Jenderal Nagabonar atawa Haji Romlie atawa Bang Jack Nyapres.. Maret 3, 2009
Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Leadership.Tags: bang jack, capres, deddy mizwar, haji romlie, jenderal nagabonar, moral, sinetron
trackback
Pemilu 2009 memang sudah waktunya mulai “panas”. Walaupun tahapannya baru pada sampai pemilu legislatif, tetapi calon presiden alias capres sudah juga diributkan. Maka bermunculan lah nama capres-capres, mulai yang sekarang jadi presiden, lalu ada mantan presiden, ada juga yang pemilu lalu juga jadi capres sekarang nyapres lagi, dan tentu saja ada muka-muka baru. Nah, di antara muka baru, muncul si Jendral Nagabonar alias Deddy Mizwar yang ikutan jadi capres. Yang ini jadi catatan mingguan saya kali ini, karena jadi diskusi yang panjang dan seru di rumah.
Mengenai kepopuleran dan ketokohan Deddy Mizwar, sudah barang tentu tidak perlu ditanya lagi. Siapa tidak kenal beliau? Bintang filem atau aktor yang menyabet sekian banyak penghargaan. Kepopuleran dan ketokohan tentu bisa untuk menjadi sebagian modal buat nyapres. Tetapi sebagian besar orang rumah malah menanyakan dan menyayangkan beliau ikut nyapres. Jadilah saya menyelami benak pikiran orang rumah.
Antara Simbol dan Hak Konstitusi
Saya dan orang rumah memang bersepakat bahwa peran yang dibawakan Deddy Mizwar luar biasa mewarnai dan menyisakan sesuatu pada kepala penonton filem atau sinetron setiap kali menontonnya. Siapa yang tidak bangkit rasa nasionalismenya ketika menonton Jenderal Nagabonar beraksi? Dan tentu kita menarik banyak nilai-nilai positif seperti kejujuran, kesederhanaan, religiusitas pada Mat Angin, pada Haji Romlie di Kiamat Sudah Dekat, dan Bang Jack pada Para Pencari Tuhan.
Nilai-nilai itu dan masih banyak hal positif lainnya, masuk menyerap di kepala dan hati kita dengan enak, baik secara sadar maupun tidak. Tanpa harus merasa digurui, karena kadang dikemas dalam humor yang cerdas. Pada akhirnya, sosok Mat Angin, Haji Romlie dan Bang Jack menjadi semacam simbol panutan dan penjaga moral kita. Sehingga tidak salah juga ketika sosok Deddy Mizwar pun akibatnya ikut menjadi sosok dan simbol penjaga moral penyejuk hati. Simbol ini bukan membesar-besarkan atau ketinggian, tapi memang itu yang dirasakan. Maka ketika Deddy Mizwar nyapres, pertanyaan pun muncul. Lha kalau yang menjaga moral ikut turun gelanggang, siapa dong yang berperan menjadi penjaga moral?
Tentu saja, kita tidak bisa membelenggu Deddy Mizwar untuk tidak nyapres. Kita harus menghargai hak konstitusi beliau untuk dipilih. Barangkali, beliau merasa sempit jika hanya memperjuangkan moral di level sinetron atau filem. Dengan jadi presiden, boleh jadi medan pertempuran menjadi lebih luas, juga dengan lewat media struktural mungkin perjuangannya jadi lebih efektif.
Ah, tapi seberapa efektif? Tidak ada yang pasti apakah lewat struktural lebih baik dibanding dengan lewat informal. Bukannya sruktural dapat dimaknai macam-macam? Jangan-jangan tarikan syahwat kekuasaan jadi lebih besar, sehingga dinilai menjadi tidak netral lagi alias membawa kepentingan-kepentingan tertentu.
Episode Baru
Saya bisa membayangkan kalau Haji Romlie atau Bang Jack diminta jadi penjaga moral, dia akan menjawab, “Emang cuman gue doang yang jagain moral lu-lu pada? Banyak panggede-panggede atau orang laen yang lebih tinggi pangkatnye yang bisa lu minta buat njagain lu. Gue mah terlalu kecil buat yang kayak begituan”.
Tapi nama Deddy Mizwar atau Jenderal Nagabonar atau Haji Romlie atau Bang Jack terlanjur sudah besar dan jadi simbol. Itu juga yang kita harap beliau juga pahami. Atau jangan-jangan beliau sedang membuat “menguji” moral kita dengan membuat “sinetron” episode baru?
kita wajib menghargai niat yang baik daris eorang Deddy, ini juga bukti kalau capres yang ada selama ini sudah menjemukan mata kita..itu lagi-itu lagi