jump to navigation

Jenderal Nagabonar atawa Haji Romlie atawa Bang Jack Nyapres.. Maret 3, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Leadership.
Tags: , , , , , ,
1 comment so far

nagabonar2Pemilu 2009 memang sudah waktunya mulai “panas”. Walaupun tahapannya baru pada sampai pemilu legislatif, tetapi calon presiden alias capres sudah juga diributkan. Maka bermunculan lah nama capres-capres, mulai yang sekarang jadi presiden, lalu ada mantan presiden, ada juga yang pemilu lalu juga jadi capres sekarang nyapres lagi, dan tentu saja ada muka-muka baru.  Nah, di antara muka baru, muncul si Jendral Nagabonar alias Deddy Mizwar yang ikutan jadi capres. Yang ini jadi catatan mingguan saya kali ini, karena jadi diskusi yang panjang dan seru di rumah.

Mengenai kepopuleran dan ketokohan Deddy Mizwar, sudah barang tentu tidak perlu ditanya lagi. Siapa tidak kenal beliau? Bintang filem atau aktor yang menyabet sekian banyak penghargaan. Kepopuleran dan ketokohan tentu bisa untuk menjadi sebagian modal buat nyapres. Tetapi sebagian besar orang rumah malah menanyakan dan menyayangkan beliau ikut nyapres. Jadilah saya menyelami benak pikiran orang rumah.

 

Antara Simbol dan Hak Konstitusi

Saya dan orang rumah memang bersepakat bahwa peran yang dibawakan Deddy Mizwar luar biasa mewarnai dan menyisakan sesuatu pada kepala penonton filem atau sinetron setiap kali menontonnya. Siapa yang tidak bangkit rasa nasionalismenya ketika menonton Jenderal Nagabonar beraksi? Dan tentu kita menarik banyak nilai-nilai positif seperti kejujuran, kesederhanaan, religiusitas pada Mat Angin, pada Haji Romlie di Kiamat Sudah Dekat, dan Bang Jack pada Para Pencari Tuhan.

Nilai-nilai itu dan masih banyak hal positif lainnya, masuk menyerap di kepala dan hati kita dengan enak, baik secara sadar maupun tidak. Tanpa harus merasa digurui, karena kadang dikemas dalam humor yang cerdas. Pada akhirnya, sosok Mat Angin, Haji Romlie dan Bang Jack menjadi semacam simbol panutan dan penjaga moral kita. Sehingga tidak salah juga ketika sosok Deddy Mizwar pun akibatnya ikut menjadi sosok dan simbol penjaga moral penyejuk hati. Simbol ini bukan membesar-besarkan atau ketinggian, tapi memang itu yang dirasakan. Maka ketika Deddy Mizwar nyapres, pertanyaan pun muncul. Lha kalau yang menjaga moral ikut turun gelanggang, siapa dong yang berperan menjadi penjaga moral?

Tentu saja, kita tidak bisa membelenggu Deddy Mizwar untuk tidak nyapres. Kita harus menghargai hak konstitusi beliau untuk dipilih. Barangkali, beliau merasa sempit jika hanya memperjuangkan moral di level sinetron atau filem. Dengan jadi presiden, boleh jadi medan pertempuran menjadi lebih luas, juga dengan lewat media struktural mungkin perjuangannya jadi lebih efektif.

Ah, tapi seberapa efektif? Tidak ada yang pasti apakah lewat struktural lebih baik dibanding dengan lewat informal. Bukannya sruktural dapat dimaknai macam-macam? Jangan-jangan tarikan syahwat kekuasaan jadi lebih besar, sehingga dinilai menjadi tidak netral lagi alias membawa kepentingan-kepentingan tertentu.  

 

Episode Baru

Saya bisa membayangkan kalau Haji Romlie atau Bang Jack diminta jadi penjaga moral, dia akan menjawab, “Emang cuman gue doang yang jagain moral lu-lu pada? Banyak panggede-panggede atau orang laen yang lebih tinggi pangkatnye yang bisa lu minta buat njagain lu. Gue mah terlalu kecil buat yang kayak begituan”.

Tapi nama Deddy Mizwar atau Jenderal Nagabonar atau Haji Romlie atau Bang Jack terlanjur sudah besar dan jadi simbol. Itu juga yang kita harap beliau juga pahami. Atau jangan-jangan beliau sedang membuat “menguji” moral kita dengan membuat “sinetron” episode baru?

Ayah dan Ibu, Biarkan Saya Bersepeda Sepuasnya… Februari 10, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.
Tags: , , ,
add a comment

 

 

spedaan

Kring kring naik sepeda

Sepedaku roda dua

Ku dapat dari ayah

Karena rajin bekerja…

 

Mungkin Anda pernah mendengar lagu itu ketika masih kanak-kanak. Dan sambil mengendarai sepeda, kita menyanyikan lagu itu bersama teman-teman. Ya… bersepeda kini mulai kembali ramai digemari semua orang.

Baru minggu lalu, kawan-kawan saya dari komunitas Sepeda Untuk Sekolah (SUS) berhasil menyebarkan “wabah” bersepeda di kalangan anak sekolah. Tidak tanggung-tanggung sudah ratusan sepeda telah di sebar baik di sekitar Jabotabek maupun Surabaya… (Terima kasih mas Danang, mas Toto, mas Nanang, dan kawan-kawan semua atas usahanya).

Peristiwa ini mengingatkan saya akan pengalaman bersepeda. Sepeda pertama yang saya dapat tentu saja waktu masih SD, sehabis sunat! Jujur saja bersepeda menjadikan saya mengenal lingkungan tempat tinggal lebih luas lagi. Melewati gang-gang sempit di Dukuh Atas, sampai ke kuburan Karet. Atau kadang bersama kawan-kawan kecil sampai juga di Senayan atau Pasar Tanah Abang. Kulit bertambah hitam, semerbak harum bau matahari!

Begitu juga ketika menjalani SMP dan SMA, ketika harus tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur, bersepeda juga menyenangkan. Dua puluh empat kilometer total yang harus ditempuh pulang pergi dari rumah ke sekolah. Tapi bersepeda tetap asyik. Beriringan bersama teman seperjalanan, dengan pak tani yang membawa cangkul dan padi, dengan mbok-mbok penjual dagangan di pasar, tentu saja dengan kawan satu sekolah. Kadang-kadang rute perjalanan diubah biar tak membosankan, walau lebih jauh.

 

Mengenal Lingkungan dengan Sepeda

Satu hal yang pasti lewat kayuhan sepeda, saya punya lingkungan lebih jauh. Bisa mengenal orang-orang lebih banyak. Belajar berdisiplin, lewat bersepeda yang benar. Masa kecil menjadi lebih menyenangkan.

Kini tentu berbeda. Anak-anak banyak “dikurung” di dalam rumah. Hanya bermain komputer dengan game-nya atau play station. Banyak pula yang dibanjiri oleh mainan, atau tugas-tugas sekolah, sehingga anak tidak banyak bergerak. Padahal betapa banyaknya peristiwa, pelajaran, dan belajar hidup yang banyak didapat dari lingkungan yang lebih luas.

Bersosialisasi, belajar tertib berlalu lintas dan sekaligus berolah raga menjadi hasil dari bersepeda. Makin banyak mengayuh sepeda, makin jauh pula mengayuh hidup dan kehidupan.

Ayah dan Ibu, berilah saya sepeda. Biarkan saya bersepeda sepuasnya, biar bisa terbang seperti di film ET. Biarkan saya mengenal lingkungan lebih luas lagi..

 

 

 

Banjir Wajah Tidak Dikenal Februari 2, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Marketing.
Tags: , , , , ,
add a comment

ambition1Hujan minggu lalu hampir merata di seluruh bumi Indonesia, BMG juga memprediksi sampai minggu ini hujan akan masih terus dalam kondisi yang sama. Hujan datang, banjir tiba. Tapi saya tidak akan membahas banjir air ini, dalam catatan akhir minggu ini saya mau membahas banjir yang lain, yaitu banjir caleg.

Sepanjang jalan hampir di semua kota dan daerah kini bertebaran spanduk, baliho, selebaran, poster dan lainnya yang mengisi hampir di semua sudut-sudut dan ruang kosong yang ada. Merah, kuning, hijau, biru, oranye, putih dengan sebentuk wajah serius atau diserius-seriuskan, sedikit senyum atau dipaksa tersenyum, berwajah ramah atau mencoba diramah-ramahkan para calon legislative atau caleg yang sebentar lagi ikut Pemilu. Di sepanjang perjalanan dari Puncak menuju Cianjur lalu ke arah Kademangan-Cikalong Kulon, di malam yang gelap setidaknya saya dan kawan-kawan “tertolong” oleh poster putih yang dipaku di tiap-tiap batang pohon, paling tidak untuk jadi penanda jalan.

Tapi ini betul. Lihat saja sekarang, setiap yang namanya benda yang berbentuk silinder atau tiang atau pohon, pasti sudah “habis” dipaku, ditempel, dibelit oleh yang namanya poster atau spanduk dan kawan-kawannya. Betapa banyaknya. Bersaing dengan iklan-iklan komersial yang memang juga telah banyak bertebaran di sana. Sebuah artikel menyebutnya sebagai teror visual. Saya atau Anda terteror? Iya juga sih..

 

Promosi atau Kampanye?

Rupanya para caleg masih tetap meyakini jargon lama “tak kenal maka tak sayang”, jadi cara yang dianggap paling efektif adalah mempromosikan diri. Maka metode above the line -begitu bahasa keren-nya- digeber habis-habisan, yang penting wajah bertebaran dan masyarakat kenal. Kenal? Ah… belum tentu. Paling tinggi juga baru pada tahap “tahu”.

Tapi ya… sudahlah. Toh para caleg barangkali masih dalam tahap promosi, jadi komunikasinya masih satu arah. Masalah efektif tidaknya, tentu belum terbukti. Calon pemilih kan juga bukan orang-orang bodoh yang percaya begitu saja terhadap iklan-iklan itu. Masa kampanye tentu yang lebih berat dan kompleks. Ketika aturan suara terbanyak digunakan, maka bukan saja si caleg bersaing dengan caleg dari partai lain, tetapi dari partai sendiri persaingan juga tidak kalah seru. Makanya, di beberapa partai, banyak juga caleg-caleg baru yang digeser atau dicoret hanya karena caleg “lama” mau posisinya aman. Walau begitu, caleg dengan “nomor peci” sekarang tidak bisa ngongkang-ngongkang kaki. Mau tidak mau mereka juga harus “merebut” pemilih. Saat kampanye jadi saat yang penting, komunikasi dua arah menjadi jauh lebih penting ketimbang memasang poster.

 

Bagaimana Kondisi Pemilih?

Harus diakui, ada kekhawatiran banyaknya pemilih yang apatis terhadap Pemilu. Banyak yagn merasa “ada tidak ada pemilu” sama saja, tidak akan banyak mengubah kehidupan dan penghidupannya. Pe-er yang besar buat para caleg, KPU, dan penyelenggara negara.

Yang penting juga, tentu harus dicari cara “jual diri” yang lebih baik dan efektif bagi para caleg. Promosi above the line yang saya ceritakan di atas, sudah tentu banyak memakan biaya. Biaya design, biaya cetak, biaya pasang, juga biaya sosial karena adu ngotot urusan bongkar-pasang spanduk, perkelahian karena rebutan tempat strategis, juga terutama teror visual tadi.

Menjelang Pemilu sudah dapat dipastikan para caleg akan mengeluarkan jurus terakhirnya. Semoga para pemilih juga tidak kembali “terteror”. Bukan itu saja, semoga juga tidak merusak keindahan kota atau daerah. Mau lihat pemandangan apa, kalau tiap jalan, lorong dan gang penuh dan banjir dengan gambar caleg. Seberapa banyak juga dari caleg itu yang kita kenal? Pemilih juga pasti tidak akan memilih para caleg yang sudah merusak pemandangan kota atau daerah, yang merusak pohon-pohon di jalanan, apa lagi sampai merusak lingkungan baik alam maupun sosial.

Sekarang saja sudah ada pemilih yang protes, berita foto di harian KOMPAS, beberapa minggu lalu menggelitik saya. Spanduk besar menghiasi sebuah jalan dengan tulisan besar-besar “Siapa Kenal Lu?”

Nah lho…

Tentang Negeri Bernama Israel Januari 13, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.
Tags: , , , , , , ,
7 comments

israel-usa“Know your enemy” begitu Sun Tzu bilang dalam kitab perangnya, The Art of War.

Seminggu ini kita dibombardir oleh berita-berita mengenai penyerbuan militer Israel ke Jalur Gaza di Palestine. Sudah ratusan orang yang meninggal dan ribuan yang terluka.  Tentu perasaan geram, marah dan jengkel bercampuraduk, melihat polah negeri Zionis ini. Ini sekedar catatan dari berbagai sumber yang berhasil dikumpulkan, seperti apa negeri Israel itu, terutama ekonomi dan kekuatannya, mengikuti apa yang Tun Szu bilang pada kutipan di atas.

 

Sekilas tentang Israel

Setelah Perang Dunia II selesai, atas bantuan pemimpin-pemimpin Inggris dan Amerika Serikat saat itu, Israel didirikan sebagai negera yang berdaulat. Setelah itu, maka dimulailah pencaplokan tanah-tanah Arab, hingga luasnya dalam posisi yang sekarang ini. Israel kini memiliki luas kurang lebih 139.327 km2, sedangkan Palestine kini hanya memiliki luas kurang lebih 41.725 km2. (Catatan: sumber data selalu menggunakan istilah occupied territories untuk menyebut Palestine, karena Palestine belum menjadi sebuah negara -state-).

Penduduk Israel mencapai 7,1 juta jiwa, penduduk Palestine 3,4 juta dan yang dipengasingan 4,5 juta jiwa. Israel termasuk sebagai negeri yang berpendapatan tinggi (World Bank). Data tahun 2008, pendapatan tahunan nasional mencapai USD 120 milyar, sedangkan occupied territories Palestine (kok sedih ya.. menulis kata ‘occupied territories’. Berikutnya saya pakai kata Palestine saja) hanya USD 2,9 milyar, atau sekitar seperempatpuluhsatunya. Sedangkan jika dihitung pendapatan per kapita, Israel sekitar USD 20.000 sedangkan Palestine hanya USD 850, kira-kira seperduapuluhempat kali.

 

Ekonomi Israel

Karena sumber daya alam yang dimiliki Israel (sebetulnya juga Palestine) terbatas, maka strategi utama yang diterapkan adalah meningkatkan kemampuan untuk mengkapitalisasi ketrampilan yang tinggi, terdidik, dan inovatif. Hampir 64% dari pendapatan domestik kotornya (GDP) berasal dari sektor pengembangan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) tingkat tinggi, disusul 32% industri lainnya dan 3% pertanian. Karena negeri ini fokus pada sektor high-tech maka riset dan pengembangan (R&D) dan tenaga kerja yang high-skilled menjadi sumber investasi yang utama. Sebagai contoh, hampir 300 perusahaan untuk medical device tercatat di Israel dan lebih dari setengahnya masuk dalam life science industry.

Dalam strategi industri global, tentu bidang yang dipilih Israel sudah tepat dan bahkan akan menjadi pemain utama yang sustainable mengingat di masa datang peran industri komunikasi dan teknologi informasi bakal menjadi pemegang utama perekonomian. Artinya, secara teoritis Israel akan semakin kuat dan aman secara ekonomi.

Ekonomi Israel tumbuh di atas 5% (2008), meski demikian negeri ini sangat tergantung pada Amerika Serikat. Dalam data perdagangan tahun 2007, tercatat mitra eksport utama adalah AS (41%), Belgia (9%), Hongkong (7%) dan Inggris (4%). Sedangkan mitra impor utama adalah AS (14%), Belgia (8%), Jerman (6%) dan China (6%).

Jadi jelas terlihat bagaimana Israel menjaga hubungannya dengan AS, begitu juga sebaliknya. Dalam data yang lain, bantuan keuangan tahunan dari AS (Annual US Financial Aid) untuk Israel mencapai USD 5 milyar sedangkan untuk otoritas Palestine, AS hanya membantu sebesar US 50 juta saja. Lagi-lagi, Israel mendapat bantuan 100 kali lipat dibanding Palestine.

Jadi jelas, ekonomi Israel tetap akan kuat. Arus investasi tentu akan mudah masuk karena jenis industri yang dipilih negara itu fit dengan masa depan. Hal yang bisa mengganggu adalah ketidakstabilan keamanan di negara itu. Makin banyak berkonflik (misal dengan Palestine, Iran, Syria dan Lebanon) tentu akan meningkatkan country risk buat Israel, belum lagi menurut beberapa pengamat landskap politik di negeri ini sangat tidak stabil.

 

Siapa Doyan Membantu Israel?

Sudah pasti Amerika Serikat. Lihat data mitra utama ekspor maupun mitra utama impor, lihat juga data bantuan keuangan yang diberikan. Tetapi yang lebih hebat lagi adalah bantuan militer AS kepada Israel. Berapa jumlahnya?

16 Agustus 2007, Pemerintah AS dan Israel menandatangani MoU mengenai menaikkan bantuan militer bilateral kepada Israel menjadi USD 30 milyar hingga 10 tahun ke depan, dan ini naik 25% dari tahun-tahun sebelumnya. Sebelum menaikkan bantuan militer ini, Israel telah menjadi negara terbesar yang menerima bantuan AS. Merujuk pada Congressional Research Services, sejak tahun 1949, AS telah menyediakan dana lebih dari USD 53 milyar untuk bantuan militer, kurang sedikit dari setengah bantuan total untuk Israel yaitu lebih dari USD 101 milyar (2007).

Barangkali memang yang bisa “menghentikan” Israel adalah saudara tuanya, Amerika Serikat. Tentu saja, harapan besar setidaknya ada pada Presiden AS yang baru, Barrack Obama. Tapi apa betul harapan itu pantas dititipkan padanya?

 

Berharap pada Obama?

Tadinya saya berpikir ada yang bisa diharapkan dari Obama. Hanya saja, beberapa cuplikan hasil browsing-an saya membuat saya harus berpikir ulang. Fakta-fakta mengenai Obama yang saya dapat dari National Jewish Democratic Council (NJDC) dan newsletter kampanye Obama-Biden menyebutkan bahwa Obama merupakan senator yang memiliki voting record pro-Israel yang sempurna dalam Senat AS dan memiliki catatan baik sebagai true friends of Israel.

Obama menjadi salah satu co-sponsor untuk the Palestinian Anti-Terorism Act of 2006. Ia menjadi salah satu yang menandatangani surat untuk Uni Eropa untuk menambahkan Hezbollah dalam daftar grup teroris. Ia juga menyebut Hamas sebagai teroris (New York Times, 16 Mei 2008).

Satu lagi, jauh sebelum Obama menjadi Presiden, ia berdeklarasi pada konferensi NJDC (saya kutip saja langsung), “When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel in search of this peace and in defense against those who seek its destruction,” (Philadelphia Jewish Voice, July 2007).

 

Dear my friends, begitu lah celoteh saya minggu ini, mencermati apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di Palestine minggu ini. Mungkin juga belum berhenti. Entah sampai kapan…    

Ada Sabotase pada (Ekonomi) Kita? Januari 5, 2009

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.
Tags: , , , , , , ,
4 comments

panen1Memilih kata “sabotase” buat Catatan Akhir Minggu ini perlu beberapa waktu untuk menimbang-nimbangnya. Bukan apa-apa, mendengar kata “sabotase” rasanya kok menyeramkan. Jadi lebih bagus dicari dulu apa artinya yang kurang lebih seperti ini: Sabotase adalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi, penghambatan, pengacauan dan/atau penghancuran. Kenapa “sabotase” jadi catatan?

Dari definisinya saja sudah dapat diketahui bahwa hasil dari sebuah sabotase adalah kekacauan, ada sesuatu yang terhambat atau bahkan hancur, dan kelemahan (boleh jadi belum mati). Setidaknya dalam catatan saya minggu ini, ada 3 hal yang boleh digarisbawahi, yaitu benih, pupuk dan BBM.
Urusan pertama terkait benih alias bibit, baik jagung maupun padi. Di beberapa tempat banyak petani kita yang kelabakan ketika tahu bibit yang ditanamnya palsu. Bagaimana tidak, beliau-beliau ini telah merawat tanaman hingga masa panen tiba. Cuma yang didapat adalah bulir padi yang kosong tak berisi atau bonggol jagung yang tidak berbiji. Habis sudah harapan untuk memanen padi atau jagung di ladangnya. Bukan cuma itu, kita juga tahu petani seringkali berhutang dahulu untuk membiayai tanamannya dengan harapan ketika panen, hutang tersebut terbayar dan petani memiliki sedikit kelebihan untuk mencukupi hidupnya.

Urusan kedua terkait pupuk. Kita sudah baca berita di media cetak dan televisi, bagaimana pupuk menjadi barang langka. Kelangkaan ini menyebabkan petani-petani nekat “membobol” gudang pupuk, “membajak” truk pengangkut pupuk, mereka tidak peduli sistem distribusi. Yang jelas mereka mendapatkan pupuk dan tidak dengan menjarah, karena mereka tetap bayar di tempat.

Bagaimana bisa urusan bibit dan pupuk bisa kacau? Kalau diurut-urut memang banyak yang instansi atau pihak-pihak yang ikut terkait. Mulai dari hulu, penghasil bibit, pabrik-pabrik pupuk, distributor, Departemen Pertanian, Bulog, sampai instansi pendukung macam Badan Meteorogi dan Geofisika. Tidak adakah koordinasi antar mereka? Bukankah musim tanam bisa diprediksi? Informasi prakiraan cuaca datang dari BMG, kebijakan pangan dari Deptan, informasi kebutuhan pupuk tentu bisa diketahui oleh pabrik-pabrik pupuk. Kalau informasi tidak dapat dimanfaatkan, tentu saja celah ini digunakan “para petualang” bermain menarik keuntungan lewat bibit palsu, pupuk palsu, menimbun pupuk dan lain sebagainya.

Yang jelas, kekacauan ini sudah mengganggu. Dalam skala mikro tentu petani-petani kita yang paling terganggu, bukan hanya perkara tanamannya, tetapi sudah kehidupan dan penghidupannya. Dalam skala makro, kita pasti bisa membayangkan harga beras yang tinggi karena susah dicari, kalau sudah menyangkut urusan perut tentu apapun bisa dan mau dilakukan agar tetap bisa hidup alias survive.. Yang repot kalau yang pendek imannya, wah bisa lebih berabe… Belum lagi ditambah ada upaya mengoplos beras dengan menir (alias beras pecah yang biasa untuk pakan ayam). Beberapa waktu lalu ada beritanya dari daerah Banten.

Urusan ketiga adalah urusan BBM (B-a-h-a-n—B-a-k-a-r—M-i-n-y-a-k). Sudah banyak kita tahun ini membaca dan melihat bagaimana saudara-saudara kita ngantri minyak tanah, lalu dilanjutkan dengan gas elpiji yang 3 Kg. Eee.. minggu ini, tahun baru, premium alias bensin ikut langka.
Bukan masalah kelangkaannya yang “mulai biasa” kita dengar dan lihat, tapi efeknya itu my friends.. Ongkos angkut naik, akibatnya harga barang-barang naik, yang lebih hebat, tensi darah juga naik, akibatnya orang bisa berantem gara-gara tidak sabar mengantri. Nah, ini juga kekacauan namanya.

Bibit, pupuk, BBM itu saja hanya 3 komponen yang berpengaruh banyak terhadap penghidupan orang banyak, yang lebih besar tentu pada ekonomi masyarakat banyak. Balik ke definisi di atas, maka pantas juga kita menyebut bahwa ekonomi kita kok bisa saja disabotase. Lalu siapa yang menyabot?

Sebetulnya siapapun yang membuat kekacauan ekonomi ini terjadi, dia berpotensi sebagai penyabot. Pembuat bibit-bibit palsu, pembuat pupuk-pupuk palsu, penimbun pupuk, pengoplos beras, penimbun BBM adalah seorang penyabot. Jangan lupa, perancang kebijakan yang pada akhirnya kebijakannya tidak jalan karena tujuannya sekedar ingin menaikkan angka-angka agar terlihat cantik secara statistik di mata masyarakat, dia juga berpotensi sebagai penyabot ekonomi.

Orang-orang ini, sudah semestinya menjadi musuh kita bersama.

Semoga kita -secara tidak sadar maupun sadar- tidak menjadi penyabot yang melakukan “sabotase kolektif”.

Jurnalisme Rating dan Sensasi Desember 19, 2008

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu.
Tags: , ,
1 comment so far

Sebuah keluarga baru saja kena musibah, salah satu anggota keluarganya bunuh diri terjun dari lantai 8 sebuah gedung Universitas karena sudah 8 tahun tidak lulus jadi sarjana. Karena ini dianggap punya “nilai berita” maka wartawan TV pun bergegas mewancarai pada sumber paling utama. Ditunggui rumahnya sampai malam bahkan pagi. Dikejar-kejar si sumber berita sampai dapat. Semua anggota keluarga diam walau microphone sudah disodor-sodorkan ke mulutnya. Sampai akhirnya terucap dengan wajah kesal bercampur sedih, “Kalian itu bagaimana? Orang lagi sedih kena musibah kok dipaksa wawancara? Kalian apa nggak punya hati?”

Miris, mendengar dan melihatnya…

Di lain acara, seringkali seorang nara sumber yang ahli sekalipun dihabisi oleh pewawancaranya dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing “sebuah jawaban yang diharapkan”, yaitu jawaban yang memiliki nilai berita tinggi dan kalau bisa bikin geger. Nara sumber “dipaksa” sedemikian rupa dengan pertanyaan bertubi-tubi, bahkan sebelum satu pertanyaan selesai dijawab, sudah dipotong dengan pertanyaan berikutnya. Teror-horor pertanyaan ini, tentu saja membuat orang tertekan. Begitu mendapat “sebuah jawaban yang diharapkan” walau cuma sepenggal, wawancara segera ditutup, penjelasan nara sumber dipotong.

Miris, mendengar dan melihatnya…

Lain lagi, ada yang lebih heboh. Apa lagi kalau bukan acara yang namanya infotainment. Berlindung pada premis bahwa semua yang masuk infotainment adalah public figure, maka wartawan dengan gampang atau “menggampangkan” menyorot semua tingkah laku, harta benda, atau apapun namanya milik seorang ‘yang dianggap’ sebagai public figure adalah “milik publik”, yang artinya publik berhak tahu. Sampai-sampai, nomor sepatu, mobilnya nyicil atau pinjaman, tidur jam berapa, dugem dimana, publik “berhak tahu”. Bahkan dengan menggunakan kecanggihan teknologi, menggunakan kamera tersembunyi atau dengan sengaja mengambil gambar-gambar dengan lensa tele. Rasanya susah membedakan mana yang wilayah publik dan mana yang wilayah pribadi.

Miris, mendengar dan melihatnya

Ada sesuatu yang mengusik, ada apa ya dengan jurnalisme (TV) kita? Ada apa dengan kawan-kawan wartawan?

Memang, kalau melihat perkembangan jumlah stasiun televisi kita, sungguh luar biasa. Bukan cuma di Jakarta, tetapi di tingkat propinsi pun sudah banyak yang muncul. Jadinya, kalau kita mencet remote control untuk memilih channel, angka-angka yang sampai 9 sudah terlewati. Akibatnya? Persaingan merebut pemirsa jadi meninggi.

Merebut pemirsa sudah jadi tujuan utama, top of the top. Dengan logika sederhana, penonton yang banyak akan mengundang pengiklan lebih banyak. Peng-iklan yang lebih banyak membuat pundi-pundi penerimaan jadi lebih banyak. Biaya operasional tertutupi, biaya pengembangan tersedia, bonus-bonus bertambah. Kalau ditanya, mana buktinya pemirsa TV stasiun tertentu banyak? Jawaban paling gampang ya… menggunakan rating.

Nah, sampai di sini jadilah semuanya mengejar rating… ting… ting… ting… Kalau bisa setinggi mungkin. Bagaimana caranya? Bahasa atau solusi indah-nya, tentu dengan membuat program-program yang bagus, yang menarik minat pemirsa lebih banyak, yang informatif -karena orang pada dasarnya butuh informasi- dan edukatif -karena orang pada dasarnya juga seneng belajar-.

Cuma sayangnya, eksekusi programnya kebanyakan meleset dari tujuan membuat program bagus. Karena orang butuh informasi dan harus menarik maka munculah infotainment. Dan karena harus menarik pemirsa sebanyak-banyaknya, maka dicari dan dikemaslah dengan sensasional. Lha, orang kan akan berhenti sejenak, terhenyak, atau berkumpul berdiskusi ketika ada sensasi. Maka, ketiga cerita di atas itu pun tercipta.

Kita tentu menaruh hormat dan apresiasi yang tinggi untuk teman-teman wartawan untuk segala dedikasinya memberikan kita informasi yang luar biasa cepat dan dibutuhkan. Tetapi kalau hanya untuk mengejar rating dan menciptakan sensasi, kok ya sayang amat. “Media televisi hanya mengejar rating, sedangkan media massa cetak hanya mengejar profit atau keuntungan,” begitu kata Pak Rosihan Anwar seusai menerima penghargaan ‘Life Time Achievement’ atau ‘Prestasi Sepanjang Hayat di Jakarta’ dari PWI Pusat. (dikutip dari kapanlagi.com, 15/05/07).

Mbok ya-o… alias kalau saja… tujuan utamanya bukan rating dan sensasi… kita tentu nggak perlu merasa miris. Saya lalu mencari-cari “pegangan” teman-teman wartawan. Jangan-jangan pandangan dan celoteh saya di atas ngawur dan salah. Jadi saya kutip saja tulisan Mas Samsuri (www.dewanpers.org, 16/11/06):

Kode Etik Jurnalistik (2006) meminta wartawan untuk menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik. Apakah itu kepentingan publik, kode etik juga tidak mendefinisikannya. Dalam penjelasan hanya disebutkan “menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya berarti menahan diri dan berhati-hati”. Sedangkan kehidupan pribadi merupakan kehidupan seseorang dan keluarganya yang tidak ingin diungkap, kecuali seseorang itu yang menginginkannya atau terkait kepentingan publik.

Wartawan yang menghormati kehidupan pribadi berarti tidak memaksa artis (saya membacanya: seseorang) untuk menjawab pertanyaan, tidak menggedor-gedor pintu mobil, mengintai, menyodorkan pertanyaan yang sama sekali tak berdasar data atau fakta. Karena, jikapun wartawan mendapatkan berita dengan cara demikian, saya yakin berita yang didapatkannya tak lebih sebagai sebuah pergunjingan, kebohongan, dan pembodohan.

Saya manggut-manggut. Mantab bleh.. tulisan Mas Samsuri ini.

Ayo… Cinta Produksi Indonesia Desember 15, 2008

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu.
Tags: , ,
5 comments

logoppiKalau diperhatikan, setiap hari Jumat, memakai batik kini sudah menjadi kebiasaan bagi umumnya “orang kantoran”. Hari Jumat memang hari krida, hari untuk berolah-raga senam-ria, atau hari untuk bersih-bersih. Hari “agak santai”. Setelah itu, batik-an kembali. Bukan saja semangat badannya atau mbody-nya, tapi juga jiwanya. Memakai batik harusnya perwujudan dari cinta Indonesia and cinta produk Indonesia, bukan sekedar diperintah atasan atau peraturan.

Krisis Keuangan Global alias KKG memang sungguh-sungguh merontokkan berbagai sendi ekonomi dan produksi hampir di seluruh dunia. Wong namanya juga Global, mulai dari biang kerok krisis negeri Paman Sam, sampai merembet ke Eropa, lalu Asia, termasuk negeri kita tercinta, Indonesia.

Menurut pengamatan para ahli ekonomi, krisis KKG akan mulai kelihatan nyata imbasnya pada mulai kuartal ke-2 tahun 2009, artinya sekitar bulan April. Salah satuya adalah PHK besar-besaran. Banyaknya perusahaan tutup karena banyak produk tak terjual. Permintaan dari luar negeri anjlok. Bahasa serem-nya, ekonomi bergerak seperti keong siput. Lambat.

Sebetulnya ekonomi bisa juga kita buat lebih cepat bahkan normal. Tapi ada syaratnya tentu, yaitu semua harus bahu membahu, membantu apa yang kita bisa bantu, walau sedikit juga tak mengapa. Masing-masing kita menjadi roda gigi kecil yang kalau bergerak bersama pasti bisa menggerakkan roda gigi ekonomi yang lebih besar.

Bayangkan seberapa besar Indonesia? Sabang sampai Merauke itu hampir sama jaraknya dengan Inggris sampai Rusia, alias hampir satu Eropa. Atau juga sama dengan jarak pantai barat sampai pantai timur Amerika. Artinya, kita sebetulnya pantas dan mampu “menggerakkan ekonomi sendiri”. Lha khan wilayah Indonesia kita sama se-Eropa atau se-Amrik.

Jadi kuncinya, menggerakkan roda kecil, menggerakkan ekonomi sendiri. Cara yang paling mudah adalah menggunakan barang yang diproduksi oleh teman kita yang pengusaha kecil, teman kita yang punya pabrik, teman kita yang punya warung, teman kita yang punya barang dagangan dan usaha, teman kita yang punya sayur mayur, teman kita yang punya tambang dan mineral, dan teman-teman kita yang lain. Yang penting, hasil produk bangsa sendiri, hasil produk dari bumi kita sendiri.

Nah, sebetulnya bukan cuma batik yang jadi obyek kecintaan produk Indonesia, ada beribu produk lain yang bisa diperlakukan serupa.

Walau begitu, ada juga yang perlu kita cermati yaitu serbuan barang China. Apalagi sekarang ketika pasar produk Cina di Eropa dan Amerika mengkerut. Sudah pasti China akan memindahkan pasarnya di tempat lain, negeri kita salah satunya. Sebelum KKG saja di KRL Jabotabek dengan mudah kita temui barang-barang CIna dengan harga yang bikin geleng-geleng kepala karena murahnya. Pak Sofyan Wanandi juga bilang 70-80% barang yang dijual di Mangga Dua dan Tanah Abang adalah buatan China, Kalau begini, seberapa besar kesanggupan pengusaha kita melawannya? Pengusaha pasti tidak bisa melawan sendirian, kita sebagai konsumen juga harus ikut cawe-cawe alias ikut berperan, dengan mencintai dan menggunakan produk sendiri.

Teman saya mas Handito, yang pakar branding dan ketua Branding Indonesia, juga bilang bahwa kampanye Cinta Produksi Indonesia sudah lama digaungkan. Malah sudah mengikutsertakan swasta dan pemerintah. Rasanya perlu di-refresh lagi itu, Mas.

Ayo dong Bu Marie Pangestu, Pak Fahmi Idris, Bu Sri Mulyani, buat kebijakan yang mendukung pengusaha kita, menjaga teritori kita dari penyelundupan barang-barang CIna yang sudah pasti tahun 2009 bakal tambah marak.
Terakhir, (dikutip dari Kapanlagi.com 15Nov06), mari kita renungkan ucapan Kepala Bagian Humas Koperasi Perkampungan Industri Kecil (KOPIK), Chairuddin, “Bagaimana pengusaha kecil bisa maju kalau rakyat Indonesia sendiri tidak bangga kepada barang produksinya sendiri. Jadi pemerintah jangan hanya lips service saja, implementasikan juga kebijakan yang pro terhadap pengusaha kecil, entah bagaimana bentuknya.”

Yang pasti, mulai sekarang, mulai hari ini, Ayolah kita pakai produk bangsa sendiri.

Jakarta, tenggelem aje lu! Desember 1, 2008

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu.
1 comment so far

 

Menelusuri kota Jakarta belakangan ini memang harus pandai-pandai menjaga neraca hati. Setidaknya timbangan kesabaran harus terus ditambahi, karena berat timbangan kesebelan juga terus saja bertambah.

Apa yang membuat kesebelan bertambah? Banjir! Tepatnya banjir di jalan-jalan! Contohnya, jam 2pm minggu lalu selesai meeting di Salemba, dokar bermesin meluncur ke arah Casablanca karena harus mampir ke FedEx sebelum balik kantor di Pasar Rebo. Lewat jalur Diponegoro terus ke Sudirman, ternyata dari mulai Dukuh Atas kondisi lalu lintas sudah pamer susu alias padat merayap susul menyusul, terutama sepeda motor. Kesimpulan, macet! Sebel pertama.

Keluar dari FedEx, hujan sudah mulai turun rintik-rintik. Ketika putar balik arah langit mencurahkan seluruh air matanya alias hujan lebat. Seperti biasa masuk terowongan harus antri karena jalan cuma bisa dilewati satu lajur, satunya lagi untuk “parkir dan berteduh” para biker. Menjelang Tebet, jalan di depan hilang. Lho kok hilang?

Rupanya jalan sudah menjadi lautan air. Kalau membayangkan ini seperti kanal di Venesia kok ya kebangetan. Ternyata “kanal” Jakarta ini terus sambung-menyambung sampai by pass. Di by pass sampai di Cawang, ternyata “kanal”-nya ada lagi. Top abiss Man!! Begitu kata anak muda sekarang.

Sepanjang jalan, kepala jadi penuh pertanyaan. Kenapa bisa begini? Sambil tengok kanan-kiri mencari jawaban. Selain jawaban yang “normatif” seperti: tanah Jakarta lebih rendah dari permukaan laut, kanal banjir Timur belum selesai, hujan kali ini intensitasnya lebih tinggi dari tahun lalu, dan bla bla bla lainnya, jawaban yang sederhana di depan mata adalah urusan saluran air. Cuma ada dua, salurannya tersumbat alias mampet alias tidak berfungsi, dan memang tidak ada salurannya di sisi kiri-kanan jalan.

Persoalannya mungkin bukan cuma alasan karena tutup saluran yang di”kunci” oleh masyarakat atau digunakan oleh pedagang kaki lima sehingga tidak bisa dilakukan perawatan dan pengerukan. Tetapi lebih jauh dari itu adalah cara pembangunan jalannya.

Dulu sekitar masih tahun 80-an, rasanya setiap pembangunan jalan pasti juga dengan saluran airnya. Artinya, kontraktor jalan yang harus membangun keduanya secara bersamaan. Tapi entah mengapa, sekarang keduanya dibangun secara terpisah dan sudah dapat dipastikan tidak bakal sinkron dan amburadul ketika digunakan. Entah nanti jalan cepat rusak karena tidak ada penahan di kedua sisinya, yang sudah pasti air tidak punya jalan mengalir. Entah juga karena dikerjakan kontraktor yang berbeda sehingga tinggi saluran dan tinggi jalan nggak pas. Atau persoalan lainnya. Anda mau membuat daftarnya?

Urusan kontraktor alias proyek ini yang membuat runyam. Atas dasar apa dipisah? Apa alasannya karena anggaran yang terbatas? Apa alasannya bagi-bagi rezeki (dibaca: proyek)? Yang paling tidak kan karena jumlah kontraktor sekarang sudah buanyak, maka atas dasar pemerataan rezeki, pembangunan jalan (dengan salurannya) kini dipecah sehingga kontraktor jalan dan kontraktor saluran dapat bagian.

Distribusi alias cipratan rezeki ini, seperti kita ketahui bersama (dibaca dengan nada intonasi Butet menirukan pak Harto), tentu akan mengalir juga sampai jauh dari mulai marketing fee hingga kick-back. Pemerataan itu penting, sehingga “kenyamanan” ini dipertahankan sampai sekarang. Tentu saja ini pola pikir ngawur, mencari pembenaran atas nama p-e-m-e-r-a-t-a-a-n.

Ternyata urusan pecah-memecah proyek bukan cuma di jalan saja, banyak di sektor dan program-program lain juga sama. Misalnya, di Jakarta kita sering temui bongkar pasang jalan dari instansi yang berbeda. Hari ini pasang kabel listrik, seminggu lagi giliran kabel telepon serat optik, dua minggu lagi saluran dibersihkan. Pokoknya gali. Padahal kalau saja mau berkoordinasi, sudah pasti bisa efisien. Alasan anggaran tidak cukup, kalau efisien kan juga bisa terpenuhi.

Nah, kalau di ibukota yang kita cintai ini pola bongkar pasang jalan seperti ini terus. Ya, jangan berharap banyak jalan-jalan Jakarta jadi tetap aman dari banjir ketika hujan. Kalau ini tidak diubah juga, jangan kaget kalau ada yang menggerutu. Jakarta, tenggelem aje lu!

 

Tanah Baru, Depok, 1 Desember 2008      

Apakah Riset Hanya Milik Perguruan Tinggi dan Industri? Mei 24, 2008

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu.
3 comments

Siang ini, baru saja selesai nonton acara Oasis di MetroTV yang membuat saya termenung-menung.

Seorang petani bernama Tukirin dari daerah Nganjuk, Jawa Timur baru saja lepas dari hukuman percobaan selama setahun gara-gara ‘disangka’ memalsu bibit jagung.

Memalsu?

O.. ternyata sangkaan itu yang kemudian di-acc oleh Pengadilan Negeri karena beliau ini dianggap menyebarkan benih jagung palsu. Dan tenyata juga, bukan cuma pak Tukirin ini yang masuk hotel prodeo, ada beberapa orang lagi dari daerah yang sama dan sekitarnya, Kediri.

Usut punya usut, petani ini dulu pernah diajak menjadi responden untuk pembuatan bibit unggul jagung oleh sebuah perusahaan. Setelah sekian lama selesai menjadi responden, perusahaan tersebut sudah menjual bibit unggul jagung dengan merek dan kemasan tertentu. Sampai suatu ketika, beliau dan kawan-kawannya dihadapkan pada kondisi dimana mendapatkan bibit unggul jagung itu susah dan mahal (karena kini dikemas dengan merek tertentu).

Apa kemudian yang dilakukan?

Beliau mulai mencoba-coba membuat bibit unggul dengan pengalamannya hidup bertahun-tahun sebagai petani jagung dan pernah jadi responden perusahaan bibit itu. Hasil coba-coba ini ternyata berhasil bagus. Teman petani yang lain tentu saja ikut menanam. Sampai akhirnya, petaka itu datang. Pak Tukirin dituduh memalsu bibit, karena menyebarkan bibit dalam kemasan yang tidak bermerk.

Disebutkan bahwa memang pak Tukirin tidak melanggar hak paten, tetapi menyebarkan bibit jagung palsu alias tidak bermerek atau “yang diakui” sebagai bibit unggul oleh badan sertifikasi adalah pelanggaran (melanggar UU?)

Saya lalu termenung:

Kawan-kawan..
Beliau ini berangkat dari upayanya untuk survive sebagai petani jagung, yang kesulitan mendapatkan bibit jagung yang bagus. Lalu tentu saja naluri bertaninya adalah mencoba-coba sendiri untuk mendapatkan bibit sendiri Kita juga pasti tahu ketrampilan dan pengetahuan ini juga didapat dari orang tua-orang tuanya terdahulu, turun temurun.

Mungkin dalam bahasa yang modern, dalam bahasa industri dan intelektual, beliau melakukan “riset mandiri”. Adakah yang salah? Dalam kajian yang “ilmiah” dari sisi mana beliau ini meniru? Metodologinya? Mana beliau tahu.. Bukankah ini memang bagian dari profesinya sebagai petani, untuk mendapatkan bibit unggul?

Kalau dipandang dengan kacamata komersial (baca: kapitalis) boleh jadi memang banyak yang akan terganggu. Keberhasilan membuat bibit unggul, yang kemudian disebarkan secara gratis, membagi keberhasilannya kepada teman-teman petani dengan harapan yang lain juga mendapatkan panen yang berlimpah, sudah pasti mengganggu “pasar” bibit unggul bermerek. Adakah yang terganggu lagi? Mungkin ada dan banyak..

Saya hanya tidak habis fikir, kearifan beliau membagi hasil riset dan keberhasilannya kini berbalik menjadi ketakutan. Takut membuat bibit unggul lagi, karena nanti diusut lagi. Bukankah ini mematikan kreativitas dan inovasi?

Apakah kreativitas dan inovasi hanya milik para intelektual di perguruan tinggi dan para pekerja R&D di industri? Bukankah pak Tukirin juga sedang mencoba bangkit untuk bangsa?


Bagaimana kawan?

Bayar Pajak Motor di Pusat Grosir Cililitan Mei 12, 2008

Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu.
add a comment

Tanggal 26 April kemarin, pajak motor habis. Artinya, sebagai warga negara yang baik kudu taat bayar pajak. Yang paling enak, memang cari tempat bayar (Samsat) yang searah jalur pulang balik rumah-kantor alias Depok-Tebet.

Pilihan ada di depan TMP Kalibata, karena di situ katanya memang ada bis keliling yang ngurus SIM-STNK. Sayangnya, sudah seminggu ke sana itu bus ‘nggak ada’. Wah.., nggak cocok jadwalnya. Pernah sekali kesana, yang ngantri ampun. Mana puanas terik siang hari bolong lagi.. Jadi ditunda saja besoknya. Ee.. besoknya sudah pindah jadwal itu bis.

Tadi pagi, ke Kalibata lagi. Dengan pikiran, masak sudah seminggu bis keliling nggak balik lagi.. Ternyata memang belum balik..

Sambil mengingat-ingat berita di TV kalau Samsat buka di mall. Sepeda motor dikebut ke PGC (Pusat Grosir Cililitan). Masuk parkiran. Clingak-clinguk dan putar-putar sebentar cari lokasi Samsat. Akhirnya bertanya juga ke salah satu Cleaning Servicer di sana. “Naik lift aja Pak, ada di lantai 7 atau di lantai A”, begitu katanya. Sambil berterima kasih, segera ngacir ke lantai yang dimaksud. Ternyata lantai A itu, ada di atap gedung PGC. Kelihatan kantor “Gerai Samsat” di pojok.

Selama ngurus pajak motor itu. Menurut saya, relatif gampang, pelayanannya juga OK, gedung ber-AC, dengan petugas-petugas yang sangat membantu. Dalam tempo tidak sampai satu jam, pajak selesai di urus. “Mestinya beginilah public services diurus”.

Salut buat Pemda DKI, Polda Metro Jaya, dan Jasa Raharja yang sudah bersusah payah memberikan service terbaik.

Iseng-iseng saya coba browsing apakah cuma ada di Jakarta? Ternyata kota-kota lain juga ada seperti Surabaya.. Wah, pinjam istilah pak Bondan..”Top markotop namanya”

Buat Info:
Di Jakarta, ada 3 Gerai Samsat yang telah ada.
Pertama, di Pusat Grosir Cililitan, Jl. Mayjen Soetoyo No. 76 Kramatjati, Cililitan, Jaktim (yang saya critain di atas). Telp. 021-30019792.
Kedua, di Mall Taman Palm, Jl. Kamal Raya Outer Ring Road, Cengkareng, Jakbar. Telp. 021-5435181.
Ketiga, di Mall Artha Gading, Jl. Artha Gading Selatan, Jakut. Telp. 021-45864131 Fax. 021-