Menebak Perilaku Pemilih Kita Maret 15, 2009
Posted by abdinagoro in Consumer Behavior, Strategic Management.Tags: emotional voter, inpulsive buyer, kampanye, parpol, pemilih, pemilu, perilaku pembeli, product involvement
trackback

Sembilan April mendatang, semua rakyat Indonesia diberi kesempatan untuk memilih para wakilnya di DPRD/DPR dan DPD. Persiapan menyambut hari tersebut sudah banyak dilakukan baik oleh KPU, partai politik maupun kandidat calon-calon anggota legislatif. Sudah hampir setahun ini, masyarakat disodorkan begitu banyak gambar, poster, iklan yang mengajak mereka untuk memilihnya, dan satu bulan terakhir ini kegiatan promosi dari berbagai media ini menjadi semakin gencar.
Yang menarik dan menjadi perhatian bersama adalah masyarakat dihadapi oleh pilihan yang banyak. Jumlah parpol yang ikut dalam Pemilu kali ini banyaknya 38. Ditambah dengan aturan baru suara terbanyak, maka pilihan masyarakat juga sesuai dengan jumlah calegnya. JIka dihitung dalam satu daerah pilihan, bisa sampai puluhan juga. Bagaimana masyarakat memilih?
Tinjauan Perilaku Pembeli
Masyarakat sebetulnya akan menghadapi hal yang biasa ditemui dan dilakukan sehari-hari, yaitu mengambil keputusan untuk memilih sesuatu, bisa barang atau jasa. Hanya saja tentu ada perbedaan yang mendasar bagi masyarakat dalam memilih kali ini. Ada tiga hal berbeda dibanding aktivitas memilih biasa yang dapat mempengaruhi keputusan pemilih saat itu, yaitu pertama jumlah produk atau pilihan sangat banyak dan boleh jadi sebagian besar tidak mengenal produk atau pilihannya, kedua, tidak seperti pembeli pada umumnya, pemilih yang berperilaku sebagai pembeli akan mengambil keputusan memilih (atau membeli) dalam kurun waktu yang singkat -sehari- dan dilakukan bersamaan dengan pemilih atau pembeli lain, dan ketiga, pemilih tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk menentukan pilihannya dan tidak secara langsung mendapatkan manfaat atas pilihannya itu sehingga tidak ada tuntutan produk harus bagus dan konsumen merasa terpuaskan. Pendekatan terhadap perilaku pembeli (buyer behavior) terhadap pemilih barangkali bisa dijadikan alat untuk memprediksi bagaimana pemilih nanti memutuskan pilihannya.
Dengan menggunakan matriks, setiap pemilih dihadapkan pada banyak pilihan sejalan dengan banyaknya kandidat dan parpol peserta Pemilu. Setidaknya ada 5 kelompok besar kondisi memilih yang juga dapat merefleksikan peta persaingan yang ada yaitu, (1) memilih caleg dari parpol yang sama, atau (2) memilih caleg dari parpol berbeda. Dan pada kondisi dimana pemilih kurang mengenal calegnya maka pemilih akan dihadapkan pada kondisi untuk memilih caleg atau parpol, dengan alternatif (3) memilih antara caleg A dan parpol A, artinya berdasar asal yang sama, (4) memilih antara caleg A dengan parpol B, artinya berdasar asal berbeda, dan (5) memilih parpol.
Yang dihadapi pemilih nanti adalah produk berupa parpol dan caleg dengan pilihan yang banyak dan tingkat pengetahuan pemilih terhadap produk tersebut juga bervariasi. Sebagian besar diperkirakan tidak mengetahui dan memahami pilihan calegnya, akibatnya product involvement pemilih terhadap caleg menjadi minim. Padahal product involvement merupakan hal penting dalam proses pengambilan keputusan dan perilaku pembelian konsumen. Dalam kondisi dimana pemilih menimbang antara caleg versus parpol, product involvement pemilih pada parpol diperkirakan akan lebih tinggi karena lebih mudah diingat, apalagi pada parpol-parpol lama.
Kondisi pemilih yang dibatasi waktu yang singkat yaitu sehari dan dilakukan secara bersama-sama, juga mempengaruhi pemilih. Pemilih cenderung akan menjadi seorang impulsive buyer yaitu seorang yang membeli atau memilih secara tidak berencana dan tanpa melakukan evaluasi yang mendalam, atau bisa jadi karena ikut-ikutan pada membeli atau memilih yang lain. Penyebab impulsive buyer juga diakibatkan karena pengetahuan yang rendah terhadap produk yang akan dipilihnya.
Dengan demikian dapat ditebak ada beberapa perilaku pemilih yang akan terjadi pada saat hari pemilihan nanti. Pertama, ada kecenderungan pemilih akan memilih atau mencontreng parpol dibanding caleg karena product involvement pada parpol lebih tinggi dibanding caleg. Kedua, parpol lama akan lebih dikenali sehingga diperkirakan akan tetap mendapatkan suara yang signifikan dibanding parpol baru.
Waktu Yang Menentukan
Waktu yang tersisa memang tinggal sedikit. Tentu masih banyak yang dapat dilakukan oleh para caleg untuk berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan pemilih. Para caleg harus mampu “menjual” dirinya dan mampu lebih memberi kesan bagi pemilihnya, artinya product involvement dinaikkan. Banyak cara untuk melakukannya, menggunakan pendekatan emosional bisa jadi lebih efektif karena pada umumnya masyarakat adalah pemilih yang emosional (emotional voter).
DImuat di Harian KONTAN (dengan diedit), 12 Maret 2009
Komentar»
No comments yet — be the first.