Menebak Perilaku Pemilih Kita Maret 15, 2009
Posted by abdinagoro in Consumer Behavior, Strategic Management.Tags: emotional voter, inpulsive buyer, kampanye, parpol, pemilih, pemilu, perilaku pembeli, product involvement
add a comment

Sembilan April mendatang, semua rakyat Indonesia diberi kesempatan untuk memilih para wakilnya di DPRD/DPR dan DPD. Persiapan menyambut hari tersebut sudah banyak dilakukan baik oleh KPU, partai politik maupun kandidat calon-calon anggota legislatif. Sudah hampir setahun ini, masyarakat disodorkan begitu banyak gambar, poster, iklan yang mengajak mereka untuk memilihnya, dan satu bulan terakhir ini kegiatan promosi dari berbagai media ini menjadi semakin gencar.
Yang menarik dan menjadi perhatian bersama adalah masyarakat dihadapi oleh pilihan yang banyak. Jumlah parpol yang ikut dalam Pemilu kali ini banyaknya 38. Ditambah dengan aturan baru suara terbanyak, maka pilihan masyarakat juga sesuai dengan jumlah calegnya. JIka dihitung dalam satu daerah pilihan, bisa sampai puluhan juga. Bagaimana masyarakat memilih?
Tinjauan Perilaku Pembeli
Masyarakat sebetulnya akan menghadapi hal yang biasa ditemui dan dilakukan sehari-hari, yaitu mengambil keputusan untuk memilih sesuatu, bisa barang atau jasa. Hanya saja tentu ada perbedaan yang mendasar bagi masyarakat dalam memilih kali ini. Ada tiga hal berbeda dibanding aktivitas memilih biasa yang dapat mempengaruhi keputusan pemilih saat itu, yaitu pertama jumlah produk atau pilihan sangat banyak dan boleh jadi sebagian besar tidak mengenal produk atau pilihannya, kedua, tidak seperti pembeli pada umumnya, pemilih yang berperilaku sebagai pembeli akan mengambil keputusan memilih (atau membeli) dalam kurun waktu yang singkat -sehari- dan dilakukan bersamaan dengan pemilih atau pembeli lain, dan ketiga, pemilih tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk menentukan pilihannya dan tidak secara langsung mendapatkan manfaat atas pilihannya itu sehingga tidak ada tuntutan produk harus bagus dan konsumen merasa terpuaskan. Pendekatan terhadap perilaku pembeli (buyer behavior) terhadap pemilih barangkali bisa dijadikan alat untuk memprediksi bagaimana pemilih nanti memutuskan pilihannya.
Dengan menggunakan matriks, setiap pemilih dihadapkan pada banyak pilihan sejalan dengan banyaknya kandidat dan parpol peserta Pemilu. Setidaknya ada 5 kelompok besar kondisi memilih yang juga dapat merefleksikan peta persaingan yang ada yaitu, (1) memilih caleg dari parpol yang sama, atau (2) memilih caleg dari parpol berbeda. Dan pada kondisi dimana pemilih kurang mengenal calegnya maka pemilih akan dihadapkan pada kondisi untuk memilih caleg atau parpol, dengan alternatif (3) memilih antara caleg A dan parpol A, artinya berdasar asal yang sama, (4) memilih antara caleg A dengan parpol B, artinya berdasar asal berbeda, dan (5) memilih parpol.
Yang dihadapi pemilih nanti adalah produk berupa parpol dan caleg dengan pilihan yang banyak dan tingkat pengetahuan pemilih terhadap produk tersebut juga bervariasi. Sebagian besar diperkirakan tidak mengetahui dan memahami pilihan calegnya, akibatnya product involvement pemilih terhadap caleg menjadi minim. Padahal product involvement merupakan hal penting dalam proses pengambilan keputusan dan perilaku pembelian konsumen. Dalam kondisi dimana pemilih menimbang antara caleg versus parpol, product involvement pemilih pada parpol diperkirakan akan lebih tinggi karena lebih mudah diingat, apalagi pada parpol-parpol lama.
Kondisi pemilih yang dibatasi waktu yang singkat yaitu sehari dan dilakukan secara bersama-sama, juga mempengaruhi pemilih. Pemilih cenderung akan menjadi seorang impulsive buyer yaitu seorang yang membeli atau memilih secara tidak berencana dan tanpa melakukan evaluasi yang mendalam, atau bisa jadi karena ikut-ikutan pada membeli atau memilih yang lain. Penyebab impulsive buyer juga diakibatkan karena pengetahuan yang rendah terhadap produk yang akan dipilihnya.
Dengan demikian dapat ditebak ada beberapa perilaku pemilih yang akan terjadi pada saat hari pemilihan nanti. Pertama, ada kecenderungan pemilih akan memilih atau mencontreng parpol dibanding caleg karena product involvement pada parpol lebih tinggi dibanding caleg. Kedua, parpol lama akan lebih dikenali sehingga diperkirakan akan tetap mendapatkan suara yang signifikan dibanding parpol baru.
Waktu Yang Menentukan
Waktu yang tersisa memang tinggal sedikit. Tentu masih banyak yang dapat dilakukan oleh para caleg untuk berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan pemilih. Para caleg harus mampu “menjual” dirinya dan mampu lebih memberi kesan bagi pemilihnya, artinya product involvement dinaikkan. Banyak cara untuk melakukannya, menggunakan pendekatan emosional bisa jadi lebih efektif karena pada umumnya masyarakat adalah pemilih yang emosional (emotional voter).
DImuat di Harian KONTAN (dengan diedit), 12 Maret 2009
Menamakan Warna Mei 15, 2008
Posted by abdinagoro in Consumer Behavior.add a comment
Warna Yang Diberi Nama Ternyata Lebih Menarik
Apalah arti sebuah nama? Begitu pujangga besar Shakespeare bertutur dalam lakon Romeo and Juliet. Namun Al Ries dan Jack Trout, dua orang pakar pemasaran menyanggahnya. Menurut keduanya, nama sangat penting bagi konsumen dalam memutuskan pilihannya. Merek seperti Coca-cola, McDonald, Toyota, Sunsilk, Aqua atau Teh Botol merupakan contoh bagaimana produk diberi nama dan mencapai sukses. Jika produk bisa diberi nama, bagaimana kalau warna juga diberi nama?
Bagi Anda, pembaca wanita, pasti pernah disodorkan sejumlah pewarna bibir oleh seorang SPG di counter kecantikan. Kalau Anda bisa saja mengingat beberapa, selain kode atau nomor pewarna bibir, namanya pun beraneka seperti Rose Pink, Candy Pink, Brown Sugar, Bronze atau Soft Red. Atau, jika Anda pembaca pria sedang asyik memilih-milih warna mobil atau cat tembok yang akan Anda beli, beberapa nama warna akan Anda temui, seperti Solid Red, Apple Green, Passion Blue atau lainnya.
Tentu menarik ketika warna merah (red) diberi tambahan solid, atau warna hijau menjadi apple green yang memberi kita asosiasi warna hijau yang seperti warna sebuah apel. Dalam konteks pemasaran dan perilaku konsumen, beberapa penelitian tentang warna telah dilakukan. Sebuah penelitian menemukan bahwa warna dapat menjadi ungkapan persepsi bawah sadar. Warna merah dapat menjadikan orang bersemangat dan warna biru kelam melambangkan depresi. Warna juga bisa mempengaruhi kemampuan bekerja seseorang, warna ruang kantor yang berwarna merah ternyata membuat orang lebih sedikit membuat kesalahan. Persepsi tentang warna memang kompleks.
Penelitian lain juga menyebutkan tentang adanya tiga preferensi terhadap warna. Pertama, warna muda lebih mudah diingat dan dipilih dibanding warna tua. Kedua, warna terang juga lebih diingat dan dipilih dibanding warna gelap, dan ketiga, warna primer (merah, biru, kuning) lebih diingat dan dipilih dibanding warna sekunder. Artinya, warna kelihatannya sangat mempengaruhi ingatan dan preferensi seseorang terhadap produk sebelum mengambil keputusan pembelian.
Peneliti bernama Skorinko dkk. melakukan studi tentang penamaan warna ini. Mereka berangkat atas dasar premis bahwa penamaan warna bisa bekerja mirip dengan penamaan merek pada produk. Mereka ingin menilai bagaimana penilaian konsumen terhadap penamaan warna ini dan pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan konsumen dalam membeli produk.
Nama Warna Fancy
Mereka mengundang sejumlah partisipan untuk melakukan penelitian tentang nama warna ini. Melalui website, partisipan diberikan tiga contoh warna yaitu coklat, hijau dan biru. Ketiganya memiliki gradasi warna. Kemudian mereka diminta memberikan nama-nama pada warna tersebut. Nama warna ada yang menggunakan nama warna generik, seperti brown, blue atau green, juga ada nama fancy seperti, indigo, forest atau desert sand. Anda pasti bisa membayangkan warna apa yang disandangkan untuk nama-nama ini.
Selanjutnya, partisipan secara acak mendapat satu kelompok warna, misal hijau atau biru, yang kemudian dinilai tingkat kesukaannya terhadap warna tersebut, begitu juga ketika nama warna tersebut melekat pada produk seperti sweater dan karpet. Hasil studi ini menunjukkan bahwa nama warna fancy lebih disukai partisipan. Begitu juga dengan warna biru yang lebih disukai ketimbang warna generik, atau hijau dan coklat. Jika dikaitkan dengan produk, produk yang memiliki nama warna fancy juga lebih disukai partisipan.
Jika sebelumnya partisipan diminta penilaiannya terhadap suka atau tidak suka nama warna, pada studi berikutnya partisipan lebih di dorong lagi pada kondisi faktual. Untuk menciptakan kondisi faktual ini, partisipan dihadapkan pada sebuah produk –dalam hal ini handuk- bukan cuma memilih nama warna. Jadi, partisipan bukan saja diminta untuk menilai kesukaannya pada warna produk handuk, tetapi juga diminta menentukan pilihan mana yang akan dibeli dan seberapa besar mereka memberikan harga pantas untuk produk tersebut. Hasil studi lanjutan ini menunjukkan bahwa handuk dengan warna fancy lebih disukai, lebih akan dipilih atau dibeli, dan partisipan akan membayar lebih mahal atas produk tersebut.
Temuan lainnya adalah bahwa pengaruh gender alias pria dan wanita tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap kecenderungan kesukaan pada nama warna. Ini bisa diartikan bahwa semua orang akan lebih menyukai nama warna fancy dan hal lainnya seperti pada hasil studi ini.
Ciptakan Warna Fancy
Nah pembaca, apa yang kita dapat dari studi Skorinko dkk. ini? Studi ini menunjukkan “kekuatan” warna dan penamaannya sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Nama warna yang fancy lebih disukai, lebih ingin dibeli, dan produk dengan nama warna yang fancy akan dibayar lebih tinggi jika dibandingkan dengan nama warna dan warna yang generik.
Bagi pemasar, terutama yang menggunakan warna-warna dalam produknya, menciptakan nama warna yang fancy menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menjual produk. Produk-produk seperti cat tembok, furnitur, kosmetik atau mobil yang menggunakan warna sebagai daya tarik utama konsumen akan sangat bergantung dari kelihaian pemasar menciptakan nama warna yang fancy.
Rasanya kita lebih senang dan merasa lebih keren ketika menjawab bahwa warna mobil kita adalah black metallic daripada sekedar menjawab black. Atau sambil menepuk sofa yang baru, “Ini warnanya ocean blue lho, agak mahal memang tapi jarang sih warna yang seperti ini.”
Tapi perlu diingat juga, jangan beranggapan kalau menggabungkan satu kata dengan nama warna lalu kita anggap sebagai fancy name. Misal, warna lipstiknya itu lho merah darah alias bloody red. Ini bukan nama yang fancy. Wah, bakalan bisa berabe nanti.
Dimuat di KONTAN, Kamis 15 Mei 2008
Merek Lokal vs Produk Lokal, kemana arah produk manufaktur kita? Maret 8, 2008
Posted by abdinagoro in Consumer Behavior, Strategic Management.1 comment so far
Beberapa waktu yang lalu, di tengah jalan-jalan saya di sebuah mal di Depok, saya menemukan produk sepatu olah raga yang membuka counter barunya di sana. Yang membuat saya surprise adalah merek sepatu tersebut merupakan merek yang sudah lebih dari lima belas tahun lalu saya kenal. Merek “E”, sebuah merek lokal, yang kini sudah berganti logo.
Menarik buat saya, karena peristiwa gonjang-ganjing dihentikannya kontrak order jenis produk yang sama dengan bermerek “Nike” ke salah satu pabrikan di Indonesia masih belum terlupa. Meski akhirnya Nike memperpanjang kontraknya, tetapi peristiwa ini bisa menjadi bahan pemikiran dan masukan bagi kita semua terhadap posisi industri yang kita miliki.
Ada yang kontras di sini. Satu sisi ada sebuah pabrikan yang terus tekun berjuang setidaknya lebih dari lima belas tahun membuat produk dengan merek lokal, mengisi pangsa pasar sepatu olah raga dengan tenang. Sedangkan di sisi lain, ada pabrikan yang membuat produk dengan merek global memiliki masalah dengan pemilik merek dan kemudian menjadi “keributan” berskala nasional.
Satu produk lagi, yang boleh dibilang memiliki kemiripan adalah otomotif. Seratus persen kendaraan yang lalu lalang di jalanan republik ini tidak ada satu pun yang bermerek lokal. Para praktisi dan pakar otomotif di negeri ini sepakat bahwa bangsa kita memiliki kemampuan yang baik di bidang otomotif. Tetapi jika ditanyakan, mengapa tidak membangun merek sendiri, sebagian besar akan menjawab tidak perlu. Memproduksi dengan baik, mengekspor, menyerap tenaga kerja dan menghasilkan devisa jauh lebih penting.
Merek lokal, mengapa tidak?
Kedua industri manufaktur ini, sebetulnya telah terbukti memiliki kemampuan membuat produk untuk pasar global tentu dengan juga dengan standar kualitas global. Jadi timbul pertanyaan, dengan kemampuan tersebut tidak digunakan pula membuat merek dan lokal dengan standar kualitas global?
Membangun merek memang tidak mudah. Tetapi mari kita lihat potensi pasar yang dimiliki kedua industri ini. Berapa banyak jumlah penduduk Indonesia? Berapa pasang sepatu yang dibutuhkan? Atau mari kita lihat loncatan penjualan mobil dan sepeda motor lima tahun belakangan ini? Luar biasa besar. Tidakkah ini memiliki daya tarik yang tinggi untuk membuat merek sendiri?
Hasil survei riset on-line kolaborasi tiga perusahaan internasional yang bergerak di bidang konsultan merek, desain dan pemasaran menunjukkan bahwa produk sepatu olah raga (athletic wear) dan otomotif (automobiles) memang tergolong produk yang lebih disukai konsumen jika menggunakan merek global. Produk automobiles (BMW, Toyota, Ford) lebih disukai 62% konsumen dan athletic wear (Adidas, Nike, Fila, Reebok) 59%. Walau demikian, penelitian juga menyebutkan bahwa 51% orang Asia lebih menyukai merek lokal dibanding 49% yang menyukai merek global. Artinya, kita masih memiliki peluang untuk membuat dan membangun merek lokal.
Berbagai penelitian menyebutkan sejumlah faktor yang membuat konsumen lebih menyukai merek global, seperti: menunjukkan status sosial, persepsi terhadap kualitas yang lebih baik, dan lebih memiliki gengsi (prestige). Faktor inilah yang harus dihadapi merek lokal ketika bersaing dengan merek global. Kemampuan mengatasi faktor kualitas produk, tampaknya kita sudah mendapat jawaban dari para praktisi bisnis. Tetapi yang menyangkut perilaku konsumen berupa gengsi dan status sosial, memang perlu kerja keras untuk mengatasinya.
Penelitian juga membuktikan bahwa ketiga faktor tersebut tidak akan bekerja jika konsumen memiliki etnosentrisme yang tinggi (consumer ethnocentric). Literatur sosiologi menyebut etnosentrisme sebagai kecenderungan seseorang untuk mengabaikan orang/produk yang memiliki kultur yang berbeda. Secara sederhana, konsumen yang memiliki etnosentrisme tinggi dapat diperkirakan tidak akan membeli produk impor karena dianggap tidak patriotik, merusak pasar kerja dalam negeri dan sebagainya.
Mendorong penggunaan produk sendiri dengan merek lokal bisa kita lakukan. Salah satunya adalah dengan membentuk dan memperbanyak konsumen memiliki etnosentrisme yang tinggi. Untuk itu, amat penting bagi pabrikan melakukan advokasi dan edukasi terhadap konsumen dalam negeri. Tentu akan dahsyat getarannya, apabila ditambah dukungan politis dari pemerintah.
Merek, manufaktur kita dan nasionalisme
Barangkali kini saatnya kita memilih arah. Apakah kita ingin tetap di zona aman (comfort zone), dengan cara menunggu order dan memproduksi sejumlah produk bermerek global, disertai alasan skala ekonomis, menjaga dan menyerap tenaga kerja. Pada posisi ini, sudah bisa dipastikan pabrikan tidak memerlukan biaya pemasaran produk. Akan berbeda tentunya jika ingin membangun merek sendiri. Dibutuhkan upaya dan biaya pemasaran yang besar untuk hal ini,
Sekali lagi, ini merupakan pilihan. Menjadikan industri manufaktur kita sebagai “tukang jahit” merek-merek global dan tidak pernah tumbuh dewasa di negeri sendiri, atau menjadikan industri manufaktur sebagai kebanggaan bangsa melalui produk-produknya. Membangun merek lokal merupakan pintu masuk yang bagus untuk memulainya. Mengapa? Kita memiliki potensi pasar yang luar biasa besar, kita juga berpeluang membuat konsumen memiliki etnosentrisme yang tinggi. Kapan lagi, jika tidak sekarang.
Tidak kah kita merasa bangga jika melihat produk-produk dengan merek sendiri berada di sekeliling kita? Atau kita memang benar-benar dalam kondisi krisis nasionalisme?
Dimuat di Harian KONTAN, 2007
Menjual Rasa Sentimentil Masa Lalu Februari 26, 2008
Posted by abdinagoro in Consumer Behavior.3 comments
Barangkali Pembaca pernah suatu kali, menjumpai sebuah produk yang sangat Anda kenal sehingga mampu mengingatkan dan membawa kembali ke masa lampau, bernostalgia sejenak. Misalnya, sebuah scooter Vespa. Meski kini tampil dengan bentuk dan model yang baru. tetapi Anda tetap bisa mengenali “sosok asli”nya hadir walau berada di sebuah pusat perbelanjaan modern. Boleh jadi ingatan ini bisa berakibat Anda tertarik lalu merogoh kocek untuk membawanya pulang.
Sebetulnya banyak produk lain yang juga memiliki potensi menjadi produk nostalgia, misalnya produk-produk sepatu seperti Converse atau Warrior, produk makanan seperti Quaker Oatmeal, coklat Silver Queen atau susu kental manis Indomilk. Produk otomotif macam VW Kodok atau berbagai jenis jip. Begitu juga dengan produk-produk hiburan seperti musik, film layar lebar, bintang film, dan produk-produk fesyen.
Fenomena ini tentu saja juga dimanfaatkan para pemasar untuk menjual produknya. Pembaca, pemasaran nostalgia (nostalgia marketing) didasari oleh premis: ketika muda usia orang hidup dalam mimpi-mimpi, dan ketika tua orang hidup dalam memori atau nostalgia. Jika demikian, maka premis ini juga bisa diartikan bahwa nostalgia atau bernostalgia merupakan bagian dari siklus hidup, dan pasti akan terjadi pada setiap orang. Dengan kata lain, nostalgia menjadi preferensi seumur hidup seseorang. Nah, tinggal bagaimana kepandaian kita mengelola dan memanfaatkan fenomena ini.
Profil psikografis
Kapan sebetulnya orang sudah mulai memiliki nostalgia? Menurut penelitian Schinder & Holbrook (2003), pada dasarnya kecenderungan orang untuk bernostalgia dimulai pada usia 16 tahun, dan rata-rata orang yang bernostalgia paling banyak saat berada pada usia 24 tahun. Nah, jika orang-orang tersebut dikelompokkan dalam kategori usia, maka pemasar produk atau jasa ‘nostalgia’ akan melihat bahwa rentang potensi pasarnya berada di kelompok masa puber dan masa usia awal dewasa. Dan andai kata kita jumlahkan seluruh rentang usia orang bernostalgia -anggap usia rata-rata maksimal manusia Indonesia adalah 65 tahun-, dapat dibayangkan betapa besarnya potensi pasar yang ada.
Meski semua orang mulai bernostalgia pada usia puber, tetapi ada faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya nostalgia pada seseorang sehingga akan memiliki rasa nostalgia yang berbeda-beda. Faktor yang pertama adalah gender. Laki-laki cenderung untuk lebih menyukai produk-produk yang bersifat maskulin, seperti produk-produk otomotif. Anda, para lelaki, dengan mudah menghafal merek mobil apa yang paling jadi trend di saat usia muda Anda. Hebatnya, bukan cuma merek yang dihafal, tetapi juga ciri-ciri khas yang terdapat pada mobil tersebut, misalnya tahun berapa mulai keluar atau dijual, bentuk lampunya yang kotak, asesoris apa saja yang ada di dashboard-nya, atau jumlah dan bentuk handle pintunya.
Sedangkan pada wanita, cenderung untuk bernostalgia dengan produk-produk yang lebih bersifat feminin, terutama fesyen. Buat Anda, pembaca wanita, tentu juga masih ingat model baju yang sedang in waktu zaman Anda di SMA atau kuliah dulu. Corak dan modelnya, apakah berbunga-bunga, polkadot, baby doll atau little black dress yang dikenakan Audrey Hepburn di film Breakfast at Tiffany. Mungkin juga zamannya ramai-ramai menggunakan rok mini, jeans ketat atau jeans belel.
Sedangkan musik dan film layar lebar adalah produk yang bisa membangkitkan efek nostalgia baik bagi laki-laki maupun perempuan. Siapa yang tidak ingat lagu Stayin’ Alive-nya Bee Gees, atau Brown Sugar-nya the Rolling Stones, atau yang lebih lama, I feel good-nya James Brown. Anda juga pasti ingat gaya ajojing-nya John Travolta di filim Saturday Night Fever. Lagu dan film tersebut memicu kita bernostalgia tidak saja pada lagu atau filmnya, tetapi juga model pakaian, kendaraan dan pernak-pernik lainnya. Hal ini juga menjelaskan bagaimana fenomena banyaknya orang yang menyukai miniatur, action figure, t-shirt sampai simbol dan seragam Star Trek.
Faktor lain yang menjadi pemicu munculnya rasa nostalgia adalah suasana hati negatif dan rasa kesepian. Maka tidak heran, CD lagu-lagu lama yang masuk kategori Evergreen Songs banyak dibeli oleh orang-orang yang sedang sedih atau kesepian. Sehingga banyak juga produser kaset atau CD seringkali merekam ulang lagu-lagu jadul tersebut.
Kemasan yang memikat
Kekuatan nostalgia memang dahsyat. Selain rentang pasarnya yang lebar dan menjadi preferensi seumur hidup seseorang, memori akan nostalgia juga akan mendorong seorang ayah atau ibu untuk mereplikasinya pada anak-anaknya. Coba Anda perhatikan baik-baik, boleh jadi merek susu yang diberikan pada anak Anda adalah merek yang sama yang diberikan Ibu Anda pada Anda waktu kecil. Atau karena ayah Anda dulu memberi hadiah merek mobil tertentu pada Anda, maka Anda pun ingin memberikan merek mobil yang sama buat hadiah masuk kuliah anak laki-laki Anda.
Tidak hanya produk, tetapi suasana juga bisa dibangun untuk membangkitkan nostalgia. Musik tradisional Sunda yang didengar di sebuah restoran, sambil menikmati hidangan dengan wadah makan dari daun pisang bisa jadi membangkitkan rasa nostalgia akan kampung halaman. Efeknya, orang akan datang ke rumah makan tersebut, mungkin bukan sekedar untuk makan tetapi bernostalgia waktu kecil.
Maka akan sangat elok apabila sebuah hunian kondominium di Jakarta yang baru-baru ini memamerkan sepuluh mobil klasik, tidak hanya sekedar berpameran. Suasana klasik yang dibangun mestinya juga ikut mengingatkan pengunjung akan sesuatu di masa lampau, yang selanjutnya akan mempengaruhi persepsi mereka terhadap kondominium tersebut.
Jadi walaupun hanya satu-dua produk nostalgia yang dijadikan pemicu seseorang untuk kembali ke masa lampau, tetapi akibatnya produk-produk lain yang terkait dengannya pun bisa membuat orang merogoh kantong lebih dalam lagi. Aih, nikmatnya bernostalgia.
Dimuat di KONTAN Sabtu, 23 Februari 2008