SELIQUI Specification Juni 27, 2009
Posted by abdinagoro in Entrepreneurship, Marketing, Tidak terkategori.Tags: Folding Bike, SELIQUI. Universitas Indonesia, Sepeda Lipat
2 comments
General Folded Size 31 x 74 x 80 cm
Max Rider Weight 80 kg
Suggested Rider Height 140 cm – 180 cm
Frame and Fork Frame Steel ST 37, Hinge Double Lock (Extra Savety)
Fork Common, Steel, Black
Cockpit Handle fold designed, Hinge Double Lock (Extra Savety), Black
Saddle United, Black
Seatpost adjustable, steel
Seatclamp steel, Black
Brakes Front and Rear V-Brake, Black
Wheels Hub United, Alluminum Alloy, Black
Spokes Stainlesssteel
Rims Aluminum, 20”
Tires Kenda, Black
Transmission Derailleur Shimano Tourney RD
Freewheel Shimano 6 speed
Pedals Folding (spring), Black
Extras Kickstand side stand, Black
Paint Powder Coating, 3 Color: Yellow, Blue, and Black
Limited Edition Engineering Faculty 45th Anniversary,
Certificate of Originality
signed by Dean of Engineering Faculty
SELIQUI Juni 27, 2009
Posted by abdinagoro in Entrepreneurship, Marketing.Tags: Folding Bike, Sepeda Lipat, Universitas Indonesia
11 comments
Pada akhirnya, misi membawa sebuah hasil penelitian Perguruan Tinggi (baca: Fakultas Teknik Universitas Indonesia) ke pasar (level komersial) terwujud kembali. Setelah Inkubator Bayi (Infant Incubator) hasil riset dibawah Prof. Dr. Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA. yang berhasil dipasarkan sejak 2006, kini sepeda lipat (seli) hasil riset di bawah Ir. Hendri DS. Budiono, M.Eng. Tidak mudah memang, tetapi ada kepuasan tersendiri melakukannya.
Sepeda Lipat ini berbeda dengan yang lain pada sisi cara melipatnya. Bukan kah itu asal-usul namanya? Cara melipatnya sudah menghasilkan beberapa orang Magister Teknik (MT) dan Sarjana Teknik (ST). Jadi Anda pasti tahu, bagaimana prosesnya hingga sampai ke pasaran seperti sekarang. Prototype-nya sudah masuk laboratorium uji konstruksi di LUK Serpong, lalu masuk laboratorium Ergonomik di Departemen Teknik Industri, minta masukan dari teman-teman Arsitektur (karena beliau-beliau ini paling paham soal estetika), juga teman-teman yang paham sepeda lipat dari komunitas seli. Meski nanti akan disempurnakan lagi, tetapi yang dipasarkan sudah final.
Mereknya SELIQUI. Dari kata SEpeda LIpat, dan untuk menandakan tempat lahirnya maka dibelakangnya ditambahkan QUI, bisa disebut KUning UI atau KUning I (ai, saya, bhs Inggris). Yang beredar sekarang adalah type Urban 1.2. Urban karena pengguna seli umumnya kaum Urban, dan 2 angka di belakang, itulah versi pengembangannya.
Berapa harganya? 2,5 juta perak saja! Tidak mahal, kalau dilihat spesifikasinya. Lagi pula, dengan membeli SELIQUI ini, berarti pembeli juga mendorong pengembangan Technopreneur di Perguruan Tinggi, khususnya FTUI, serta mendorong penggunaan produk dalam negeri alias ASELI INDONESIA. Empat hari ini SELIQUI nampang di acara PEKAN PRODUK KREATIF INDONESIA 2009 (PPKI 2009) di Jakarta Convention Center di Senayan. Ternyata banyak juga yang mulai pesan. Alhamdulillah!
Launching sebenarnya akan dilakukan pada Ulang Tahun FTUI ke 45 tanggal 17 Juli nanti. Jadi kami sepakat untuk membuat yang Limited Edition 45 buah. Untuk pembeli versi Limited Edition, kami memberi penghargaan berupa Certificate of Originality and Appreciation sebagai bukti keaslian SELIQUI yang dipakai dan apresiasi karena telah mendorong technopreneur di FTUI. Pak Dekan FTUI akan membubuhi tandatangannya. Penyerahan direncanakan dilakukan pada acara ultah tersebut pada tanggal 18 Juli.
So… silakan dipesan dan dicoba… karena Limited… ya siapa cepat dia yang dapat.
Banjir Wajah Tidak Dikenal Februari 2, 2009
Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Marketing.Tags: caleg, kampanye, pemilih, pemilu, promosi, teror visual
add a comment
Hujan minggu lalu hampir merata di seluruh bumi Indonesia, BMG juga memprediksi sampai minggu ini hujan akan masih terus dalam kondisi yang sama. Hujan datang, banjir tiba. Tapi saya tidak akan membahas banjir air ini, dalam catatan akhir minggu ini saya mau membahas banjir yang lain, yaitu banjir caleg.
Sepanjang jalan hampir di semua kota dan daerah kini bertebaran spanduk, baliho, selebaran, poster dan lainnya yang mengisi hampir di semua sudut-sudut dan ruang kosong yang ada. Merah, kuning, hijau, biru, oranye, putih dengan sebentuk wajah serius atau diserius-seriuskan, sedikit senyum atau dipaksa tersenyum, berwajah ramah atau mencoba diramah-ramahkan para calon legislative atau caleg yang sebentar lagi ikut Pemilu. Di sepanjang perjalanan dari Puncak menuju Cianjur lalu ke arah Kademangan-Cikalong Kulon, di malam yang gelap setidaknya saya dan kawan-kawan “tertolong” oleh poster putih yang dipaku di tiap-tiap batang pohon, paling tidak untuk jadi penanda jalan.
Tapi ini betul. Lihat saja sekarang, setiap yang namanya benda yang berbentuk silinder atau tiang atau pohon, pasti sudah “habis” dipaku, ditempel, dibelit oleh yang namanya poster atau spanduk dan kawan-kawannya. Betapa banyaknya. Bersaing dengan iklan-iklan komersial yang memang juga telah banyak bertebaran di sana. Sebuah artikel menyebutnya sebagai teror visual. Saya atau Anda terteror? Iya juga sih..
Promosi atau Kampanye?
Rupanya para caleg masih tetap meyakini jargon lama “tak kenal maka tak sayang”, jadi cara yang dianggap paling efektif adalah mempromosikan diri. Maka metode above the line -begitu bahasa keren-nya- digeber habis-habisan, yang penting wajah bertebaran dan masyarakat kenal. Kenal? Ah… belum tentu. Paling tinggi juga baru pada tahap “tahu”.
Tapi ya… sudahlah. Toh para caleg barangkali masih dalam tahap promosi, jadi komunikasinya masih satu arah. Masalah efektif tidaknya, tentu belum terbukti. Calon pemilih kan juga bukan orang-orang bodoh yang percaya begitu saja terhadap iklan-iklan itu. Masa kampanye tentu yang lebih berat dan kompleks. Ketika aturan suara terbanyak digunakan, maka bukan saja si caleg bersaing dengan caleg dari partai lain, tetapi dari partai sendiri persaingan juga tidak kalah seru. Makanya, di beberapa partai, banyak juga caleg-caleg baru yang digeser atau dicoret hanya karena caleg “lama” mau posisinya aman. Walau begitu, caleg dengan “nomor peci” sekarang tidak bisa ngongkang-ngongkang kaki. Mau tidak mau mereka juga harus “merebut” pemilih. Saat kampanye jadi saat yang penting, komunikasi dua arah menjadi jauh lebih penting ketimbang memasang poster.
Bagaimana Kondisi Pemilih?
Harus diakui, ada kekhawatiran banyaknya pemilih yang apatis terhadap Pemilu. Banyak yagn merasa “ada tidak ada pemilu” sama saja, tidak akan banyak mengubah kehidupan dan penghidupannya. Pe-er yang besar buat para caleg, KPU, dan penyelenggara negara.
Yang penting juga, tentu harus dicari cara “jual diri” yang lebih baik dan efektif bagi para caleg. Promosi above the line yang saya ceritakan di atas, sudah tentu banyak memakan biaya. Biaya design, biaya cetak, biaya pasang, juga biaya sosial karena adu ngotot urusan bongkar-pasang spanduk, perkelahian karena rebutan tempat strategis, juga terutama teror visual tadi.
Menjelang Pemilu sudah dapat dipastikan para caleg akan mengeluarkan jurus terakhirnya. Semoga para pemilih juga tidak kembali “terteror”. Bukan itu saja, semoga juga tidak merusak keindahan kota atau daerah. Mau lihat pemandangan apa, kalau tiap jalan, lorong dan gang penuh dan banjir dengan gambar caleg. Seberapa banyak juga dari caleg itu yang kita kenal? Pemilih juga pasti tidak akan memilih para caleg yang sudah merusak pemandangan kota atau daerah, yang merusak pohon-pohon di jalanan, apa lagi sampai merusak lingkungan baik alam maupun sosial.
Sekarang saja sudah ada pemilih yang protes, berita foto di harian KOMPAS, beberapa minggu lalu menggelitik saya. Spanduk besar menghiasi sebuah jalan dengan tulisan besar-besar “Siapa Kenal Lu?”
Nah lho…





