutan tempat strategis, juga terutama teror visual tadi.

Menjelang Pemilu sudah dapat dipastikan para caleg akan mengeluarkan jurus terakhirnya. Semoga para pemilih juga tidak kembali “terteror”. Bukan itu saja, semoga juga tidak merusak keindahan kota atau daerah. Mau lihat pemandangan apa, kalau tiap jalan, lorong dan gang penuh dan banjir dengan gambar caleg. Seberapa banyak juga dari caleg itu yang kita kenal? Pemilih juga pasti tidak akan memilih para caleg yang sudah merusak pemandangan kota atau daerah, yang merusak pohon-pohon di jalanan, apa lagi sampai merusak lingkungan baik alam maupun sosial.

Sekarang saja sudah ada pemilih yang protes, berita foto di harian KOMPAS, beberapa minggu lalu menggelitik saya. Spanduk besar menghiasi sebuah jalan dengan tulisan besar-besar “Siapa Kenal Lu?”

Nah lho…