Bagaimana memesan SELIQUI? Juli 3, 2009
Posted by abdinagoro in Entrepreneurship, Tidak terkategori.Tags: Folding Bike, SELIQUI, Sepeda Lipat, Universitas Indonesia
1 comment so far
Pemesanan dapat dimulai saat ini. Siakan hubungi M. Reza di SUI ph. 021-8778 2862 fax. 021-8778 0245 email: mailto_reza@sekawan-group.com, bram@sekawan-group.com
Tata cara pemesanan:
a. Silakan mengisi formulir pemesanan yang telah disediakan (bisa lewat email).
b. Pembayaran Rp. 2.500.000,- dapat dilakukan dengan melakukan transfer ke rekening:
BCA No. 4970 447 399 an. PT. Sekawan Utama International
BCA No. 421 243 1633 an. Sri Bramantoro Abdinagoro
Bank Mandiri No. 157-00-0062005-5 an. Sri Bramantoro Abdinagoro
c. Fax atau email formulir pemesanan dan bukti transfer ke 021-8778 0245
d. Nama dan alamat Anda akan kami catat. Silakan menunggu paling lambat 30 hari sejak formulir pemesanan kami terima.
e. Kami akan memberitahu bila SELIQUI Anda telah siap kami antar.
f. Maksimal 3 hari setelah pemberitahuan SELIQUI akan kami antar ke rumah/kantor Anda (khusus Jakarta).
Sebagai bentuk apresiasi kami kepada pemesan SELIQUI, 45 (empat puluh lima) pemesan pertama SELIQUI akan mendapat Certificate of Origin and Appreciation yang ditandatangani oleh Dekan FTUI. Sertifikat ini merupakan penghargaan kepada para pemesan SELIQUI karena telah membantu mendorong terciptanya technopreneur di lingkungan Fakultas Teknik khususnya dan di Universitas Indonesia pada umumnya. Sertifikat dan SELIQUI (20 buah) akan diserahkan pada puncak ulang tahun FTUI ke-45 di Depok.
Keterangan dan informasi lebih lanjut:
M. Reza – SUI ph. 8778 2862 hp. 0856 787 9984
Bram – SUI hp. 0815 910 4502
SELIQUI Specification Juni 27, 2009
Posted by abdinagoro in Entrepreneurship, Marketing, Tidak terkategori.Tags: Folding Bike, SELIQUI. Universitas Indonesia, Sepeda Lipat
2 comments
General Folded Size 31 x 74 x 80 cm
Max Rider Weight 80 kg
Suggested Rider Height 140 cm – 180 cm
Frame and Fork Frame Steel ST 37, Hinge Double Lock (Extra Savety)
Fork Common, Steel, Black
Cockpit Handle fold designed, Hinge Double Lock (Extra Savety), Black
Saddle United, Black
Seatpost adjustable, steel
Seatclamp steel, Black
Brakes Front and Rear V-Brake, Black
Wheels Hub United, Alluminum Alloy, Black
Spokes Stainlesssteel
Rims Aluminum, 20”
Tires Kenda, Black
Transmission Derailleur Shimano Tourney RD
Freewheel Shimano 6 speed
Pedals Folding (spring), Black
Extras Kickstand side stand, Black
Paint Powder Coating, 3 Color: Yellow, Blue, and Black
Limited Edition Engineering Faculty 45th Anniversary,
Certificate of Originality
signed by Dean of Engineering Faculty
Scolari, Bankir dan Reputasi Februari 24, 2009
Posted by abdinagoro in Leadership, Tidak terkategori.Tags: chelsea, integritas, kompetensi, konsistensi, Leadership, reputasi, scolari, trust
add a comment
Bulan ini ada beberapa peristiwa penting terkait dengan sepak terjang dan apa yang dialami seorang eksekutif atau pemimpin yang kemungkinan besar akan mempengaruhi reputasinya. Yang pertama adalah beberapa orang eksekutif perbankan dari bank ternama di Amerika yang dengan sadar tetap mendapatkan bonus akhir tahun meski tahu perusahaannya mendapat suntikan dana bantuan dari pemerintah akibat krisis keuangan global. Yang kedua adalah Luiz Felipe Scolari, pelatih klub sepak bola Chelsea yang baru saja dipecat oleh pemilik klub meski dia seorang pelatih yang dikenal mampu membuat Brazil menjadi juara sepak bola dunia dan Portugal menjadi juara Eropa.
Keduanya bagi publik tentu bukan sosok yang asing. Nama bank dan nama kesebelasan yang dipimpinnya sudah sangat dikenal, begitu juga dengan personal pemimpin tersebut. Bankir tersebut tentu sudah melewati prestasi yang bagus hingga mampu menduduki kursi kepemimpinan di bank ternama. Begitu juga dengan Scolari, track record-nya di kancah persepakbolaan tingkat dunia juga memiliki prestasi yang luar biasa.
Hanya saja, sepak terjang para bankir itu rasanya melukai nilai kepatutan yang ada. Bagaimana mungkin mereka berperilaku seperti itu? Sedangkan bagi Scolari, pemecatan itu menambah catatan kurang mengesankan bagi prestasinya. Ujung-ujungnya, peristiwa kedua pemimpin dan eksekutif itu menjadikan reputasinya berpotensi buruk.
Membangun Reputasi
Reputasi merupakan asosiasi publik terhadap seseorang, dalam bahasa sederhana, apa yang publik nilai dan katakan terhadap seseorang. Umumnya reputasi dibangun dan dicapai pada suatu masa yang cukup panjang, karenanya reputasi bukanlah merupakan prestasi sesaat. Pendorong utama reputasi adalah pengalaman dan pencapaian dari hari-ke-hari, terutama pada realisasi bentuk janji-janji yang telah dicanangkan. Oleh karenanya, publik memiliki ekspektasi terhadap janji tersebut, dan penilaian mereka datang dari seberapa konsisten janji-janji itu terealisasi.
Publik, terutama konsumen, tentu berharap para eksekutif perbankan mampu mengatasi dan membantu mereka dalam mengatasi krisis keuangan yang dihadapi, seperti yang ditulis dalam laporan tahunan. Publik, terutama penggemar dan supporter kesebelasan Chelsea, juga berhadap masuknya Big Phil mampu mendongkrak prestasi Chelsea, seperti yang ditunjukkan reputasinya dalam mengelola sebuah kesebelasan.
Tapi apa daya, peristiwa di atas, seakan-akan menghentikan prestasi dan reputasi yang telah ada sebelumnya. Meski pencapaian secara personal dari segi finansial cukup besar, Scolari misalnya diperkirakan mendapat kompensasi senilai 240 milyar rupiah, tetapi tetap saja telah terstempel kata pemecatan. Apakah reputasinya menjadi berkurang bahkan cacat? Boleh jadi.
Reputasi dan Masa Depan
Dalam bukunya, Trust, Rita C O’Brien menyebut setidaknya ada tiga komponen yang menjadi dasar sebuah reputasi, yaitu: kompetensi, konsistensi dan integritas. Kompetensi merupakan reputasi yang didapat dari pengetahuan, pengalaman dan kemampuan seseorang yang terus terakumulasi. Konsistensi dan integritas menjadi dasar atas sebuah kepercayaan -trust- antara seseorang dengan publik.
Meski reputasi dapat dibangun melalui program-program public relation atau kehumasan, tetapi hal itu bukan menjadi yang utama, karena pada dasarnya kompetensi, konsistensi dan integritas personal lah yang memegang peran. Selain itu, bisa saja media pe-er seperti media massa malah berperan sebaliknya yaitu dengan memberitakan hal-hal buruk sehingga reputasi bisa terganggu.
Dua kasus di atas bisa saja akan berakibat berbeda pada reputasi masing-masing. Para bankir tentu akan memiliki reputasi lebih buruk dibanding Scolari. Hal yang paling dilanggar para bankir itu dalam menjaga reputasinya adalah integritas. Padahal kita tahu, integritas adalah kekuatan moral atau prinsip, kebenaran dan kejujuran. Para bankir dalam penilaian publik sudah tidak patut menerima bonus besar sementara publik dalam kondisi menderita. Sedangkan Scolari boleh jadi akan memiliki reputasi yang lebih baik, karena tidak melanggar integritas.
Arah masa depan keduanya tentu juga akan berbeda. Siapa yang percaya dan mau merekrut bankir dengan perilaku seperti itu? Berbeda dengan Scolari yang dapat diperkirakan tidak akan lama menganggur. O’Brien juga menyebut bahwa kepercayaan -trust- dibangun berdasarkan reputasi.
Sebentar lagi, kita pun akan memilih orang-orang yang menjadi wakil kita di DPRD, DPR maupun pemimpin negara ini untuk masa 5 tahun ke depan. Seberapakah kita menilai reputasi mereka?
Ayah dan Ibu, Biarkan Saya Bersepeda Sepuasnya… Februari 10, 2009
Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.Tags: anak, anak-anak, bersepeda, sepeda untuk sekolah
add a comment

Kring kring naik sepeda
Sepedaku roda dua
Ku dapat dari ayah
Karena rajin bekerja…
Mungkin Anda pernah mendengar lagu itu ketika masih kanak-kanak. Dan sambil mengendarai sepeda, kita menyanyikan lagu itu bersama teman-teman. Ya… bersepeda kini mulai kembali ramai digemari semua orang.
Baru minggu lalu, kawan-kawan saya dari komunitas Sepeda Untuk Sekolah (SUS) berhasil menyebarkan “wabah” bersepeda di kalangan anak sekolah. Tidak tanggung-tanggung sudah ratusan sepeda telah di sebar baik di sekitar Jabotabek maupun Surabaya… (Terima kasih mas Danang, mas Toto, mas Nanang, dan kawan-kawan semua atas usahanya).
Peristiwa ini mengingatkan saya akan pengalaman bersepeda. Sepeda pertama yang saya dapat tentu saja waktu masih SD, sehabis sunat! Jujur saja bersepeda menjadikan saya mengenal lingkungan tempat tinggal lebih luas lagi. Melewati gang-gang sempit di Dukuh Atas, sampai ke kuburan Karet. Atau kadang bersama kawan-kawan kecil sampai juga di Senayan atau Pasar Tanah Abang. Kulit bertambah hitam, semerbak harum bau matahari!
Begitu juga ketika menjalani SMP dan SMA, ketika harus tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur, bersepeda juga menyenangkan. Dua puluh empat kilometer total yang harus ditempuh pulang pergi dari rumah ke sekolah. Tapi bersepeda tetap asyik. Beriringan bersama teman seperjalanan, dengan pak tani yang membawa cangkul dan padi, dengan mbok-mbok penjual dagangan di pasar, tentu saja dengan kawan satu sekolah. Kadang-kadang rute perjalanan diubah biar tak membosankan, walau lebih jauh.
Mengenal Lingkungan dengan Sepeda
Satu hal yang pasti lewat kayuhan sepeda, saya punya lingkungan lebih jauh. Bisa mengenal orang-orang lebih banyak. Belajar berdisiplin, lewat bersepeda yang benar. Masa kecil menjadi lebih menyenangkan.
Kini tentu berbeda. Anak-anak banyak “dikurung” di dalam rumah. Hanya bermain komputer dengan game-nya atau play station. Banyak pula yang dibanjiri oleh mainan, atau tugas-tugas sekolah, sehingga anak tidak banyak bergerak. Padahal betapa banyaknya peristiwa, pelajaran, dan belajar hidup yang banyak didapat dari lingkungan yang lebih luas.
Bersosialisasi, belajar tertib berlalu lintas dan sekaligus berolah raga menjadi hasil dari bersepeda. Makin banyak mengayuh sepeda, makin jauh pula mengayuh hidup dan kehidupan.
Ayah dan Ibu, berilah saya sepeda. Biarkan saya bersepeda sepuasnya, biar bisa terbang seperti di film ET. Biarkan saya mengenal lingkungan lebih luas lagi..
Tentang Negeri Bernama Israel Januari 13, 2009
Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.Tags: AS, Ekonomi, Israel, Konflik, Militer, Obama, Palestine, Yahudi
7 comments
“Know your enemy” begitu Sun Tzu bilang dalam kitab perangnya, The Art of War.
Seminggu ini kita dibombardir oleh berita-berita mengenai penyerbuan militer Israel ke Jalur Gaza di Palestine. Sudah ratusan orang yang meninggal dan ribuan yang terluka. Tentu perasaan geram, marah dan jengkel bercampuraduk, melihat polah negeri Zionis ini. Ini sekedar catatan dari berbagai sumber yang berhasil dikumpulkan, seperti apa negeri Israel itu, terutama ekonomi dan kekuatannya, mengikuti apa yang Tun Szu bilang pada kutipan di atas.
Sekilas tentang Israel
Setelah Perang Dunia II selesai, atas bantuan pemimpin-pemimpin Inggris dan Amerika Serikat saat itu, Israel didirikan sebagai negera yang berdaulat. Setelah itu, maka dimulailah pencaplokan tanah-tanah Arab, hingga luasnya dalam posisi yang sekarang ini. Israel kini memiliki luas kurang lebih 139.327 km2, sedangkan Palestine kini hanya memiliki luas kurang lebih 41.725 km2. (Catatan: sumber data selalu menggunakan istilah occupied territories untuk menyebut Palestine, karena Palestine belum menjadi sebuah negara -state-).
Penduduk Israel mencapai 7,1 juta jiwa, penduduk Palestine 3,4 juta dan yang dipengasingan 4,5 juta jiwa. Israel termasuk sebagai negeri yang berpendapatan tinggi (World Bank). Data tahun 2008, pendapatan tahunan nasional mencapai USD 120 milyar, sedangkan occupied territories Palestine (kok sedih ya.. menulis kata ‘occupied territories’. Berikutnya saya pakai kata Palestine saja) hanya USD 2,9 milyar, atau sekitar seperempatpuluhsatunya. Sedangkan jika dihitung pendapatan per kapita, Israel sekitar USD 20.000 sedangkan Palestine hanya USD 850, kira-kira seperduapuluhempat kali.
Ekonomi Israel
Karena sumber daya alam yang dimiliki Israel (sebetulnya juga Palestine) terbatas, maka strategi utama yang diterapkan adalah meningkatkan kemampuan untuk mengkapitalisasi ketrampilan yang tinggi, terdidik, dan inovatif. Hampir 64% dari pendapatan domestik kotornya (GDP) berasal dari sektor pengembangan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) tingkat tinggi, disusul 32% industri lainnya dan 3% pertanian. Karena negeri ini fokus pada sektor high-tech maka riset dan pengembangan (R&D) dan tenaga kerja yang high-skilled menjadi sumber investasi yang utama. Sebagai contoh, hampir 300 perusahaan untuk medical device tercatat di Israel dan lebih dari setengahnya masuk dalam life science industry.
Dalam strategi industri global, tentu bidang yang dipilih Israel sudah tepat dan bahkan akan menjadi pemain utama yang sustainable mengingat di masa datang peran industri komunikasi dan teknologi informasi bakal menjadi pemegang utama perekonomian. Artinya, secara teoritis Israel akan semakin kuat dan aman secara ekonomi.
Ekonomi Israel tumbuh di atas 5% (2008), meski demikian negeri ini sangat tergantung pada Amerika Serikat. Dalam data perdagangan tahun 2007, tercatat mitra eksport utama adalah AS (41%), Belgia (9%), Hongkong (7%) dan Inggris (4%). Sedangkan mitra impor utama adalah AS (14%), Belgia (8%), Jerman (6%) dan China (6%).
Jadi jelas terlihat bagaimana Israel menjaga hubungannya dengan AS, begitu juga sebaliknya. Dalam data yang lain, bantuan keuangan tahunan dari AS (Annual US Financial Aid) untuk Israel mencapai USD 5 milyar sedangkan untuk otoritas Palestine, AS hanya membantu sebesar US 50 juta saja. Lagi-lagi, Israel mendapat bantuan 100 kali lipat dibanding Palestine.
Jadi jelas, ekonomi Israel tetap akan kuat. Arus investasi tentu akan mudah masuk karena jenis industri yang dipilih negara itu fit dengan masa depan. Hal yang bisa mengganggu adalah ketidakstabilan keamanan di negara itu. Makin banyak berkonflik (misal dengan Palestine, Iran, Syria dan Lebanon) tentu akan meningkatkan country risk buat Israel, belum lagi menurut beberapa pengamat landskap politik di negeri ini sangat tidak stabil.
Siapa Doyan Membantu Israel?
Sudah pasti Amerika Serikat. Lihat data mitra utama ekspor maupun mitra utama impor, lihat juga data bantuan keuangan yang diberikan. Tetapi yang lebih hebat lagi adalah bantuan militer AS kepada Israel. Berapa jumlahnya?
16 Agustus 2007, Pemerintah AS dan Israel menandatangani MoU mengenai menaikkan bantuan militer bilateral kepada Israel menjadi USD 30 milyar hingga 10 tahun ke depan, dan ini naik 25% dari tahun-tahun sebelumnya. Sebelum menaikkan bantuan militer ini, Israel telah menjadi negara terbesar yang menerima bantuan AS. Merujuk pada Congressional Research Services, sejak tahun 1949, AS telah menyediakan dana lebih dari USD 53 milyar untuk bantuan militer, kurang sedikit dari setengah bantuan total untuk Israel yaitu lebih dari USD 101 milyar (2007).
Barangkali memang yang bisa “menghentikan” Israel adalah saudara tuanya, Amerika Serikat. Tentu saja, harapan besar setidaknya ada pada Presiden AS yang baru, Barrack Obama. Tapi apa betul harapan itu pantas dititipkan padanya?
Berharap pada Obama?
Tadinya saya berpikir ada yang bisa diharapkan dari Obama. Hanya saja, beberapa cuplikan hasil browsing-an saya membuat saya harus berpikir ulang. Fakta-fakta mengenai Obama yang saya dapat dari National Jewish Democratic Council (NJDC) dan newsletter kampanye Obama-Biden menyebutkan bahwa Obama merupakan senator yang memiliki voting record pro-Israel yang sempurna dalam Senat AS dan memiliki catatan baik sebagai true friends of Israel.
Obama menjadi salah satu co-sponsor untuk the Palestinian Anti-Terorism Act of 2006. Ia menjadi salah satu yang menandatangani surat untuk Uni Eropa untuk menambahkan Hezbollah dalam daftar grup teroris. Ia juga menyebut Hamas sebagai teroris (New York Times, 16 Mei 2008).
Satu lagi, jauh sebelum Obama menjadi Presiden, ia berdeklarasi pada konferensi NJDC (saya kutip saja langsung), “When I am the President, the United States will stand shoulder to shoulder with Israel in search of this peace and in defense against those who seek its destruction,” (Philadelphia Jewish Voice, July 2007).
Dear my friends, begitu lah celoteh saya minggu ini, mencermati apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di Palestine minggu ini. Mungkin juga belum berhenti. Entah sampai kapan…
Ada Sabotase pada (Ekonomi) Kita? Januari 5, 2009
Posted by abdinagoro in Celoteh Akhir Minggu, Tidak terkategori.Tags: BBM, Bibit, Ekonomi, Elpiji, Jagung, Padi, Sabotase, Sabotase Ekonomi
4 comments
Memilih kata “sabotase” buat Catatan Akhir Minggu ini perlu beberapa waktu untuk menimbang-nimbangnya. Bukan apa-apa, mendengar kata “sabotase” rasanya kok menyeramkan. Jadi lebih bagus dicari dulu apa artinya yang kurang lebih seperti ini: Sabotase adalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi, penghambatan, pengacauan dan/atau penghancuran. Kenapa “sabotase” jadi catatan?
Dari definisinya saja sudah dapat diketahui bahwa hasil dari sebuah sabotase adalah kekacauan, ada sesuatu yang terhambat atau bahkan hancur, dan kelemahan (boleh jadi belum mati). Setidaknya dalam catatan saya minggu ini, ada 3 hal yang boleh digarisbawahi, yaitu benih, pupuk dan BBM.
Urusan pertama terkait benih alias bibit, baik jagung maupun padi. Di beberapa tempat banyak petani kita yang kelabakan ketika tahu bibit yang ditanamnya palsu. Bagaimana tidak, beliau-beliau ini telah merawat tanaman hingga masa panen tiba. Cuma yang didapat adalah bulir padi yang kosong tak berisi atau bonggol jagung yang tidak berbiji. Habis sudah harapan untuk memanen padi atau jagung di ladangnya. Bukan cuma itu, kita juga tahu petani seringkali berhutang dahulu untuk membiayai tanamannya dengan harapan ketika panen, hutang tersebut terbayar dan petani memiliki sedikit kelebihan untuk mencukupi hidupnya.
Urusan kedua terkait pupuk. Kita sudah baca berita di media cetak dan televisi, bagaimana pupuk menjadi barang langka. Kelangkaan ini menyebabkan petani-petani nekat “membobol” gudang pupuk, “membajak” truk pengangkut pupuk, mereka tidak peduli sistem distribusi. Yang jelas mereka mendapatkan pupuk dan tidak dengan menjarah, karena mereka tetap bayar di tempat.
Bagaimana bisa urusan bibit dan pupuk bisa kacau? Kalau diurut-urut memang banyak yang instansi atau pihak-pihak yang ikut terkait. Mulai dari hulu, penghasil bibit, pabrik-pabrik pupuk, distributor, Departemen Pertanian, Bulog, sampai instansi pendukung macam Badan Meteorogi dan Geofisika. Tidak adakah koordinasi antar mereka? Bukankah musim tanam bisa diprediksi? Informasi prakiraan cuaca datang dari BMG, kebijakan pangan dari Deptan, informasi kebutuhan pupuk tentu bisa diketahui oleh pabrik-pabrik pupuk. Kalau informasi tidak dapat dimanfaatkan, tentu saja celah ini digunakan “para petualang” bermain menarik keuntungan lewat bibit palsu, pupuk palsu, menimbun pupuk dan lain sebagainya.
Yang jelas, kekacauan ini sudah mengganggu. Dalam skala mikro tentu petani-petani kita yang paling terganggu, bukan hanya perkara tanamannya, tetapi sudah kehidupan dan penghidupannya. Dalam skala makro, kita pasti bisa membayangkan harga beras yang tinggi karena susah dicari, kalau sudah menyangkut urusan perut tentu apapun bisa dan mau dilakukan agar tetap bisa hidup alias survive.. Yang repot kalau yang pendek imannya, wah bisa lebih berabe… Belum lagi ditambah ada upaya mengoplos beras dengan menir (alias beras pecah yang biasa untuk pakan ayam). Beberapa waktu lalu ada beritanya dari daerah Banten.
Urusan ketiga adalah urusan BBM (B-a-h-a-n—B-a-k-a-r—M-i-n-y-a-k). Sudah banyak kita tahun ini membaca dan melihat bagaimana saudara-saudara kita ngantri minyak tanah, lalu dilanjutkan dengan gas elpiji yang 3 Kg. Eee.. minggu ini, tahun baru, premium alias bensin ikut langka.
Bukan masalah kelangkaannya yang “mulai biasa” kita dengar dan lihat, tapi efeknya itu my friends.. Ongkos angkut naik, akibatnya harga barang-barang naik, yang lebih hebat, tensi darah juga naik, akibatnya orang bisa berantem gara-gara tidak sabar mengantri. Nah, ini juga kekacauan namanya.
Bibit, pupuk, BBM itu saja hanya 3 komponen yang berpengaruh banyak terhadap penghidupan orang banyak, yang lebih besar tentu pada ekonomi masyarakat banyak. Balik ke definisi di atas, maka pantas juga kita menyebut bahwa ekonomi kita kok bisa saja disabotase. Lalu siapa yang menyabot?
Sebetulnya siapapun yang membuat kekacauan ekonomi ini terjadi, dia berpotensi sebagai penyabot. Pembuat bibit-bibit palsu, pembuat pupuk-pupuk palsu, penimbun pupuk, pengoplos beras, penimbun BBM adalah seorang penyabot. Jangan lupa, perancang kebijakan yang pada akhirnya kebijakannya tidak jalan karena tujuannya sekedar ingin menaikkan angka-angka agar terlihat cantik secara statistik di mata masyarakat, dia juga berpotensi sebagai penyabot ekonomi.
Orang-orang ini, sudah semestinya menjadi musuh kita bersama.
Semoga kita -secara tidak sadar maupun sadar- tidak menjadi penyabot yang melakukan “sabotase kolektif”.
Halo dunia! November 29, 2007
Posted by abdinagoro in Tidak terkategori.add a comment
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


